Beras Impor Membludak

RIO-BERAS- (2)
Rio/Bengkulu Ekspress
STOK PANGAN: Stok beras di Gudang Badan Logistik (Bulog) Divre Bengkulu masih didominasi beras dari luar negeri dan luar Provinsi Bengkulu.

Swasembada BerasĀ  Masih Jauh Harapan

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Program pemerintah dalam mewujudkan swasembada beras masih jauh dari harapan. Nyatanya, untuk kebutuhan beras Bengkulu saja lebih banyak ditopang dari beras impor. Data dari Badan Logistik (Bulog) Divre Bengkulu, kebutuhan pangan di Bengkulu saat ini masih mengandalkan beras dari luar negeri dan luar Provinsi Bengkulu.

Jumlah beras impor membludak dibandingkan beras lokal. Untuk beras impor, Bulog saat ini masih menyetok 5.842 ton. Kemudian dari provinsi lain di luar Bengkulu stoknya sampai 2.480 ton. Jumlah itu berbanding terbalik stok beras lokal Bengkulu hanya 183 ton beras.

Kepala Seksi Humas Bulog Divre Bengkulu, Bastian Hutahaean mengatakan, masih mengambilnya beras dari luar Bengkulu serta impor dari luar negeri itu lantaran keterbatasan serapan beras lokal. “Memang stok beras kita banyak dari luar,” terang Bastian, kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (2/9).

Dijelaskannya, untuk beras impor sendiri, Bulog mengambil dari dua negara yaitu Vietnam dan Thailand. Sementara untuk beras dari luar Provinsi Bengkulu, berasal dari beberapa provinsi. Seperti Provinsi Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Untuk serapan beras lokal sendiri tahun ini hanya sebanyak 1.351 ton dari total target 7.500 ton beras.

“Serapan kita masih sedikit dari target. Namun terus kita maksimalkan untuk serap beras lokal,” tambahnya.

Untuk stok beras di gudang saat ini masih mencapai 8.505 ton. Terbagi di gudang Kota Bengkulu 6.244 ton, gudang Curup 1.366 ton, gudang Bengkulu Selatan 384 ton dan gudang Bengkulu Utara 509 ton. Jumlah stok itu, dipastikan masih aman untuk kebutuhaan Bengkulu sampai 6-7 bulan kedepan. “Melihat dari stok itu, masih aman untuk memenuhi kebutuhaan Bengkulu,” beber Bastian.

Distribusi beras Bulog sendiri selain dijual komersil, juga untuk memenuhi beras bantuan sosial (bansos) beras sejahtera (rastra). Kemudiaan untuk memenuhi program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Provinsi Bengkulu. “Tidak perlu khawatir untuk program pemerintah, kita masih terus siap untuk memenuhinya,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Perkebunan (DKPHP) Provinsi Bengkulu, Ir Ricky Gunawan mengklaim, kebutuhaan beras untuk masyarakat masih aman. “Beras kita pastikan aman. Jadi tidak akan kekurangan,” papar Ricky.

Ditegaskannya, pihaknya terus berinovasi untuk mewujudkan Bengkulu swasembada beras. Beberapa program dilakukan, seperti cetak sawah, pemberiaan pupuk subsidi kepada petani, pemberiaan bantuan hentraktor, pemberiaan benih unggul dan program lainnya. “Program ini terus kita lakukan secara bertahap,” terangnya.

Untuk program cetak sawah saja, tahun ini ada sekitar 500 hektar. Cetak sawah itu difokuskan di Kabupaten Mukomuko. Begitupun dengan sistem panennya, petani juga diberika inovasi untuk panen setahun 2 sampai 3 kali panen. “Tahun depan, cetak sawah di kabupaten lain. Jadi setiap tahun pindah kabupaten,” tambah Ricky.



Ricky mengatakan, dilihat dari serapan Bulog yang masih sedikit itu bukan karena kekurangan beras lokal. Namun lantaran Bulog membeli beras lokal terlalu murah yang hanya sekitar Rp 4.800 perkilonya. Sementara toke beras lainnya, bisa sampai Rp 5.400 perkilo. Alhasil, petani banyak jual diluar Bulog. “Harga itu harusnya bisa lebih mahal. Sehingga banyak petani yang mau jual ke Bulog,” tuturnya.

Kondisi saat ini, petani beras juga tidak menjual padi dalam bentuk gabah, tapi kabanyaan dalam bentuk beras. Sebab, harga dalam bentuk beras juga lebih mahal. Sehingga petani bisa lebih untung untuk penghasilannya. “Itu pilihaan untuk petani. Namun terpenting, kita akan terus dorong, agar Bengkulu benar-benar bisa swasembada beras,” tandas Ricky. (151)