Beruang Serang 4 Desa di Bermani Ulu Raya

Beruang-HitamBUR, BE – Warga empat desa di Kecamatan Bermani Ulu Raya (BUR) diantaranya Desa Pal 9, Desa Pal 8, Desa Pal 100 dan Desa Tebat Tenong Luar sejak sebulan terakhir dibuat resah oleh kemunculan sekitar 7 ekor beruang hutan berukuran besar, serta kemunculan ular dan kucing hutan.
“Istri saya mau mencuci pakaian, terpaksa tidak jadi karena ada beruang sedang bertengger merusak sebuah pohon,” tutur Ileg (35), warga Desa Tebat Tenong Luar kepada Bengkulu Ekspress, Selasa (4/06).
Tidak hanya Ileg, beberapa warga lainya juga pernah melihat kemunculan ular besar serta beruang hutan lainnya. “Saat ini sebagian masyarakat sedang beraktivitas panen kopi. Mereka jadi takut ke ladang karena ada beruang yang menampakkan diri,” terang Rafik (40) warga lainnya kepada wartawan.
Sebelumnya sekitar pukul 17.45 WIB, Rabu (15/05) penyerangan beruang dialami Herwanto (35), warga Desa Pal 8, saat melintas tidak jauh dari kantor Balai Informasi Penyuluh Pertanian (BIPP) di desa setempat. Akibat penyerangan itu, korban harus mendapatkan perawatan tim medis RSUD Curup lantaran mengalami sejumlah luka robek di bagian kepala dan tubuhnya.
Diduga, luka tersebut diakibatkan oleh gigitan dan cakaran beruang madu yang tengah mencari makan di perkebunan warga.
Dikatakan Herlin (26), warga setempat yang sempat menyaksikan peristiwa tersebut, mengatakan jika korban saat peritiwa terjadi sedang dalam perjalanan menuju salah satu rumah temannya. Ditengah perjalanan, tiba – tiba korban dikagetkan dengan kemunculan beruang yang langsung menyerang korban dengan cara mencakar.
Camat BUR, Kaharjo dikonfirmasi mengaku, telah mengetahui informasi terkait kemunculan Beruang hutan dan binatang buas lainnya yang meresahkan warga tersebut. “Kami minta pihak terkait seperti TNKS dan BKSDA segera bertindak, jangan sampai membuat warga semakin resah dan melakukan cara lain ketimbang harus menjadi korban berikutnya penyerangan oleh binatang buas,” pinta Kaharjo.
Sementar itu Kepala TNKS Wil-III Sumbagsel, Ir Donal Hutasoit mengaku belum mendapatkan keluhan warga terkait kemunculan hewan buas tersebut. “Kami belum dapat informasi, namun kami akan segera berkoordinasi dengan BKSDA bagaimana upaya pengusiran agar hewan buas tersebut bisa kembali ke kawasan,” jawab Donal.
Donal juga berharap masyarakat tidak serta merta menyalahkan BKSDA atau TNKS soal kemunculan hewan buas di pemukiman masyarakat. “Hewan buas juga tidak akan keluar dari habitatnya kalau tidak diusik atau ada kerusakan di dalam kawasan. Soal ada hewan yang memiliki tanda dari penangkaran, kami terus terang belum pernah melepas hewan dari penangkaran ke habitat hutan kawasan,” tegasnya. (999)