BI Berhasil Jaga Stabilitas Ekonomi

REWA/BE
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Joni Marsius memberikan cendera mata kepada Wakil Gubernur Bengkulu, H Dedy Ermansyah SE pada Pertemuan Tahunan BI 2019 di Grage Hotel Bengkulu, Rabu (4/12).

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Meskipun kondisi perekonomian global dan Indonesia tidak begitu baik pada 2019 ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu berhasil menjaga stabilitas perekonomian di daerah. Bahkan BI memperkirakan angka pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada 2019 ini bisa di atas 5 persen dengan nilai inflasi terjaga pada kisaran 3,5Ā±1 persen.

Tidak hanya itu, BI juga optimis prospek ekonomi Bengkulu pada 2020 mendatang akan tetap terjaga meski di tengah ketidakpastian global. Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Joni Marsius mengatakan, ada tiga poin penting yang akan dilakukan BI untuk menjaga momentum perekonomian Bengkulu tahun depan agar tetap stabil. Ketiga poin penting tersebut yaitu sinergi, transformasi, dan inovasi.

“Sinergi, transformasi, dan inovasi merupakan kunci untuk memperkuat ketahanan dan pertumbuhan menuju Indonesia maju berpendapatan tinggi pada 2045,” kata Joni pada Pertemuan Tahunan BI 2019 di Grage Hotel Kota Bengkulu, Rabu (4/12).

Dengan menerapkan tiga poin penting tersebut, BI optimis pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada 2020 mendatang akan semakin lebih baik. Bahkan BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada 2020 bisa meningkat dalam kisaran 5,1-5,5 persen. Dengan inflasi tetap terkendali sesuai sasaran 3 persen plus minus 1 persen. “Pertumbuhan tersebut dapat terjadi jika Bengkulu bisa melakukan sinergi dan bertransformasi serta berinovasi terhadap sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru di daerah,” ujar Joni.

Di sisi lain, ia mengaku transformasi ekonomi akan mendorong pertumbuhan lebih tinggi lagi, dengan defisit transaksi berjalan menurun dan inflasi rendah. “Sinergi antara sistem keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan Pemerintah Daerah akan kita perkuat untuk ketahanan ekonomi,” tuturnya. Selain itu, dalam kondisi perekonomian global yang belum kondusif, bauran kebijakan BI yang telah ditempuh pada 2019 akan semakin diperkuat pada tahun 2020 mendatang. Penguatan itu akan melalui enam fokus area kebijakan.

Pertama, kebijakan moneter tetap akomodatif. Kedua, kebijakan makroprudensial yang akomodatif akan ditempuh untuk mendorong pembiayaan ekonomi. Ketiga, kebijakan sistem pembayaran difokuskan pada penguatan instrumen dan infrastruktur publik berbasis digital. Keempat, Kebijakan Pendalaman Pasar Uang diperkuat untuk mendukung efektivitas kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif. Kelima, Kebijakan Pemberdayaan Ekonomi Syariah dan UMKM terus didorong agar menjadi sumber pertumbuhan baru ekonomi di Bengkulu dan keenam, memperkuat sinergi dengan fokus pada beberapa aspek yakni sinergi kebijakan makroekonomi dan sistem keuangan untuk menjaga stabilitas, sinergi transformasi ekonomi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat struktur ekonomi, dan sinergi dalam inovasi digital untuk mendukung integrasi ekonomi dan keuangan digital secara nasional.

“Kalau keenam fokus ini dijalankan dengan baik maka kami pastikan perekonomian Bengkulu akan semakin baik,” tutupnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Bengkulu, H Dedy Ermansyah SE mengucapkan, terimakasih kepada BI karena telah menjaga stabilitas perekonomian Bengkulu pada 2019 ini. Ia berharap berbagai kebijakan yang akan dilakukan BI pada 2020 mendatang dapat berkontribusi lebih terhadap perekonomian daerah. “Saya mengapresiasi dan berterimakasih kepada BI karena telah berperan penting dalam menjaga stabilitas perekonomian daerah, semoga peran ini akan terus di perkuta pada 2020 mendatang,” kata Dedy.

Ia mengaku, tidak hanya BI, Pemerintah Provinsi Bengkulu juga sudah melakukan berbagai upaya strategis untuk menumbuhkan perekonomian daerah. Diantaranya, pengalihan pengelolaan Bandara Fatmawati ke Angkasapura II, pembangunan jalan tol Bengkulu-Lubuk Linggau, Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), pembangunan rel kereta api. “Selain itu, pemerintah juga mendorong masyarakat untuk mengurangi ketergantungan terhadap sawit dan karet, salah satunya dengan membudidayakan kopi. Karena kopi memiliki potensi ekonomi yang cerah,” tutur Dedy.

Selain itu, Pemerintah juga pada 2020 memfokuskan sektor pariwisata sebagai sumber ekonomi baru di daerah. Hal ini mengingat pariwisata memiliki peran yang besar dalam memberikan nilai tambah ke perekonomian daerah. “Kita akan jadikan pariwisata sebagai sektor prioritas karena mampu memberikan perubahan dan nilai tambah bagi ekonomi daerah secara signifikan,” tutupnya.(999)