Bendungan Senawar Rusak Total

Bakti/Bengkulu Ekspress BERLUMPUR : Petani sawah di Desa Taba Tarunjam, Kecamatan Karang Tinggi saat menunjukkan bulir padi yang berwarna kecoklatan akibat bercampur lumpur, kemarin (7/5)

25 Ha Sawah Tak Bisa Digarap

BENTENG, Bengkulu Ekspress– Puluhan hektare sawah irigasi di Desa Linggar Galing, Kecamatan Pondok Kubang, Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) tak bisa digarap. Hal ini dikarenakan bendungan senawar yang merupakan satu-satunya sumber air irigasi mengalami kerusakan. Bendungan yang dibangun 2017 tersebut jebol akibat diterjang banjir beberapa waktu lalu.

“Karena tak mampu menahan debit air yang luar biasa besar, bendungan senawar rusak total,” ungkap Kepala Desa (Kades) Linggar Galing, Saparmadi, kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (7/5).

Dijelaskan Saparmandi, bendungan tersebut merupakan salah satu sarana dan prasarana yang sangat dibutuhkan petani sawah. “Secara keseluruhan, ada 25 hektare sawah yang bergantung pada bendungan senawar. Akibat kerusakan bendungan, lahan persawahan tak akan bisa dimanfaatkan,” tambah Saparmandi.

Sejauh ini, lanjutnya, Pemerintah Daerah (Pemda) melalui Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) belum menentukan sikap atas bencana yang terjadi. “Saya harap perbaikan bendungan bisa menjadi skala prioritas. Mengingat, sawah merupakan salah satu mata pencarian warga,” pinta Saparmandi.



Selain itu, Saparmandi mengungkapkan, kerusakan bendungan terjadi sesaat setelah masa panen berlangsung. Akan tetapi, bencana banjir membuat sebagian besar petani mengalami kerugian yang tak disangka-sangka. “Hampir sebagian besar padi sudah dipanen oleh petani dan dikumpulkan di lahan persawahan. Sayangnya, belum sempat diamankan, gabah kering milik petani lenyap seketika dan terbawa arus sungai,” beber Saparmandi.

Padi Bercampur Lumpur

Berbeda dengan yang dialami petani sawah di Desa Linggar Galing, keberuntungan masih memihak kepada petani sawah di Desa Taba Tarunjam, Kecamatan Karang Tinggi. Meskipun sempat digenangi banjir, petani masih bisa memetik hasil jerih payahnya selama ini. Namun, padi yang dihasilkan tak sesuai harapan. Bulir padi terlihat kotor dan bercampur lumpur pasca banjir terjadi.

“Alhamdulillah, banjir tak begitu berpengaruh pada hasil panen. Hanya saja, kami kesulitan dalam merontokan bulir padi yang dipenuhi lumpur. Meski begitu, hasil panen diprediksi tetap sesuai harapan, yakini mencapai 60-70 karung per hektare,” kata petani sawah di Desa Taba Tarunjam, Bustami.(135)