BKKBN Turunkan Angka Kelahiran

EKO/Bengkulu Ekspress
RAKOR: Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, Busmar Edisyaf menyampaikan kata sambutan dalam Rakor Daerah Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan (KKBPK) di Grage Hotel Bengkulu, Rabu (13/3).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu sukses menurunkan angka kelahiran atau total fertility rate (TFR) sebesar 2,27 persen. Jumlah tersebut turun tahun sebelumnya sebesar 2,32 persen.  Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, Busmar Edisyaf mengatakan, penurunan itu karena adanya upaya penguatan Kampung KB yang telah tersebar di 10 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu.

“Upaya penurunan angka kelahiran ini memang menjadi perhatian kita bersama,” kata Busmar dalam sambutannya saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Daerah Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan (KKBPK) di Grage Hotel Bengkulu, kemarin (13/3).

Busmar menegaskan, penurunan angka kelahiran tersebut juga dipengaruhi adanya peningkatan penggunaan alat kontrasepsi KB. Seperti kesertaan KB (CPR) 65,87 persen, penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) 25,21 persen, unmet need 5,99 persen dan tingkat putus pakai kontrasepsi sebesar 24,6 persen.  “Di tahun berikutnya, hal ini bisa terus meningkat,” tambahnya.



Tidak hanya itu, dukungan regulasi kelembagaan juga mempengaruhi hal tersebut. Sebab, landasan hukum yang jelas dan harmonisasi bidang kependudukan dengan instansi terkait sangat berkaitan erat. Untuk itu, ke depan upaya ini tetap dilakukan.

“Harmonisasi penting untuk dilakukan,” tutur Busmar.

Menurutnya, untuk menekan tingginya angka kelahiran, masyarakat perlu merencanakan secara matang kehidupan dan keturunannya, maka ditargetkan kualitas hidup anak-anaknya menjadi lebih baik. “Jika tidak terencana, bahkan mempunyai banyak keturunan, sementara penghasilan orang tua tidak mengalami perbaikan, hal tersebut dikhawatirkan membuat kondisi kemiskinan orang tua jadi diwariskan kepada anaknya,” tambahnya.

Oleh karena itu, dengan menekan angka kelahiran maka akan berdampak baik pada kesejahteraan, dan menekan angka potensi masyarakat tidak produktif. “Kita akan terus melakukan pemberdayaan masyarakat. Sehingga harapannya tingkat kesadaran masyarakat bisa lebih baik, diantaranya dengan cukup anak dua saja,” pungkas Busmar. (151)




    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*