Bengkulu Komit Wujudkan Program Kota Layak Anak

Penandatangan MoU Kota Layak Anak
Penandatangan MoU Kota Layak Anak di Kabupaten Rejang Lebong, Jumat (12/05/2017).

CURUP, bengkuluekspress.com – Untuk menekan tingginya angka kekerasan terhadap anak di Provinsi Bengkulu, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP – PA) Republik Indonesia (RI) menginisiasi Pencanangan Perwujudan Kabupaten / Kota Layak Anak (KLA) dan penandatanganan MoU Gubernur dengan bupati dan walikota se Provinsi Bengkulu, Jum’at (12/05/2017) di gedung Diklat Danau Mas Harun Bestari (DMHB) Kabupaten Rejang Lebong (RL).

Menurut siaran pers Kementrian PPPA RI, penandatangan MoU ini sebagai bentuk kepedulian Negara terhadap pembangunan perempuan dan anak di Indonesia demi mewujudkan Indonesia Layak Anak (IDOLA), yang sesuai dengan pemenuhan hak dan perlindungan anak yang diamanatkan dalam Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 serta komitmen Indonesia dalam mendukung gerakan “World Fit for Children” (Dunia yang Layak bagi Anak).

KLA merupakan sistem pembangunan yang berbasis pada pemenuhan hak dan perlindungan anak. Hingga saat ini terdapat 302 kabupaten/kota telah menginisiasi menuju KLA. Hal ini berarti telah ada 302 komitmen dari Bupati/Walikota yang siap atau sedang dibangun untuk melaksanakan berbagai program dan kebijakan pemenuhan hak dan perlindungan anak.

“Saya berharap komitmen yang dibangun tidak berhenti hanya penandatanganan diatas kertas saja, namun diikuti segera dengan langkah konkrit yaitu difungsikan dan diaktifkan Gugus Tugas KLA sebagai wadah dalam menentukan tahapan dan arah kebijakan pemerintah selanjutnya. Selain itu segera mengaktifkan Kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di tingkat desa/kelurahan, untuk mengatasi permasalahan anak seperti kekerasan, diskriminasi dan eksploitasi oleh masyarakat sendiri dimulai dari tingkat Grass-Root, dan yang tidak kalah penting adalah mengajak Forum Anak mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan hingga kelurahan/desa secara berjenjang untuk berdiskusi menentukan arah kebijakan kedepan” ujar Deputi Bidang Perlindungan Anak KemenPPPA, Pribudiarta Nur Sitepu dalam acara Pencanangan Perwujudan Kab/Kota Layak Anak (KLA) dan penandatanganan MoU Gubernur dengan Bupati/Walikota se Provinsi Bengkulu.

Kemudian ia menambahkan, dalam mengembangkan KLA di setiap kabupaten/kota, harus mengacu pada 24 indikator pemenuhan hak dan perlindungan anak yang secara garis besar tercermin dalam lima klaster hak anak, yakni Hak sipil dan kebebasan, lalu Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif, selanjutnya Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan, keempat Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Budaya dan terakhir Perlindungan Khusus bagi 15 kategori anak.

Oleh karena itu, Pemerintah, Pemprov, dan Pemerintah Kabupaten/Kota harus memastikan semua anak yang memerlukan perlindungan khusus mendapatkan layanan mulai dari layanan pengaduan, kesehatan, rehabilitasi sosial, bantuan hukum sampai pada layanan reintegrasi.

Lanjutnya, untuk mencegah kekerasan terhadap anak, pemerintah dalam hal ini Kementerian PPPA telah menerbitkan Strategi Nasional Pencegahan Kekerasan terhadap Anak 2016-2020, meliputi Legislasi dan penerapan kebijakan, menghilangkan norma sosial yang membiakan kekerasan pada anak, pengasuhan dengan relasi kasih sayang, peningkatan keterampilan anak, peningkatan kualitas layanan serta sistem data dan bukti.

Upaya pencegahan kekerasan terhadap anak tidak cukup dengan diterbitkannya berbagai Undang-Undang yang melindungi anak, tetapi yang terpenting bagaimana masyarakat memperkuat perannya dalam perlindungan anak. PATBM perlu dibuat dalam sebuah gerakan yang masif dan harus dilakukan secara terus menerus, yang dimulai dari RT, RW, desa/kelurahan, kecamatan, dan kabupaten/kota. Saat ini PATBM telah dirintis di 34 Provinsi, 68 Kabupaten /Kota, dan 136 Desa/Kelurahan.

“Saya berharap komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha untuk mewujudkan seluruh Kabupaten/Kota-nya menuju KLA dapat selalu melindungi dan memiliki kekuatan untuk melaksanakan pemenuhan hak dan perlindungan anak Indonesia,” tambah Pribidiarta

Sebelumnya, Deputi Perlindungan Anak, Pribudiarta juga mengunjungi Desa Sumber Urip yang dinobatkan sebagai Desa percontohan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat di Rejang Lebong, karena memiliki komitmen tinggi dalam melindungi anak, dimana anggaran PATBM secara khusus telah diperhitungkan kedalam Anggaran Pembangunan Berkelanjutan Desa. Deputi Pribudiarta melakukan diskusi dengan Forum Anak Rejang Lebong, para aktivis PATBM serta ibu-ibu PKK di Desa Sumber Urip terkait Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan.

Sementara Bupati Rejang Lebong, Ahmad Hijazi saat konferensi pers terkait kegiatan di atas menyampaikan, Pemkab Rejang Lebong dalam mengatasi permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah melalui salah satu programnya yaitu Kota Religius.

“Yang perlu dibina terlebih dahulu adalah akhlak masyarakat dan moral mereka. Karena faktor ekonomi bukan hanya salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap anak dan perempuan. Ada juga warga yang memiliki ekonomi yang berkecukupan namun terpengaruh dengan minum minuman beralkohol dan narkoba, sehingga dapat menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap anak dan perempuan. Untuk itu Akhlaklah yang perlu ditaman terlebih dahulu untuk masyarakat,” tegas Hijazi.(Ade)