Biaya Lapak, Rp 500 Ribu

BENGKULU, BE – Pedagang Kaki Lima (PK5) Pasar Percontohan Nasional (PPN) Panorama yang diwadahi Forum Panorama Raflesia (FPR), menyepakati biaya penyeragaman lapak sebesar Rp 500 ribu. Namun besaran dana tersebut, masih dikeluhkan beberapa pedagang, karena dianggap terlalu besar.¬†Pantauan BE, suasana tampak riuh saat Ketua FPR, Jailani Wadis menjelaskan dan mengumumkan dana penyeragaman di tengah kerumunan para pedagang kaki lima. “Karena telah paham dan setuju, maka pendaftaran kami tunggu sampai 10 hari ke depan. Dan bila tidak mendaftar, maka kami anggap mengundurkan diri dari kepemilikan tempat,” kata Jailani menutup pengumuman dan beralih meninggalkan kerumunan pedagang.¬†Namun pengumuman itu terbilang sangat cepat, karena saat itu masih banyak pedagang yang belum mengerti hasil musyawarah tersebut. Salah seorang pedagang ikan, Ita terlihat belum terlalu paham dengan keputusan tersebut dan meminta agar harga tersebut dapat diturunkan dan disesuaikan dengan kemampuannya. “Saya minta dananya Rp 300 ribu saja, namun lengkap dengan atap dan meja,” kata Ita seusai pengumuman. Namun pernyataan Ita tersebut disesalkan pedagang lain, karena tidak disampaikan saat musyawarah berlangsung. Hal senada juga dikatakan Maina pedagang ikan laut, bahwa keinginan pedagang belum tersalurkan sepenuhnya sehingga keputusan tersebut dianggap belum mewakili aspirasi pedagang. “Inikan musyawarah, kenapa yang menentukan hanya dari pihak forum? Berarti ini keputusan sepihak. Dana penyeragaman Rp 500 ribu tersebut akan diperuntukan untuk pembuatan atap, meja dan juga direncanakan menggunakan tiang besi. Biaya penyeragaman itu sendiri disepakati akan diangsur sebanyak tiga kali yang dimulai dari Rp 250 ribu dan dua angsuran lagi sebesar Rp 125 ribu.¬†Sementara itu, saat ditemui BE, Jailani Wadis menjelaskan keputusan tersebut bukan tanpa perhitungan. “Keputusan dana penyeragaman ini merupakan hasil dari kajian konsultan, sehingga konstruksi bangunan betul-betul sudah dikaji,” kata Jailani di Sekretariat FPR. Lebih lanjut dia menyatakan bahwa pihaknya tidak berpikir untuk mencari keuntungan dari pedagang, dan hal tersebut murni demi kepentingan pedagang. “Kita mengharapkan pedagang baik PK5, pedagang auning dan pedagang kios segera menempati tempatnya masing-masing, sehingga jalan kedondong dapat segera dibersihkan,” ujar Ketua FPR tersebut. Lebih lanjut diterangkannya tentang pedagang yang akan diganti bila tidak segera memberi konfirmasi dan mendaftar hanyalah agar pedagang serius untuk menempati tempat PK5 yang telah tersedia tersebut. FPR pun akan memberi solusi jalan keluar bila pedagang minta pertimbangan. “Kita tentunya melihat kondisi mereka, bila mereka minta pertimbangan kita. Mungkin kita bisa menggunakan subsidi bila memang dibutuhkan, namun bukan berarti dengan mudah akan diberdayakan oleh seluruh pedagang, kita hindari itu,” jelasnya. (cw3)