Berlantai Tanah dan Berdinding Bambu


PAUD Babusalam Harapkan Gedung Baru

PRIHATIN : Kondisi PAUD RA Babusalam di Desa Bajak II Kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Benteng yang memprihatinkan.
PRIHATIN : Kondisi PAUD RA Babusalam di Desa Bajak II Kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Benteng yang memprihatinkan.
Meskipun berlantaikan tanah, beralaskan kardus dan berdinding bambu, anak-anak PAUD tetap semangat belajar, kemarin (17/1).
Meskipun berlantaikan tanah, beralaskan kardus dan berdinding bambu, anak-anak PAUD tetap semangat belajar, kemarin (17/1).

 

MERIGI KELINDANG, Bengkulu Ekspress – Potret pendidikan di pelosok desa di Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) sangat memprihatinkan. Salah satu sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Raudhatul Atfal (RA) Babusalam yang berlokasi di Desa Bajak II, Kecamatan Taba Penanjung, Bengkulu Tengah. Kondisi bangunan sekolah ini tampak seperti kandang ayam.

Pantauan Bengkulu Ekspress, bangunan berukuan 4×6 meter tersebut hanya berlantaikan tanah dengan dialasi potongan kardus berkas. Sedangkan dindingnya mengunakan papan dan babu.

“Kondisi sekolah kami bisa dilihat langsung, seperti kandang ayam,” ungkap salah satu guru yang mengajar di RA Babusalam, Rosita.

Selain belum memiliki bangunan permanen, sekolah yang berdiri sejak tahun 2015 lalu ini juga belum dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung.

“Dalam kondisi seperti ini, tak jarang murid-murid mengeluh dan mempertanyakan alat permainan. Meski serba keterbatasan, kegiatan belajar mengajar akan tetap kami laksanakan secara maksimal,” imbuhnya.

Rosita mengungkapkan bahwa antusias anak usia dini di Desa Bajak II dan sekitarnya dikategorikan cukup tinggi.

Memasuki tahun 2018 ini, sebanyak 25 orang anak telah mendaftarkan diri dan siap untuk mendapatkan pembelajaran.

“Setiap tahun, jumlah pendaftar semakin banyak. Sampai saat ini, sudah ada sebanyak 15 orang anak yang telah lulus dan diwisuda,” tandasnya.

Senadadi sampaikan pengelola PAUD Babusalam, Tarzoni. Ia mengaku berupaya mengembangkan sekolah tersebut, dan sudah menyampaikan usulan ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Benteng agar kiranya bisa diberi bantuan.

“Sebelumnya, aktivitas belajar dilakukan di rumah warga. Karena itulah, Kanwil Kemenag pusat tak bisa menggelontorkan dana. Karena itu, kami membangun sekolah secara swadaya. Besar harapan kami agar bangunan sekolah ini bisa menjadi permanen dan lebih layak digunakan,” ungkap pria yang juga merupakan penghibah lahan untuk sekolah ini. (135)