BINDURIANG MASIH LUMPUH

CURUP, BE – Situasi wilayah Lembak terutama Kecamatan Binduriang Kabupaten Rejang Lebong mulai berangsur kondusif. Pun begitu aktivitas warga maupun perkantoran di kawasan tersebut lumpuh. Warga trauma dan khawatir jika bentrokan polisi-warga yang menyebabkan 1 warga tewas terus berlanjut. Terlebih lagi penjagaan semakin diperketat dan warga masih bersiaga. Kendaraan yang sedianya akan melintasi kawasan tersebut pun berbalik putar arah. Hingga pukul 19.00 WIB, kemarin (18/6), pemblokiran jalan lintas Curup-Lubuklinggau masih dilakukan warga. Pemblokiran terjadi mulai dari Desa Pelalo Kecamatan Sindang Kelingi hingga Desa Taba Padang Kecamatan PUT dengan panjang lebih dari 10 kilometer. Setidaknya ada puluhan titik pembelokiran jalan, warga menutup akses jalan lintas Sumatera tersebut dengan melintangkan pohon pisang, menebang pohon, batu, bahkan kulit kopi dan pembakaran ban di tengah jalan. Sebuah mobil fuso bermuatan karet dengan nomor polisi BG 9766 MJ menjadi korban keberingasan warga. Mobil tersebut dibakar di Desa Kepala Curup, dengan posisi menutup jalan. Setidaknya sudah lebih dari 4 mobil yang menjadi sasaran amukan warga, diantaranya mobil truk dalmas Polres RL, mobil patroli Polsek PUT, mobil pribadi anggota polisi dan mobil partoli Brimob Detasemen A Curup Warga setempat menuntut agar Kapolda Bengkulu mencopot Kapolres Rejang Lebong AKBP I ketut Yudha Karyana SIK dari jabatannya sebagai Kapolres Rejang Lebong. Begitu pula, Iptu Karmin sebagai Kapolsek PUT dan Kompol Syarif Hidayat sebagai Kabag Ops Polres Rejang Lebong. Tak hanya itu mereka juga meminta kendaraan warga yang disita hasil sweeping polisi dikembalikan. Sekaligus meminta santunan baik atas warga yang terluka dan meninggal akibat bentrokan tersebut. Menurut keterangan warga yang ditemui wartawan, penyebab pemicunya konflik antara warga dengan kepolisian disebabkan ketidaksenangan warga atas aksi razia rumah ke rumah yang dilakukan Polres Rejang Lebong minggu sore yang melibatkan 43 orang Brimob dari Detasemen A Curup. Andi Belang (30) warga Desa Kepala Curup mengatakan, saat itu, pukul 15.30 WIB pihak Polres RL datang beserta satuan Brimob untuk melakukan razia di lokasi Desa Palak Curup Kecamatan Binduriang. Tak lama tiba, pihak polres RL langsung melakukan razia, awalnya razia berlangsung di jalan raya, mulai masuk dari rumah ke rumah warga. Bahkan, ada anggota yang masuk ke rumah warga secara paksa dengan cara mendobrak pintu rumah. Situasi semakin memanas saat salah seorang warga yang baru pulang dari kebun membawa gula merah diambil motornya berikut gula merah yang dibawa. “Nah kami mulai panas saat melihat Rizal diperlakukan begitu. Rizal inilah korban yang pertama kali jatuh dari warga akibat ditembak bagian lidahnya,” kata Andi menceritakan kronologis kejadian yang mereka alami.

