BI Serius Kembangkan Kain Batik Basurek

Bengkulu
JOS/Bengkulu Ekspress KEBERSAMAAN : Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra, didampingi istri, serta Kepala Tim Adivisory dan Pengembangan Ekonomi BI Perwakilan Provinsi Bengkulu, Cristine R Sidabutar saat berfoto bersama dengan 2 Narasumber, Samuel JD Wattimena, dan Drs S Ken Atik M Ds dan para anggota Kelompok Pengrajin Kain Batik Basurek Canting Emas.

Hadirkan Desainer Samuel JD Wattimena

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu saat ini tengah fokus pengembangan kain batik basurek. Kpw Bank Indonesia Provinsi Bengkulu menilai, potensi besar pada batik kain basurek yang bernilai ekonomi dan sebagai identitas daerah ini patut untuk diangkat kembali harkat dan martabat yang mulai tergerus oleh gempuran batik-batik printing.

Salah satu cara mengangkat kembali kesenian batik basurek ini, Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu menggelar “Workshop Kelompok Kain Batik Basurek Canting Emas” selama 3 hari (12 – 14 Juli 2017) dengan mengundang desainer kenaamaan Indonesia, Samuel JD Wattimena, untuk memberikan pelatihan kepada sembilan maestro pengrajin kain batik kain basurek yang ada di Bengkulu.

Ditemui usai melihat pelatihan sembilan pengrajin batik basurek Bengkulu kemarin, Kepala KPw Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra, mengatakan, Kpw BI tengah melakukan pengembangan potensi daerah.

“Kita datangkan Pak Samuel JD Watimena dan timnya untuk menggali potensi kain batik basurek. Mereka datang melihat, menganalisa dan memberikan solusi untuk pengambangan kain basurek ini. Pelatihan yang diadakan ini adalah untuk menyusun program selanjutnya tentang bagaimana strategi para pengrajin, strategi bagaimana batik kita bisa lebih maju dan lebih dikenal di Negeri ini,” katanya (14/07).

Lanjut Endang, Pak Samuel ini adalah pakar dan ahli dalam pengembangan potensi daerah, khususnya batik. Berkat sentuhan tangan beliau sudah banyak daerah yang terbukti maju. Beliau ini ahli mengembangakan etnik suatu daerah yang bernilai lebih.

“Kita datangkan ia untuk memberikan wawasan pada pelaku ataupun pengrajin batik basurek Bengkulu. Kedatangan mereka untuk mengajak pengrajin membatik dengan konsep yang beda dengan catatatan batik kita tidak dirubah, namun menyesuaikan dengan potensi daerah kita.

Contoh misalkan ciri khas dari kain batik basurek selama ini motif bunga rafflesia, nah setelah pelatihan ini para peserta akan dapat pencerahan, misalkan bisa saja motif rafflesianya dibuat dari sudut pandang yang berbeda, tidak hanya kaku tampak depan saja. contoh lain misalkan kenapa dibatik kita tidak menggunakan motif Pantai Panjang dan motof khas Bengkulu lainnya,” ujar Endang.

Sementara itu, Samuel JD Wattimena mengatakan, potensi besar ada pada kain basurek Bengkulu. Batik kain basurek Bengkulu harusnya tidak kaku, dari sisi motif dan kegunaannya juga. Motifnya tak harus bunga rafflesia atau kaligrafi gundul saja, namun bisa gunanakan motif tabot, pantai panjang, Benteng Marlborough dan potensi sejarah dan ciri khas kedaerahan lainnya. sampai Samuel. (Cik7)