BMKG Pasang 6 Unit Sensor Deteksi Gempa

RIO-WORKSHOP BMKG (1)

BENGKULU, BE – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kepahiang telah memasang 6 unit pendeteksi gempa (Seismic Sensor). Pendeteksi kekuatan gempa tersebut di pasang di wilayah Enggano Bengkulu Utara, Desa Batu Bandung Bengkulu Selatan Kawasan Universitas Bengkulu (Unib) Kota Bengkulu, Muara Aman Lebong dan di kawasan Bendungan Air Manjuto Mukomuko  dan di Curup, Rejang Lebong.
Kepala BMKG Kepahiang Litman ST, mengatakan bahwa alat tersebut untuk  mencatat pergerakan tanah akibat aktivitas lempeng bumi, seperti gempa bumi. Dengan adanya alat ini diharapkan pencatatan gempa bumi tidak hanya mendapat episenter atau pusat gempa. Tapi, juga dapat mengetahui daerah-daerah yang berdampak buruk jika terjadi gempa.
“Pengumpulan data melalui ini dapat dimanfaatkan dalam mitigasi bencana gempa bumi, pembuatan peta daerah rawan gempa, terutama daerah-daerah yang memiliki potensi besar rusak akibat gempa bumi,” ujarnya.
Berdasarkan hasil kerja alat itu, kata dia, dapat diketahui intensitas gempa bumi atau seberapa besar efek yang ditimbulkan gempa yang terjadi. Pemanfaatan data hasil pencatatan sensor  itu diharapkan dapat meminimalkan korban jika ada bencana gempa bumi, yaitu dengan perencanaan pembangunan tata kota atau daerah, dan standard bangunan antigempa sesuai dengan peta daerah rawan gempa bumi.
Pemasangan pencatat gempa ini tidak hanya di Bengkulu, tetapi terdapat 169 lokasi di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini dijelaskan, Deputi Bidang Geofisika (BMKG) Jakarta DR Masturyono MSc, saat membuka whorkshop Penguatan UPT BMKG dan BPBD, Dalam Memahami Rantai Peringatan Dini Tsunami, di Hotel Nala, Kota Bengkulu, Kamis  (1/10).
“Dengan alat tersebut, setiap ada gerakan gempa bumi, dapat terekam besaran gempa yang terjadi. Untuk merekam besaran gempa kita sudah memasang seismometer 169 unit seluruh Indonesia,” kata Masturyono.
Masturyono mengatakan, pihaknya juga memasang  52 sirine tsunami di wilayah-wilayah yang memiliki potensi rawan tsunami sebagai peringatan untuk masyarakat jika terjadi gempa yang berpotensi tsunami. Namun, dia mengakui jumlah tersebut belum menjangkau semua wilayah-wilayah rawan bencana. “Idealnya alat ini di pasang pada radius sirine sejauh 2 kilometer.  Karena, setiap wilayah rawan bencana yang berpotensi tsunami harus mesti memiliki sirine minimal satu tiap 4 km,” ujarnya.
Selain itu, untuk percepatan informasi terjadinya gempa, BMKG telah memasang  Warning Receiver System (WRS) Digital Video Broadcast (DVB) di perkantoran-perkantoran, terutama di daerah rawan tsunami.  Alat ini juga sudah di pasang di Stasiun Geofisika, Stasiun Fatmawati, Stasiun Klimatologi, BPBD Provinsi Bengkulu, BPBD Mukomuko, BPBD Bengkulu Utara, BPBD Kaur dan BPBD Bengkulu Selatan. “Alat pencatat dan penyebar informasi sudah kita pasang dalam upaya tanggap bencana tsunami di Bengkulu,” tambah Litman.
Disinggung masalah sirine peringatan tsunami di Bengkulu, Litman mengatakan, saat ini baru terdapat 2 sirine tsunami di Bengkulu. Titik pertama, terdapat di belakang kantor Gubernur Bengkulu Kota Bengkulu dan satu titik sirine lagi, terdapat di obyek wisata Pantai Panjang Kota Bengkulu, tepatnya di sport center. ” Kalau sirine di Bengkulu sudah ada 2 unit. Itu bagian dari 52 unit sirine yang ada di Indonesia,” pungkasnya (100)