Dilanjutkan Andi, saat tembakan pertama itulah situasi mulai memanas. Warga mulai melakukan perlawanan dengan melakukan aksi pelemparan batu kepada petugas polisi. Romi (25), salah satu korban sasaran peluru aparat, warga Simpang Beliti Kecamatan Binduriang saat ditemui wartawan mengatakan, polisi datang ke lokasi di Pasar Minggu, langsung melakukan steril lokasi dengan cara memblokade jalan raya. Sebagian polisi dan Brimob ditempatkan di salah satu sisi jalan di pasar tersebut. Sementara sebagian lagi ditempatkan di sisi Jalan Kampung Jeruk. “Tak lama, mereka memaksa masuk ke rumah-rumah,” cerita Romi. Sementara itu, Kepala Desa Kepala Curup, Wardani saat usai melakukan pertemuan dengan Dandim RL di kantor Desa Kepala Curup mengatakan awalnya pihak Polres RL memang datang ke rumahnya untuk pamit melakukan razia kelengkapan kendaraan di Desa Palak Curup dan Sekitarnya. “Yang datang saat itu kabag Ops. Saya sempat tanya, kalau razianya dilakukan di jalan raya tidak apa-apa. Tetapi jika dilakukan sweeping dari rumah ke rumah tidak saya sarankan,”sesalnya.

PNS Liburkan Diri
Aksi pemblokiran jalan yang terjadi di jalan lintas Curup-Lubuklinggau berdampak luas pada terganggunnya aktifitas ekonomi masyarakat dan pelayanan sosial masyarakat yang dijalankan instansi pemerintah. Pantauan wartawan, aksi tersebut membuat sejumlah aktivitas perkantoran mendadak sepi. Para pegawai negeri sipil bahkan meliburkan diri dan tidak bisa beraktivitas dengan normal karena jalan yang diblokir. Bukan hanya itu, pembelokiran jalan yang terjadi sejak Minggu malam (17/6) hingga sore kemarin membuat kendaraan tidak bisa melintas. Kondisi ini membuat sejumlah kendaraan harus parkir tidak bisa melintas. Kades Tanjung Aur Kecamatan Sindang Kelingi Mulyadi menerangkan, sejumlah kantor pemerintahan, seperti kantor camat, pukesmas, sekolah tampak tidak memiliki aktivitas. “Mereka tidak bisa beraktifitas karena jalan yang ditutup, dan situasi keamanan yang belum kondusif,” tuturnya. Camat Sindang Beliti Ulu Armansyah, yang juga mantan Camat Binduriang mengakui terkait kondisi aktivitas perkantoran yang tidak berjalan normal. “Kondisi ini wajar, karena para pegawai masih khawatir paska bentrok antara warga yang polisi,” katanya. Sementara itu, Paradi Spd, Kepala SD 05 Sindang Beliti Ulu saat ditemui wartawan mengatakan, kemarin dirinya terpaksa meliburkan seluruh aktivitas di sekolah yang ia pimpin. Sebab, hingga saat ini, dari informasi yang diterima olehnya situasi di daerah Lembak masih sangat rawan.”Jangankan untuk mengajar, masuk ke lokasi saja hari sangat sulit sekali. Jalan di blokir mulai dari Desa Beringin tiga,” tegas Paradi.

Perampokan
Di bagian lain, kondisi jalan yang diblokir membuat kejahatan marak. Yanto (51) salah satu sopir angkutan barang olimpic furniture mengaku sempat melintas di jalur yang diblokir warga tepatnya di Desa Pelalo Kecamatan Sindang Kelingi. Saat itu korban mengaku menjadi korban perampasan dengan kerugian uang jalan senilai Rp 2 juta dan dua buah handphone. “Setelah saya diperas, saya disuruh berbalik arah. Kasus ini saya laporkan ke Polsek Sindang Kelingi,” terang Yanto. Aksi perampokan juga dialami Joni (28) tukang Ojak, warga jalan Teratai Tiga Kelurahan Kebun Beler Kota Bengkulu. Peristiwa kejahatan itu terjadi di Desa Cahaya Negeri sekitar pukul 09.00 WIB, saat korban menuju arah Lubuklinggau mengantar penumpangnya, Risda Uli Sitorus (52) warga Kota Bengkulu. Korban mengaku dihadang oleh 20 orang bersenjata tajam yang melakukan pembelokiran jalan. Akibatnya korban kehilangan sepeda motor jenis Yamaha Vega R warna hijau daun BD 5196 EW, dompet berisi uang tunai Rp 600 ribu, surat berharga. Kapolres Rejang Lebong AKBP I Ketut Yudha Karyana SIK melalui Kabag Ops Kompol Syarif Hidayat SIK membenarkan peristiwa tersebut. “Kami sudah mendapatkan laporan korban, yang melapor ke Polsek Sindang Kelingi,” tuturnya. Masih Dirawat Di bagian lain seorang anggota Polres Rejang Lebong dilarikan ke Rumah Sakit Bhyangkara, sejak Minggu malam (17/6) sekitar 23.00 WIB. Bripka Yopi Warmiko mengalami pendarahan di kepala akibat bentrokan di Binduriang, Rejang Lebong. “Korban saat ini telah sadar dan telah bisa untuk diajak berbicara banyak. Ada pendarahan hebat di kepalanya dan keretakan,” terang dokter bedah dan juga Karumkit Bhayangkara Kompol dr Yulian Famil.

