Bengkulu Segera Miliki LSF Sendiri

LSF

BENGKULU, BE – Untuk mensortir tayangan televisi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya Indonesia, nilai kearifan budaya daerah dan tontonan yang tidak bernilai edukasi, rencananya Lembaga Sensor Film (LSF) Pusat akan mendirikan perwakilan LSF untuk Provinsi Bengkulu. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua LSF Pusat, H Anwar Fuady SH MH, melalui Ketua Komisi A LSF, Narto Erawan D SH MM, bahwa perfilman memang harus dapat disortir dengan baik, agar masyarakat dapat menerima tontonan yang berkualitas.  Sehingga tidak terjebak dalam perfilman yang tidak layak ditonton oleh masyarakat banyak.

“Dengan hal tersebut, kita akan berencana mendirikan LSF ini di Bengkulu. Karena Bengkulu sendiri juga sudah banyak memiliki siaran televisi lokal, sehingga nantinya siaran TV tersebut dapat terpantau dengan baik,” jelas Narto saat menyampaikan  sambutanya dalam Sosialisasi Pembentukan Perwakilan LSF di Hotel Horizon Bengkulu, kemarin (18/5).

Lanjutnya, LSF didaerah ini di bentuk juga melaui amanat undang-undang perfilman Nomor 23 Tahun 2009 dan peraturan pemerintah tentang LSF. Selama ini yang diketahui, institusi LSF hanya berada di ibukota negara dan melakukan penelitian dan penilaian terhadap film-film yang diproduksi atau diimpor di Jakarta.  Padahal di daerah juga sudah mulai banyak memproduksi film-film, terlebih di daerah juga sudah banyak memiliki siaran TV lokal.

“Maka dari itu kita berharap nantinya, rencana mendirikan LSF ini dapat didukung oleh pemerintah daerah. Selain itu, juga dapat mempermudah masyarakat Bengkulu yang memproduksi film, tidak jauh-jauh lagi mensensor filmnya ke Jakarta,” tambahnya.

Sosialisasi yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Bengkulu, Sultan B Najamudin, Ketua  Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Bengkulu Zairin Bastian MD SP, perwakilan anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Perwakilan anggota DPRD Kota Bengkulu, dan jajaran FKPD Provinsi Bengkulu.

Wagub, Sultan B Najamudin, menyatakan dukungannya atas rencana pendirian perwakilan LSF tersebut di Bengkulu. Karena ia prihatin, saat ini banyak film tidak mengarah pada edukasi. Sehingga banyak masyarakat yang terjerumus akibat dari film yang banyak mengandung pornografi, unsur Sara, kekerasan dan meninggalkan nilai-nilai dearah.

“Sangat baik sekali rencana ini, mudah-mudahan nantinya masyarakat dapat disuguhkan dengan tontonan-tontonan berkualitas. Sehingga tidak bakal akan merusak generasi bangsa, akibat tonton-tontonan yang tidak berkualitas dan tidak memiliki nilai edukasi,” pungkas Sultan. (cw2)