Bertani Kopi tak Senikmat Menimumnya

Harga Tak Menentu, Petani Terjerat utang

Siti Hajar (50) salah satu petani kopi di Rejang Lebong saat memilih buah kopi yang siap dipetik. Saat ini menjadi petani kopi belum menjanjikan kesejahteraan bagi petani kopi di Rejang Lebong
Siti Hajar (50) salah satu petani kopi di Rejang Lebong saat memilih buah kopi yang siap dipetik. Saat ini menjadi petani kopi belum menjanjikan kesejahteraan bagi petani kopi di Rejang Lebong

Segelas kopi terasa nikmat bagi para pencinta minuman kopi, namun dibalik kenikmatan segelas minuman kopi tersebut, masih menyisakan kesusahan bagi para petani kopi khususnya di Kabupaten Rejang Lebong.

Ari Apriko, Rejang Lebong

HAMPIR semua masyarakat Indonesia tak terkecuali di Bengkulu mengenal yang namanya minuman kopi. Terlebih lagi Bengkulu merupakan salah satu daerah penghasil kopi dengan kualitas terbaik di tanah air. Bagi sebagian kalangan, meminum secangkir kopi bisa melepaskan penat bahkan bisa membangkitkan semangat mereka terutama dipagi hari.

Sehingga tak jarang mereka yang menyukai minuman dengan citarasa pahit ini selalu menyeruput minuman kopi setiap pagi sebelum memulai aktifitas mereka.

Namun dibalik nikmatnya minuman kopi, belum sebanding dengan kesejahteraan yang didapat petani dari berbudidaya tanaman kopi sebagai penghasil buah kopi yang nantinya melalui serangkaian pengolahan hingga bisa diracik menjadi minuman kopi.

Meskipun minuman kopi menjadi minuman favorit sebagian besar masyarakat Indonesia, namun menjadi petani kopi tak menjamin kesejahteraan bagi para petani. Untuk mengetahui kondisi petani kopi yang ada di Rejang Lebong, Bengkulu Ekspress mencoba menyambangi sejumlah petani kopi yang ada di Rejang Lebong.

Ibrahim (49) warga Kelurahan Sambe Baru Kecamatan Selupu Rejang, saat ditemui diperkebunan kopi miliknya yang ada di Desa Air Meles Bawah Kecamatan Curup Timur mengaku. Bila hanya mengandalkan hasil panen kopi, ia mengaku tidak cukup untuk hidup dalam satu tahun, karena memang pohon kopi ini menghasilkan buah musiman, yaitu dalam satu tahunnya hanya sekali panen saja.

“Kalau kita hanya mengandalkan dari buah kopi, tidak cukup untuk hidup satu tahun,” terang Ibrahim sambil sesekali membuang gulma yang ada dikebun miliknya.

Dijelaskan Ibrahim, dari satu hektar kebun kopi, hasil dari panennya bisa menghasilkan kopi sekitar 1 ton biji kering, itupun saat tengah musim bagus, berbeda dengan dua tahun terakhir yang menurutnya hasil panen kopi tidak maksimal karena cuaca yang tak menentu. Dengah hasil 1 ton kemudian dengan harga Rp 22 ribu per KG seperti saat ini, maka menurutnya dalam setahunnya petani kopi yang memiliki lahan satu hektar bisa mengumpulkan Rp 22 juta. Uang sebesar itu digunakan untuk hidup satu tahun, baik untuk menutupi utang ke tengkulak, karena sebelum panen biasanya para petani sudah lebih dulu meminjam uang ke tengkulak, kemudian mereka baru membayar saat panen dengan perjanjian hasil panen mereka harus dijual ke tengkulak, terkadang juga karena sudah memiliki hutang dengan tengkulang, para tengkulak juga memainkan harga dengan menurunkannya dari harga pada umumnya. “Itu kalau yang memiliki lahan 1 hektar, kalo kurang dari itu hasilnya juga akan kurang,” sampai Ibrahim.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sembari menunggu musim panen, Ibrahim mengaku banyak petani yang nyambi menjadi buruh harian lepas dikebun-kebun kopi yang memiliki modal lebih seperti PNS atau mereka yang memiliki kebun kopi yang luas, sehingga hasilnya lebih banyak. Mereka yang menjadi buruh lepas tersebut yaitu bekerja membersihkan gulma atau membuang tunas muda batang kopi, dimana kegiatan tersebut dalam satu tahunnya dilakukan beberapa kali.

“sebagian lagi ada yang menjadi pengrajin aren, karena betul kalo cuma ngandalkan buah kopi takkan hidup, apalagi yang punya lahan kecil,” papar Ibrahim yang sudah puluhan tahun menjadi petani kopi

Apa yang disampaikan oleh Ibrahim dibenarkan oleh Siti Hazar (50) petani kopi lainnya yang ada di Desa Air Meles Bawah. Menurut Siti yang membudidayakan tanaman kopi bersama sang suami Lukman Zaini bila hanya mengandalkan buah kopi, mereka tidak bisa bertahan hidup apalagi dalam beberapa tahun terakhir hasil dari bertani kopi selalu anjlok.

“Kalau cuman ngandalkan dari kopi, kami takkan hidup,” aku Siti.

Oleh karena itu menurut siti, untuk menopang kehidupan mereka, para petani dikawasan tersebut, selain membuka sebagian lahan mereka untuk ditanam sayuran, sebagian lagi dengan menanam tanaman penyerta didalam kebun kopi seperti cabai rawit maupun lada. Dimana hasil dari kedua tanaman tersebut bisa mereka gunakan untuk menyambung hidup sembari menunggu panen kopi yang biasanya berlangsung dari bulan Maret hingga Juni setiap tahunnya.

“Selain nanam tanaman lain, banyak juga petani yang nyetek (menyambung) kopinya, sehingga hasilnya akan lebih banyak,” jelas Siti

Diakui kopi, terkadang karena kebutuhan mendesak, saat sebagian kecil buah kopi sudah merah, mereka langsung memanennya, meskipun sebagian besar buah kopi tersebut masih berwarna hijau atau belum masak.

Sementara itu, untuk jenis kopi yang ditanaman petani di Kabupaten Rejang Lebong sendiri sebagian besar adalah kopi jenis robusta yang memang masa panennya hanya setahun sekali.(**)