BENTROK SEKOLAH, 3 Terluka, 25 Diamankan

RIO-POLISI MENGAMANKAN SISWA SMK DIDUGA PELAKU PENYERANGAN SMAN 7 (1) RIO-POLISI MENGAMANKAN SISWA SMK DIDUGA PELAKU PENYERANGAN SMAN 7 (4) RIO-POLISI TEMBAK PERINGATAN KE UDARA-BUBARKAN SISWA- (1) RIO-SISWA SMA 7 BALAS MENYERANG PELAJAR SMK (5)BENGKULU, BE – Bentrokan antar sekolah terjadi, kemarin (17/1) di Kota Bengkulu. Ratusan siswa SMK gabungan ( SMKN 2 dan SMKN 4 dan SMK Grakarsa) mengepung dan menyerang SMAN 7 Plus dengan lemparan batu dan kayu di tengah proses belajar mengajar berlangsung. Mendapat serangan mendadak, ratusan siswa SMAN 7 Plus memberikan perlawanan dengan menyerang balik hingga bentrokan pun pecah.
Tiga orang dilaporkan terluka dari kejadian tersebut di antaranya 1 guru dan 2 siswa SMAN 7 Plus. Sedangkan 25 orang siswa dari berbagai sekolah diamankan kepolisian. Tak hanya itu saja, kerusakan infrastruktur terjadi akibat penyerangan tersebut seperti kaca-kaca ruangan perpustakaan dan kelas yang pecah.
Belum dipastikan motif pasti terjadinya aksi anarkis tersebut. Namun informasi yang berkembang pemicunya lomba futsal dalam Pekan Raya Jenggalu yang dihelat SMAN 7  Kamis (16/1) lalu.
“Dugaan sementara, aksi ini akibat lomba futsal kemarin (kamis,red). Kami akan melengkapi barang bukti, hingga mengerucut ke beberapa nama yang menjadi provokator aksi ini”, papar Kapolsek Gading Cempaka,  AKP Mayndra Eka Wardhana SH SIk.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) kota Bengkulu, Drs Gianto dan Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Kabid Dikmen) Dispendik kota Bengkulu, Dra Rosmayeti menyambangi SMAN 7. Selain itu, Kepala SMAN 7 juga mengundang beberapa kepala SMK yang ada di Kota Bengkulu untuk melakukan pertemuan. Beberapa kepala sekolah yang datang dari SMKN 2 Kota Bengkulu, SMKN 4 dan SMK Grakarsa.
Setelah pertemuan tersebut Kadispendik menolak untuk diwawancarai dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah untuk berbicara. Kepsek SMAN 7, H Nismah MPd mengatakan, semua kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) wajib menyisir lingkungan SMAN 7 untuk mengenali anaknya masing-masing dan membawa pulang. Semua kepala sekolah juga akan menjenguk dan memastikan benar tidaknya siswa yang ditahan tersebut adalah muridnya.
“Kita belum bisa memastikan dari sekolah mana saja yang terlibat, namun beberapa memang ada yang dari SMKN 2 dan SMKN 4 dan SMK Grakarsa”, jelasnya.
Pihak SMAN 7 juga menuntut ganti rugi atas kerusakan aset akibat aksi tersebut. Pihak sekolah yang terlibat juga tidak keberatan untuk mengganti, jika benar siswanya terlibat. Nismah menerangkan akan menyerahkan kasus tersebut ke pihak berwajib. “Pihak sekolah akan meminta bantuan keamanan dari kepolisian”, paparnya.
Dia menjamin siswanya tidak akan balas dendam untuk menyerang sekolah lain. Demi keamanan, para siswa SMAN 7, diwajibkan melapor kepada orangtua mereka untuk menjemput. Semua kegiatan Pekan Raya Jenggalu juga ditunda akibat dari penyerangan tersebut.
Kepala SMKN 2, Syamsir MPd, berjanji akan mengecek anak-anak yang ditahan di kantor kepolisian. Sekolah akan mengamankan seluruh siswanya. Setiap anak yang terlibat akan diberi sanksi. Bentuk sanksi masih dipikirkan dan belum bisa dipastikan.
“Di sekolah kami, kalau mencuri akan dikeluarkan. Apalagi tawuran”, katanya.

Kronologis Kejadian
Salah seorang guru yang menjadi korban penyerangan tersebut, Hary mengatakan, kejadian aksi tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Saat proses KBM masih berlangsung. Ada lebih 100-an orang yang datang dengan membawa kayu dan batu. Dia tidak bisa memastikan asal sekolah pelaku penyerangan. Menurutnya, pelaku tidak hanya dari para pelajar, tapi juga ada yang dari luar sekolah.
Dia menjadi korban karena mengamankan salah satu siswa yang melakukan penyerangan. “Yang di luar minta saya untuk melepaskan, tapi saya tidak mau. Akhirnya, saya dilempar kayu”, jelasnya.
Sedangkan beberapa pelaku yang berhasil diamankan pihak kepolisian mengaku tidak megetahui maksud dan tujuan dari penyerangan itu. Arif, siswa SMKN 2, mengaku dirinya mendapat pesan singkat dari teman sekelasnya yang bernama Ade. Bunyi sms itu, SMAN 7 menantang semua anak SMKN 2 untuk tawuran. Semua siswa diwajibkan datang, kalau tidak disebut banci.
“Saya tidak mau dibilang banci. Makanya saya datang”, katanya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Rendi dan Kiki, siswa kelas I SMKN Grakarsa. Mereka mengaku hanya ikut-ikutan. Mereka juga tak memahami motif dari penyerangan tersebut.”Saya tidak tahu persoalannya, saya tadi cuma diajak oleh teman”, jelasnya.
Siswa SMAN 4 Kota Bengkulu, Ijal juga mengaku hanya ikut-ikutan. Dia menjelaskan aksi penyerangan tersebut dilakukan oleh SMAN 4, SMK Grakarsa, SMKN 2, SMKN 5, SMK Pembangunan. “Dari SMKN 5 ada sekitar tiga orang”, katanya.

Kalah Futsal
Kala itu digelar pertandingan futsal di SMAN 7 Plus antara SMKN 2 melawan tuan rumah.  Hasilnya, tuan rumah menang. Ternyata kekalahan pertandingan futsal itu berbuntut dendam. Apalagi saat pertandingan terjadi sempat terjadi perselisihan antar pemain. Kemudian muncul insiatif untuk melakukan penyerangan ke SMAN 7 tersebut. Instruksi penyerangan disebarkan melalui SMS (short message service) antar pelajar SMK pada Jum’at (17/1) pagi. SMS berantai ini pun ternyata berhasil mengumpulkan gabungan siswa SMK dan menyerang SMAN 7 Plus.(cw3/cw5)