Berantas Buta Al-Quran

Kasi Bimbingan masyarakat Islam Kemenag Benteng, Rolly Gunawan SHi (3)Foto : Kasi Bimas Islam Kemenag Benteng, Rolly Gunawan SSosI MHI

KANTOR Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) terus berupaya memberantas buta baca Al-Quran. Salah satunya dengan memaksimalkan tempat pengajian quran (TPQ) yang tersebar di sejumlah desa-desa di Benteng.

“Membrantas buta baca Al-Quran saat ini terus kita lakukan dengan mengoptimalkan peran TPQ yang ada di Kabupaten Benteng. Selain itu, untuk memberikan motivasi bagi siswa yang belajar, kita akan melakukan wisuda setiap tahun dan memberikan penilaian. Untuk tahun ini direncanakan kita akan mewisuda 500 siswa dari seluruh TPQ yang ada,” kata Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kemenag Benteng, Rolly Gunawan SSosI MHI, kepada BE, kemarin (13/4).

Rolly menjelaskan, sejauh ini upaya pemberantasan buta baca Al-Quran ini telah mendapatkan persetuan dan pengesahan dari DPRD Benteng yang dituangkan dalam peraturan daerah (perda). Sayangnya, hingga saat ini peraturan bupati (perbup) sebagai turunan dari perda itu belum diterbitkan.

“Kami berharap Perbup dari Perda Berantas Buta Baca Al-Quran segera turun sehingga petunjuk pelaksana dan petunjuk teknisnya bisa diketahui agar ke depan aktivitas dari masing-masing TPQ bisa lebih terprogram dan menjadi salah satu prioritas Pemkab Benteng,” urai Rolly.

Ia optimis TPQ bisa menjadi salah satu wadah yang tepat untuk mendidik generasi muda agar mahir membaca dan menulis Al-Quran. Sehingga lulusan TPQ ini nantinya mampu meredam masalah akhlak yang buruk, ancaman narkoba serta prilaku negatif lainnya.

“Dengan dididik di TPQ, Insya Allah generasi muda kita akan terjaga dari hal-hal yang negatif,” harapnya.

Sejauh ini kendala yang dihadapi pihaknya adalah belum adanya perhatian pemerintah terhadap para guru atau pengajar di TPQ tersebut, sehingga menjadi guru TPQ kurang diminati.
Untuk itu, pihaknya akan terus berjuang hingga Kementerian Agama bisa mengalokasikan dana untuk operasional dan honor guru TPQ.

“Sementara ini, MTQ baru dikelola oleh lembaga (pengurus) masing-masing dan belum ada bantuan. Akan tetapi, sebagian TPQ telah dibantu oleh tenaga pengajar dari penyuluh agama honorer (PAH) yang diberi honor Rp 300 ribu perbulan. Meski diberi kesejahteraan yang minim, mau tidak mau mereka harus laksansakan tugas. Saat ini kita memiliki sebanyak 150 tenaga PAH yang bertugas di 10 kecamatan se-Kabupaten Benteng,” tukasnya.(135)