Bengkulu Belum Diizinkan New Normal

IST

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pusat memberikan kewenangan kepada 102 Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia untuk menerapkan new normal atau adaptasi kehidupan baru. Dari 102 daerah tersebut, khusus di Provinsi Bengkulu hanya Kabupaten Rejang Lebong yang boleh menerapkan new normal. Hal ini kemungkinan dikarenakan RL sebelumnya belum masuk ke dalam zona merah. Sementara 9 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu belum mendapatkan rekomendasi untuk menerapkan new normal tersebut.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Bengkulu, Jaduliwan mengaku terdapat empat syarat agar seluruh daerah di Bengkulu bisa menerapkan new normal. Pertama, indeks penularan virus korona atau basic reproduction number (R0) di bawah angka 1. Saat ini Bengkulu memiliki R0 sebesar 0,86. Artinya, satu orang pasien korona hanya bisa menularkan ke 1 orang.

“Angka indeks penularan virus korona kita masih di bawah satu, tapi hanya Rejang Lebong yang boleh menerapkan new normal, kemungkinan karena sebelumnya di sana masih zona hijau dan belum ada kasus,” kata Jaduliwan, Senin (1/6).

Selain itu, syarat kedua agar daerah bisa menerapkan new normal yaitu adanya penurunan kurva dari jumlah pasien yang dinyatakan positif Covid-19, meninggal dunia, pasien dalam pengawasan (PDP), dan orang dalam pemantauan (ODP). Seperti diketahui, penambahan kasus Covid-19, PDP, dan ODP di Provinsi Bengkulu terus mengalami peningkatan dari hari ke hari. Bahkan, hingga 1 Juni 2020, jumlah pasien positif Covid-19 telah mencapai 92 kasus atau meningkat dibandingkan 1 April 2020 lalu yang tercatat hanya 1 kasus.

“Kasus positif Covid-19 kita bertambah, PDP dan ODP juga, makanya pemberlakuan new normal belum bisa dilakukan,” tuturnya.

Ia menambahkan, syarat selanjutnya agar bisa menerapkan new normal yakni adanya dukungan sarana dan prasarana untuk menunjang tatanan baru atau new normal di masyarakat. Kemudian adanya dukungan sumber daya manusia (SDM) baik itu dokter, perawatan dan semua stakeholder yang ada.

“Dan tidak kalah penting kesiapan dari kita semua, dari warga harus disiplin dan taat. Kalau kita tidak disiplin dan taat menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, maka mustahil new normal bisa dilaksanakan di Bengkulu,” tutupnya.

Sentara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni SKM MKes mengatakan pihaknya telah memiliki tim ahli epidemiologi dan imunitas yang mengkaji secara epidemiologi tentang perkembangan korona di Provinsi Bengkulu. Dari kajian tersebut, nantinya dapat diputuskan apakah Bengkulu layak menerapkan new normal atau tidak.

“Kita ingin melihat kesiapan Provinsi Bengkulu, apakah layak Bengkulu nantinya mempersiapkan diri menuju new normal. Ini sudah kita kaji secara epidemiologi, mudah-mudahan ini dapat dilaksanakan secara terstruktur dan dilaksanakan semua,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Bengkulu, dr Syafriadi meminta pemerintah untuk mengkaji secara mendalam rencana penerapan new normal di tengah pandemi Covid-19. Sebab, jika tidak diperhitungkan dengan matang, maka berpotensi terjadi ledakan kasus Covid-19.

“Harus dihitung dengan benar, kalau tanpa perhitungan, bukan tidak mungkin akan terjadi lonjakan kasus yang tinggi,” kata Syafriadi.
Ia juga mengingatkan pemerintah untuk menyiapkan panduan khusus bagi semua pihak, termasuk masyarakat. Panduan ini berisi tentang perilaku masyarakat untuk memasuki masa new normal.

“Perilaku seperti apa? Kedisiplinan terhadap imbauan pemerintah, kedisiplinan menjaga kesehatan, kedisiplinan physical distancing, kedisiplinan memakai masker,” jelasnya.

Setelah menyiapkan panduan, pemerintah harus gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Dengan begitu, masyarakat mulai memahami dan belajar menerapkan kedisiplinan tersebut. IDI belum bisa memperkirakan kapan waktu yang tepat untuk menerapkan new normal. Sebab, memulai new normal membutuhkan evaluasi secara matang mengenai penyebaran kasus Covid-19 di daerah.

“Saya tidak bisa menentukan waktunya kapan karena itu nanti melihat dari peta atau angka penyebaran yang saat ini terjadi,” tutupnya.(999)



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*