Saat ditanya lebih lanjut, korban menjelaskan dan membenarkan jika dirinya melakukan pengeledahan terhadap warga. Masing-masing tim berjumlah 5 orang baik dari anggota Brimob, Sabara serta Intel Polres RL. Insiden tersebut terjadi setelah pihaknya mendapatkan sejumlah kendaraan yang tidak memiliki surat-surat setelah dilakukan pengeledahan di kediaman sejumlah warga. Sebelum operasi itu digelar pihaknya mendapatkan laporan perampokan pakai motor. “Saat melakukan pengeledahan tersebut pihaknya mendengarkan suara letusan atau senpi petasan dari warga pada pukul 18.00 WIB di ujung dusun Binduriang,” terangnya Mendengar suara tersebut, anggota Brimob langsung menuju lokasi Binduriang tersebut. Sejumlah anggota langsung mengecek dan mencari tahu asal suara tersebut. Suasana sempat meredam. Namun saat pihaknya akan membawa sejumlah motor yang tidak memiliki surat-surat tersebut, terjadilah keributan antara warga dan Brimob. Pihaknya pihaknyapun dipukul mundur dengan pemadaman listrik dan gardu yang berada di dusun Binduriang serta pelemparan batu oleh warga setempat. Di tengah suasana gelap gulita, perjuangan untuk pulang pihaknya mendapat halangan dari warga dengan memasang karung yang berisikan pasir di badan jalan. Tak ayal pihaknya juga menjadi sasaran empuk amukan warga. “Saat pulang pun kami menjadi bulan-bulan bulanan warga. Kami mengambil sikap mundur setelah mendapatkan aba-aba dari petinggi Polres RL,” terangnya. (999/333)

  • yudi 19 Juni 2012 at 14:37

    emang orang sana masih kampungan, primitif. Berbuat kriminal tp nggak mau di tindak.

    • curup begok 22 Juni 2012 at 22:50

      mati satu geger semua,,wajar mati bila jahat,,,,eneknya bisa ambil rampas milik orang,,,,curup bisanya di kandang sendiri,,,dasar orang gak berpendidikan bisanya merampas hak orang lain ,apa harga kopi turun hingga merampas orng seenaknya,,,,,sekali lagi curup orang kubu.binatang…..

  • korban kriminal palak curup 20 Juni 2012 at 21:18

    motor saya di rampas di depan warga desa palak curup. tetapi warga disana menertawakan disaat motor saya dirampas.. sungguh TIDAK PUNYA OTAK!!! sudah sepantasnya mereka dapat ganjaran…
    buat para aparat kepolisian jangan takut membela kebenaran dan jgn mental TEMPE… semoga kedepannya akan lebih baik..
    sekian dan terimakasih :))

  • nusantara 21 Juni 2012 at 13:22

    APARAT TINDAK TEGAS SAJA PREMAN DISANA KALAU SEPERTI INI MEREKA SEMANGKIN BERINGAS NANTINYA,SUDAH TAHU BERSALAH TAPI NGAK MAU DIHUKUM MALAH MERUSAK FASILITAS NEGARA DAN MEMBLOKIR JALAN UMUM,MEREKA HANYAJAGOAN KANDANG DAN MEMANG DAERAH SEPERTI ITU SEBAIKNYA DI TUMPAS AJA

  • doson linggau 23 Juni 2012 at 23:45

    PALAK CURUP SARANG PENYAMUN, HARUS DI HANCURKAN, DI BINASAKAN, DIRATAKAN DENGAN TANAH. MEREKA SAMA SEPERTI TEORIS, BUAT PAK POLISI JANGAN TAKUT. KAMI WARGA LINGGAU MENDUKUNG PEMBERANTASAN DAERAH PALAK CURUP DAN SEKITAR NYA….

