Bengkulu, Miliki Potensi Ekspor Singkong

Foto; Ist

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Selain komoditas karet dan kelapa sawit, ternyata Bengkulu juga memiliki potensi ekpor singkong yang menjanjikan. Hanya saja komoditas yang satu ini sering kali disepelekan, padahal memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan. Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Bengkulu, Erwin Noviansyah mengatakan, Bengkulu memiliki potensi hasil pertanian yang cukup menjanjikan, salah satunya adalah singkong. Harga singkong atau ubi kayu di tingkat petani mencapai Rp 750 per kilogram (kg) hingga Rp 850 per kg. Bahkan sejumlah negara di Asia banyak yang membutuhkan singkong, sehingga prospek untuk ekspor juga semakin besar.

“Kebutuhan akan singkong itu cukup tinggi, biasanya rata-rata produksi 200 ton hingga 500 ton singkong untuk pembuatan tapioka per bulan,” kata Erwin, kemarin (10/3).

Ia berharap petani bisa memproduksi singkong dalam skala besar dan mengolahnya menjadi produk setengah jadi dalam bentuk cassava chip. Soalnya, dengan bentuk cassava chip, petani mendapatkan harga yang lebih tinggi dan lebih stabil daripada singkong. Selain itu petani juga perlu memperbaiki pola tanam agar bisa memiliki pendapatan yang kontinyu setiap bulannya.  “Dengan luas lahan 2,5 hektare (ha), petani bisa memperoleh pendapatan Rp 5 juta sampai Rp 15 juta per bulan,” tuturnya.



Ia mengaku, beberapa daerah di Bengkulu sangat layak untuk ditanami singkong seperti di Rejang Lebong, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Kepahiang, dan Lebong. Bahkan jika seluruh wilayah berhasil ditanami singkong maka kegiatan ekspor bisa dilakukan dari Bengkulu ke beberapa negera di luar negeri. “Kalau jumlah produksinya di Bengkulu tinggi, maka bukan tidak mungkin Bengkulu nanti termasuk salah satu provinsi pengekspor singkong di Indonesia,” tuturnya.

Harapan tersebut tidak bisa serta merta langsung terwujud, dibutuhkan peran aktif pemerintah untuk mendorong petani lebih giat memproduksi dan menanam singkong. Sehingga singkong akan menjadi komoditas unggulan di Bumi Rafflesia ini. “Kalau masyarakat giat menanam dan nanti jadi produk ekspor maka yang sejahtera juga mereka,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Serikat Tani Bengkulu (STAB), Muspani mengatakan, pihaknya setuju jika singkong bisa menjadi komoditas unggulan di Bengkulu. Karena di beberapa daerah seperti Lampung dan Sumatera Barat, singkong telah menjadi komoditas unggulan. Jika ini bisa diterapkan di Bengkulu maka tidak menutup kemungkinan produk ekspor singkong juga ada yang dari Bengkulu.

“Produksi singkong yang banyak itu di Lampung dan Sumatera Barat, saya rasa Bengkulu juga bisa memproduksinya, asalkan Pemerintah merencanakan programnya,” kata Muspani.

Beberapa program yang dapat dilakukan Pemerintah diantaranya menaman satu juta tanaman singkong di Bengkulu. Sehingga produktivitas singkong di Bengkulu juga akan semakin tinggi. Selama ini Pemerintah kerap membuat program seperti penanaman cabai maupun jagung, kenapa singkong tidak bisa, saya rasa bisa juga dilakukan oleh Pemerintah, kan ini demi kebaikan daerah juga,” tutupnya.(999)




    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*