Bengkulu Inflasi 0,58 Persen

Bengkulu
REWA/Bengkulu Ekspress Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Bengkulu Nurul Hasanudin, SST M Stat saat menyampaikan press release data BPS di Kantor BPS Provinsi, kemarin (3/7).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Provinsi Bengkulu pada Juni 2017 hanya mengalami inflasi 0.58 persen. Hal ini menunjukkan penanganan dan pencegahan inflasi pada momen Ramadhan dan lebaran Idul Fitri 1438 H lalu berhasil dilakukan dengan baik.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Bengkulu Nurul Hasanudin, SST M Stat mengungkapkan, Bengkulu menempati urutan 11 dari 82 kota di Indonesia, dimana sebanyak 79 kota mengalami inflasi, selebihnya 3 kota mengalami deflasi.

“Angka inflasi Bengkulu pada bulan Juni 2017 tercatat sebesar 0,58 persen, bila dibandingkan dengan inflasi Mei 2017 sebesar 0,56 persen, angka tersebut masih cukup baik,” ungkap Nurul saat merilis data BPS di Kantor BPS Provinsi, kemarin (3/7).

Diungkapkan Nurul, Inflasi tertingi berada di angka 4,48 persen dan terendah berada di angka 0,12 Persen. Sementara deflasi tertinggi adalah -0,64 persen dan terendah sebesar -0,01 persen.

“Inflasi tertinggi terjadi di Tual dan inflasi terendah di Merauke. Sedangkan kota yang mengalami deflasi tertinggi adalah Singaraja dan deflasi terendah terjadi di Denpasar,” ungkap Nurul lagi.

Lebih lanjut dikatakan Nurul, inflasi sebesar 0,58 persen pada bulan Juni 2017 lebih terkendali dibandingkan dengan besarnya inflasi pada hari raya Idul Fitri tahun 2016, yaitu sebesar 1,74 persen.

“Jika dibandingkan tahun lalu pada moment yang sama yakni ramadhan dan Idul Fitri, angka ini jauh lebih kecil dan inflasi lebih terkendali,” lanjut Nurul.

Namun, dengan inflasi sebesar 0,58 persen pada bulan Juni 2017 ini, maka besarnya inflasi tahun kalender (laju inflasi) sebesar 2,27 persen, dan juga inflasi tahunan (year on year) tercatat sebesar 5,44 persen.

“Inflasi tahunan sebesar 5.44 persen sudah masuk kategori early warning padahal inflasi ideal 4 persen minus 1 sehingga pemerintah harus berusaha sebaik mungkin untuk terus menekan laju inflasi,” tambah Nurul.

Diterangkan Nurul, inflasi Kota Bengkulu bulan Juni 2017 terjadi pada semua kelompok pengeluaran, dimana kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan mengalami Inflasi tertinggi sebesar 1,10 persen, selanjutnya diikuti kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 1,08 persen, kelompok makanan jadi,minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,49 persen, kelompok sandang sebesar 0,23 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,10 persen, kelompok bahan makanan sebesar 0,09 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,05 persen.

“Penyumbang inflasi terbesar adalah dari kelompok pengeluaran yakni sebesar 1,10 persen, dan terendah dari kelompok rekreasi dan olahraga sebesar 0,05 persen,” terang Nurul.

Inflasi yang terjadi pada bulan ini disebabkan naiknya tarif listrik, tarif angkutan antar kota dan angkutan udara, mobil dan harga beberapa bahan makanan seperti beras, tulang sapi, daging ayam ras, kentang dan mie kering instan.

“Banyak faktor yang menjadi penyebab angka inflasi di bulan Juni dari semua kelompok, berasjuga menyumbangkan inflasi tinggi sebesar 0.107 persen,” ujar Nurul.

Penyumbang inflasi tertinggi kelompok transportasi, komunikasi, dan keuangan. Tanpa perhitungan angkutan udara, besaran inflasi untuk kota Bengkulu sebesar 0,51 persen.

“Angkutan udara tidak terlalu dominan dalam memberikan sumbangan inflasi,” tambah Nurul.

Tak hanya dari sisi pengeluaran, dari kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, tarif Listrik penyumbang inflasi tertinggi sebesar 0,211 persen, akibat adanya pengalihan tarif dasar listrik dan pencabutan subsidi listrik kepada masyarakat mampu.

“Akibat pengalihan tarif dan pencabutan subsidi listrik menyebabkan listrik menyumbangkan inflasi tertinggi ditambah tingginya aktivitas masyarakat menggunakan listrik selama bulan Ramadhan,” sambung Nurul.

Sedangkan untuk kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi dipengaruhi turunnya harga cabai merah sebesar -0,175 persen diikuti deflasi atau penurunan bawang putih sebesar 0.129 persen, jengkol, apel, ikan nila segar, gula pasir, minyak goreng, bawang merah, ikan mujair dan telepon seluler.

“Cabai merah dan bawang putih mengalami deflasi atau penurunan selama puasa dan lebaran. Hal ini berhasil berkat banyaknya pasar murah dan operasi pasar yang sudah digelar oleh Pemprov Bengkulu,” terang Nurul.

Menurutnya, laju inflasi bulan Juni di Provinsi Bengkulu sudah cukup terkendali, namun ia tetap berharap pemerintah tetap serius dalam upaya menekan laju inflasi di provinsi Bengkulu pada bulan-bulan selanjutnya.

“Kami berharap laju inflasi Bengkulu pada bulan berikutnya tetap terkendali dengan upaya yang terus dilakukan pemprov Bengkulu untuk menekan laju inflasi,” tutupnya.(999)