  • putra lembak 24 Juni 2012 at 22:57

    saya orang LEMBAK, saya sangat mencintai daerah LEMBAK, pada dasarnya semua daerah itu sama ada yang baik ada yang tidak baik, pada kejadian di Kec. Binduriang desa Kep. Curup kalau saya menilai ada kesalahan prosedur dari kepolisian dalam meraziakan kendaraan bermotor,tlg buka UU tentang peraturan lalu lintas RI, tidak ada dlm UU tsb meraziakan motor yg posisinya ada didalam rumah penduduk atau posisinya tidak aktif. jadi wajar kami orang LEMBAK menuntut karena pihak kapolres R/L telah menyalahi aturan yg berlaku, hukum harus ditegakkan, silahkan tangkap warga yang bersalah, usut oknum kepolisian yg arogan…

    • totok 26 Juni 2012 at 18:50

      kalau kau orang lebak,kasih tau samo keluargo sanak pemili kau,silahkan lawan salah polisi tuh,jangan orang lewat di rampok,kito nih samo2 warga negara indonesia,itu namonyo penjahat,perampok.usaha kalau galak hidup layak.

  • KORBAN YANG ADA DI TEMPAT KEJADIAN 26 Juni 2012 at 13:18

    MEMANG ORANG DISANA PRIMITIF GAK PUNYA PENDIDIKAN KARENA BUKAN HANYA SEKALI MOTOR DI RAMPOK DI AMBIL UANGNYA EMASNYA DAN HANDPHONENYA WAJAR KALAU POLISI OPERASI DISANA ,ITU BUKANYA POLISI SALAH PROSEDUR MEMANG ORANG DI SANA PRIMITIF

  • iskandar 27 Juni 2012 at 14:52

    Saya mendukung operasi pihak kepolisian Polrss rejang lebong bila perlu operasi Militer mengingat sudah banyak jatuh korban termasuk anak saya dirampas motornya dan sudah dilaporkan ke polsek sindang kelingi. saat kejadian tidak ada bantuan masyarakat sedikitpun. Sangat memalukan kalau di rejang lebong ada suatu desa yang hidupnya hanya merampok kerjanya tidak berprikemanusiaan sekali lagi sangat memalukan.

  • Iskandar S 27 Juni 2012 at 18:00

    pak Polisi. hajar semua orang palak Curup jangan disisahkan lagi.Di palak curup itu adalah sarang penyamun sarang judi sehingga mereka selalu melakukan perampokkan untuk modal judi.Benar-benar biadab tidak berperikemanusiaan , saya sangat prihatin sekali serta merasah resah karena saya selalu akan melewati jalan tersebut apabila mau pulang kampung.Saya adalah orang curup yang tinggal di Muara.Enim dan anak saya sudah menjadi korban perampokkan sepeda motor oleh orang-orang yang bejat tersebut .

  • jemo lintang 1 Juli 2012 at 15:39

    satu kata,,,,,,,,,
    ”KUBU…………………………………..”

  • iskandar@ 3 Juli 2012 at 04:32

    jangan ,mandang sebelah mata,nanti repot bos kalau kita semua susah kelua malam.jangan sembarang bicara.kalau mau tau permasalahan sebenarnya datang dhonk ke kapala curup,temuin kita biyar kita bisa cerita lebih banyak..juangan memper keruh suasana

  • pasta 21 Juli 2012 at 00:29

    mereka itu kayak katak dalam tempurung jaman sudah moderen mereka masih pegang panah dan tombak …………gak belajar agama dan gak tau sekolah kapan mau maju??????????