Bercita-cita Sebagai Pelukis Profesional

Herwandi dengan salah satu karya terbarunya yang dipamerkan dalam pameran besar Sumatera Biennale padang sumbarIwan seorang seniman muda yang memahami dunia seni rupa sejak kecil secara otodidak.  Hingga kini membawanya ke alur kesuksesan dengan hasil karya seni yang telah banyak diciptakan dari tangan dinginnya. Bagaimana kisah awal perjalanannya? Simak laporan berikut.

MEDI KHARYA SAPUTRA, Kota Bengkulu

NAMA lengkapnya adalah Herwandi.  Namun ia akrab disapa Iwan.   Pria kelahiran 1985 Karang Tanding Sumatera Selatan ini, merupakan salah seorang pekerja seni di Bengkulu.  Dia tinggal di Jalan P Natadirja Kelurahan Jalan Gedang Gading Cempaka.  Pria 29 tahun ini merupakan anak pertama dari pasangan Sa’ari dan Lismi.  Kecintaannya dalam bidang seni rupa telah tumbuh sejak kecil terutama karena faktor keturunan yang ada pada salah satu anggota keluarganya yang juga sebagai pekerja seni lukis.

“Tepatnya ketika saya masih duduk di sekolah dasar, saya sering mengamati uwak saya (kakak dari ayahnya) yang sering melukis di atas kanvas,” papar Iwan saat berbincang dengan BE di kediamannya.

Dari hal itu, membuat Iwan untuk meniru dan menerapkannya dikertas, dengan gaya melukis yang diamati dari keluarganya tersebut sehingga menumbuhkan suatu cita-cita yang diharapkannya ketika dewasa. Hingga pada akhirnya, kecintaannya terhadap seni tumbuh dari hasil pemahamannya sendiri tanpa diajarkan oleh siapapun. Dari bakat yang terlihat sejak kecil tersebut, membuat Iwan berkembang secara pesat, dan keluarganya pun merespon dengan positif.

“Waktu itu ketika saya pulang sekolah, tiba-tiba keluarga saya menyuruh untuk mengikuti lomba melukis, dan rata-rata dalam setiap perlombaan yang pernah diikuti hampir semuanya menang,” tuturnya.

Dari perlombaan yang kerap diikutinya itu, membuat Iwan semakin menekuni dunia seni rupa yang sekarang menjadi profesinya.  “Saya mulai mendalami dunia seni pada tahun 2006, dan hasil karya pertama saya hanya menghasilkan sebesar Rp 200 ribuan,” kata Iwan.

Dia juga menceritakan, diawal pengalamannya berkesenian sempat dipandang sebelah mata dari berbagai pihak untuk meredupkan potensinya. Namun, bagi Iwan hal itu tidak menjadikannya patah arang untuk melanjutkan karyanya, justru dianggapnya sebagai penyemangat yang menajamkan motivasinya untuk selangkah lebih maju.  “Saya lebih mengangapnya sebagai tantangan yang membuat saya bisa berhasil,” ungkapnya.

Iwan telah banyak menciptakan karya seninya baik komersil maupun idealis seperti lukis potret, lukis dinding, drawing, tatto dan segala jenis lukisan pesanan. Selain itu dia juga pernah membuka studio lukis yang bertempat di Tebing Tinggi Sumsel. “Dalam koleksi saya terdapat beberapa pejabat daerah Sumsel seperti Gubernur Sumsel Alex Nurdin dan Bupati Empat Lawang H Budi Antoni,” tukasnya.

Kemudian, karya telah banyak di pamerkan dalam berbagai acara yakni, 2009 PPSS di taman budaya Bengkulu, 2011 imaji ornamen di galerry nasional Jakarta, Pra biennale sumatera di taman budaya Sumatera Barat, pameran sea games di Palembang, 2012 rupa tutup buka fenomena di taman Bengkulu, Biennale Sumatera #1 di taman budaya Sumatera Barat, dan 2013 geliat rupa bumi rafflesia di taman budaya Bengkulu serta pada tahun 2014 Biennale Sumatera # 2 di taman budaya Sumatera Barat.

“Bagi saya yang utama adalah kepuasan batin, selanjutnya barulah publik yang menikmati idealisme saya yang tersaji dalam bentuk visual,” tutur Iwan menjelaskan konsep berkeseniannya.

Karena ketekunan dalam perjalanan seninya, Iwan menciptakan banyak karya lukis yang menghasilkan kesuksesan. Namun hal tersebut tidak mengurangi sikap sederhananya sebab walaupun Iwan telah mencapai cita-citanya tetap membanggakan dan berbakti terhadap keluarga, diantaranya membangun sebuah rumah untuk kedua orang tuanya dari hasil karya lukisnya. “Rencananya saya kedepan yang belum tercapai yakni membuka pameran lukisan 3 dimensi (3D) yang menampilkan semua hasil ciptaan saya,” tambahnya.

Dia menyampaikan pula, dalam waktu dekat ini akan di launching buku perupa se-Sumatera pada tanggal 20 Mei 2015 di gallery Nasional Jakarta, bersamaan dengan pameran Nusantara Art Chipelago. (**)