Bertekad Hidupkan Kembali Dunia Teater

Bengkulu Theater Community (BT_Com)

Sebagian masyarakat Bengkulu pasti jarang menerang nama Bengkulu Theater Community  yang biasa disingkat BT-Com. Pasalnya komunitas seni teater yang lahir tanggal 19 November 2005 ini memang jarang menggelar pertunjukan di Bengkulu. Mereka lebih sering tampil di di daerah lain, termasuk event tingkat nasional.

Salah satu aksi pentas yang pernah mereka lakukan yakni di Kota Solo tahun 2008 lalu. Bahkan pentas itulah yang juga membuat nama kelompok ini mulai banyak dikenal di kalangan pencinta seni khusus teater. Pasalnya aksi mereka dalam event Solo Internasional Etnic Music (SIEM) itu sangat memukai.

Ketua BT_Com, Wisnu Maulif mengaku bangga dengan prestasi yang mereka raih dengan bisa tampil di pentas teater tingkat nasional. Namun dia merasa, kebanggan itu masih hambar jika di daerah sendiri mereka tidak dikenal.

“Suatu kemujuran bagi

kami bisa tampil di event

tingkat nasional,

namun tidak ada gunanya

dikenal di daerah orang namun

di daerah sendiri tidak,”

ujar Wisnu.

Yang membuat dia dan rekan-rekannya semakin prihatin, ternyata seni teater di Bengkulu sudah jarang terlihat tampil. Sebab itulah, merasa terpanggil untuk mempelopori bangkitnya teater Bengkulu.

Sementara itu, aksi seni yang biasa diperagakan oleh BT_Com adalah komedi, keterampilan bermusik, tarik suara, hingga aksi teaterikal. Rencananya BT_Com yang sudah memiliki 25 anggota ini akan segera come back memperkenalkan diri kepada masyarakat Bengkulu
“Langkah awal kita memperkenalkan diri kepada masyarakat melalui sekolah. Nanti berbagai materi mengenai dunia teater akan kita sampaikan dan tentunya secara bertahap,” ujar alumnus ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta ini.

Diakuinya, Bengkulu memang tidak setenar Kota Bandung, Yogyakarta atau daerah lainnya dalam dunia seni, namun hal tersebut merupakan sebuah tantangan sendiri untuk mengenalkan Bengkulu ke kancah nasional. “Yakin usaha sampai, karena bukan tidak mungkin. Namun hal ini kita juga meminta dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Karena tanpa itu semua sinergi tidak bisa diciptakan,” tukasnya. (160)