Blokir Jalan, Truk Dibakar

PUT, BE  – Aksi protes terhadap aktivitas penambangan galian C yang dilakukan PT Bania Rahmat Utama (BRU) dan PT Ar Muhamat (AM) berujung anarkis Selasa (27/11), pukul 12.00 WIB. Ratusan warga Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT) melakukan pemblokiran jalan lintas jalan Desa Belumai–Bukit Batu menggunakan material batu, kayu dan membar ban bekas.

Untuk mengungkapkan kekesalan warga bahkan membakar 1 unit mobil truk pengangkut material milik PT BRU hangus dibakar massa, sementara 3 unit truk lainnya mengalami rusak berat akibat di hantam amukan massa. Akibatnya jalan Desa Belumai – Bukit Batu lumpuh total. Data terhimpun Bengkulu Ekspres, aksi bermula pada pukul 13.00 WIB di wilayah Ulak Tanding Kecamatan PUT.

Mulanya, massa yang berasal dari Desa Ulak Tanding, Desa Bukit Batu, desa belumai I dan Kasie Kasubun hanya melakukan pemblokiran jalan Belumai – Bukit Batu dengan menggunakan material batu dan kayu, serta diwarnai dengan aksi pembakaran beberapa ban kendaraan roda empat. Warga yang tidak puas dengan perbaikan jalan yang dilakukan oleh PT BRU dan PT AM tersebut hanya melarang kendaraan melintas di jalan tersebut, khususnya kendaraan pengangkut material tambang.

Namun, setelah selang 2 jam, tepatnya pukul 14.00 WIB, sepertinya emosi warga semakin tersulut seiring bertambahnya jumlah warga yang mengikuti aksi pemblokiran jalan tersebut. Alhasil, warga yang semakin berang, akhirnya membakar 1 unit truk angkutan material hingga hangus dan merusak 3 unit kendaraan truk lainnya yang berada tak jauh dari lokasi pemblokiran.

Warga juga sempat menahan 15 unit truk angkutan serta 2 unit alat berat jenis Eksafator di lokasi penambangan PT BRU. Mujurnya, supir truk berhasil meloloskan diri dari amukan massa yang sudah tidak terkontrol lagi. Amukan warga mulai redam pada pukul 17. 30 WIB setelah sejumlah anggota Polsek PUT turun ke lokasi yang selanjutnya disusul dengan kedatangan kapolres RL beserta jajarannya di ikuti unsur Tripika yang terdiri dari Camat serta Danramil.

Kendati sempat dilakukan mediasi antara kedua belah pihak di kantor kecamatan PUT namun warga tetap ngotot untuk melakukan penahanan terhadap 15 unit truk angkutan PT BRU tersebut. Hingga akhirnya, dilakukan mediasi kedua pada pukul 20.00 WIB di kantor Polsek PUT. Dari mediasi tersebut, akhirnya warga setuju untuk membubarkan diri dari lokasi setelah PT BRU sepakat untuk melakukan perbaikan jalan yang rusak tersebut ke esokan harinya (hari ini)

Dikonfirmasi, Kapolres Rejang Lebong, AKBP Edi Suroso SH menerangkan, aksi anarkir warga tersebut murni spontanitas aksi dari warga setempat. “Namun kita tetap akan melakukan penyelidikan sebab aksi tersebut telah mengarah ke anarkis, agar tidak kembali terjadi aksi yang sama dikemudian hari.” tegas Kapolres.

Di bagian lain, Camat PUT, Mulyanda Spd mengatakan aksi tersebut terjadi dikarenakan ketidakpuasan warga atas janji perbaikan jalan yang rusak akibat aktifitas kedua perusahaan tambang tersebut. “Jalan sepanjang 4 kilometer itu memang sudah mulai dilakukan perbaikan, tetapi janji kedua perusahaan tambang itu jalan tersebut akan di hotmix sesuai dengan kondisi jalan sebelum rusak. Karena warga merasa kesepakatan awal mereka tidak di tepati makanya mereka melakukan aksi pemblokiran jalan tersebut. Apalagi, saat itu kesepakatannya jalan akan di perbaiki dalam waktu 10 hari, tetapi nyatanya hingga hamper 1 bulan, kesepakatan itu tak kunjung dilakukan,” tegas Mulyan

Longsor, 1 Rumah Ambrol
Sementara itu musibah lain juga melanda Kabupaten Rejang Lebong. Hujan deras yang terjadi di Kota Curup sejak Selasa siang (27/11) membuat bangunan rumah milik Darussalam (40) di gang wisata Dusun Satu Desa Tabarenah sekitar 19.15 WIB kemarin ambrol tertimpa longsor. Peristiwa itu membuat dua orang penghuni rumah Astutiana (60) dam Tanti Yusepa (35) -orang tua dan istri pemilik rumah- terluka akibat tertimpa dinding bangunan.  Pada saat kejadian kedua korban sedang asik menonton televisi di ruang tengah.
Sedangkan tiga orang lainnya yang  juga berada di dalam rumah pada saat kejadian diantaraya Yoni (18) dan Vera (12) -anak korban-  serta Sari (26) tetangga korban selamat dari reruntuhan bangunan.

Pantauan wartawan, bangunan rumah milik Darussalam tersebut berada persis di sebelah pelapis tebing setinggi sekitar 6 meter, yang berjarak sekitar 1 meter dari dinding rumah korban. Longsor tersebut nyaris membuat sebuah rumah lainnya milik Tafsir (40) yang berada di atas tebing ikut ambrol dan menimpa bangunan rumah milik korban. “Pondasi rumah milik pak Tafsir itu sudah bergeser. Kami kawatir rumah yang berada di atas tebing tersebut akan ikut ambrol yang menimpa bangunan rumah milik pak Darussalam,” terang Kades Tabarenah Jhony A, ketika dikonfirmasi Bengkulu Ekspress di lokasi kejadian.

Menurut warga di lokasi kejadian, Darussalam yang tidak lain pemilik rumah sedang tidak berada di rumah karena bekerja di Kota Bengkulu. Darussalam bersama anak, istri dan orang tuanya baru tiga bulan menempati bangunan rumah yang kini ambrol tersebut. Kondisi bangunan milik Darussalam tersebut rusak berat, dengan dinding bangunan yang hancur menimpa perabotan rumah. Material bangunan terlihat berserakan di kamar tidur, dapur bakan ruang tamu. “Ruangan yang kerusakannya paling parah itu kamar. Kita bersyukur kejadian ini tidak berlangsung saat korban sedang tidur, karena material bangunan yang runtuh cukup jelas membayakan keselamatan korban,” terang Kades.

Camat Curup Utara Zulfan Effendi yang ikut berada dilokasi kejadian mengaku sudah menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Rejang Lebong. Beberapa anggota Sibat bencana, anggota PMI dan BPBD tiba dilokasi kejadian untuk memberikan bantuan longsor. “Besok (hari ini) akan segera dilakukan penanganan longsor yang menimpa rumah warga, malam ini (kemarin) kita lakukan evakuasi terhadap korban dan harta berharga milik korban,” terang Camat. (999)