Bencana Rusak Infrastruktur

RUSAK: Jembatan yang mengubungkan Desa Kota Baru Santan Kecamatan Pelabai dan Desa Limes Kecamatan Padang Bano, sata ini rusak akibat banjir.

 

BENGKULU, BE – Bencana yang terjadi sedikitnya di 4 kabupaten, Bengkulu Utara, Rejang Lebong, Lebong dan Kepahiang, belum berakhir. Bahkan di beberapa wilayah, bencana ini meluas dan merusak sejumlah infrastruktur. Akibatnya, kerugian yang ditimbulkan mencapai ratusan juta rupiah. Sejumlah fasilitas umum seperti jembatan di Lebong, banyak yang mengalami kerusakan, sebelumnya akibat luapan sungai uram, jembatan Gantung di Desa Kota Baru yang nyaris putus, kali ini jembatan penghubung antar desa di Desa Kota Baru Santan Kecamatan Pelabai nyaris putus dan saat ini kondisinya sudah miring akibat pondasi jembatan habis tergerus air. Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi jembatan yang mengubungkan Desa Kota Baru Santan Kecamatan Pelabai dan Desa Limes Kecamatan Padang Bano saat ini telah dibuat jembatan darurat oleh beberapa warga dengan bergotong royong. Sebab jika tidak dibangun jembatan darurat tersebut, maka dikhawatirkan akan berimbas pada perekonomian warga yang terhambat. “Saat ini jembatan di Desa Kota Baru Santan yang nyaris putus dan kondisinya sudah miring akibat banjir luapan air santan sementara dibuat jembatan darurat oleh warga dengan cara gotong royong agar dapat dilewati,” jelas Camat Pelabai Jafri, SSos kepada wartawan saat meninjau beberapa lokasi pasca banjir, Kamis kemarin (9/2).

 

Dikatakan Jafri, berdasarkan laporan lisan Kepala Desa Kota Baru Santan serta dari hasil pengecekan dari pihak kecamatan Pelabai dan BPBD Lebong mencatat bahwa banjir yang melanda Desa Kota Baru Santan, Tik Teleu dan Sukau Datang mengakibatkan Mesin Heler terendam, 25 Ton dedak halus hanyut, mesin jenset serta 2,5 kubik kayu hanyut, rumah warga nyaris roboh akibat belakang rumahnya longsor, beberapa bangunan irigasi jebol sekitar 40 meter, dan jembatan air santan ilir Desa Kota Baru Santan miring akibat pondasi tergerus air dan tidak dapat dilewati. “Masih banyak lagi kerusakan akibat banjir tersebut, seperti 5 ha sawah tertimbun batu yang dibawa air, dan ikan, tanaman padi banyak hanyut terbawa banjir. Kalau untuk jumlah kerugian pastinya belum dapat kita pastikan namun diperkirakan mencapai ratusan juta. Hal ini sudah kita laporkan kepada Bapak Bupati, BPBD dan pihak-pihak terkait,” terang Jafri. Selain itu, Kepala Desa Kota Baru Santan Hamidir mengatakan jika pihaknya sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah atas musibah bencana alam ini. “Yang jelas kami sangat membutuhkan bantuan dari berbagai pihak terutama pemerintah Kabupaten lebong, seperti pembuatan bronjong, tanggul penahan banjir serta yang paling penting yakni pembangunan jembatan. sebab jika jembatan itu putus maka akan berimbas pada perekonomian warga,” pungkas Hamidir.

Curup-Lebong Putus

Di Curup, hujan deras yang terjadi sejak pukul 12.30 WIB kemarin kembali menimbulkan bencana. Sekitar pukul 17.00 WIB jalan lintas Curup-Lebong tertutup longsor tepatnya di Desa Dataran Tapus. Pantauan wartawan di lokasi longsor, warga berupa menyingkirkan material tanah dan tanaman yang longsor ke badan jalan. Upaya itu berhasil menyingkirkan sebagian material longsor sehingga kendaraan bisa melintas meski harus bergantian.

Longsor dan Banjir Meluas

Di Kepahiang, bencana banjir yang melanda Desa Air Hitam Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang, sedikitnya telah menggenangi seluas 50 hektar sawah milik warga di daerah itu. Bahkan tidak hanya itu warga desa di sebelah Air Hitam pun harus waspaada dengan terjadinya lonsor karena rumah milik Sukidi (70) warga Desa`Cukung Lalang nyaris amruk karena sebagian dapur rumahnya longsor akibat cuaca buruk dan tingginya curah hujan dalam sepekan terakhir ini. “Kejadian longsor ini karena curah hujan yang tinggi sehingga bagian belakang rumah saya longsor dibawa arus sungai,” ujar Sukidi sembari menunjukan bagian rumahnya yang terkena longsor. Dikatakannya, kejadian longsor ini berbarengan dengan terjadinya banjir di desa Air Hitam. Dimana akibat longsor ini keluarganya harus mengugsi untuk sementara ini kepada tetangganya. “Waktunya berbarengan dengan banjir didasa Air Hitam,” katanya. Sementara itu, Komisi I DPRD Kepahiang mendegar terjadinya lonsor ini langsung kelokasi kejadian bersama dengan pihak Kecamatan Ujan Mas untuk memantau langsung musibah tersebut. “Kita akan segera kordinasi dengan pihak PLTA Musi mengenai masalah ini, karena keterangan dari pihak Kades setempat kejadian ini nsidah yang ketiga kalinya. Dimana hal ini diduga disebabkan pintu air PLTA Musi yang tidak dibuka sehingga desa masyarakat menjadi banjir karena air tidak tertampung lagi,” ujar Ketua Komsi I Edwar Samsi SIP MM bersama dengan anggota Komisi I Bambang Purnomo, ST. Berdasarkan data yang dihimpun pihak Kecamatan Ujan Mas Kepahiang, bencana banjir yang melanda desa Air Hitam ini semakin meluas dan dilaporkan sudah 50 hektare sawah petani dan 3 hektare cabai siap panen terendam banjir. “Laporan kita terkini yakni selain banjir yang mengakibatkan puluhan hektar sawah dan kebun cabai petani terendam banjir, juga terjadinya longor ini. Sehingga kita masyarakat agar waspada,” ujar Camat Ujan Mas Yayat Rohiat kepada BE.

Mengenai musibah banjir dan tanah longsor ini pihaknya dalam waktu dekat ini akan melakukan gotong royong pelebaran drainase warga sehingga bisa meminimalisir banjir sewaktu hujan. “Kita akan ajak warga untuk gotong royong pelebaran dan pendalaman permukaan siring besar yang menghubungkan ke PLTA Musi ini,” katanya. Adapun mengenai musibah banjir ini para petani di daerahnya terancam kerugian karena gagal panen. Karena hampir seluruh sawah dan ladang cabai petani diderah ini terendam banjir. “Untuk sawah mungkin masih bisa diakali tetapi bagi para petani cabai ini sudah bentuk kerugian,” tandasnya.

Pengerjaan Irigasi Dihentikan

Musibah longsor yang terjadi di Air Kotok Desa Tanjung Agung Palik Bengkulu Utara pada Rabu sore kemarin masih menyisakan luka mendalam bagi masyarakat desa setempat. Proyek pembuatan saluran irigasi yang diperuntukkan masyarakat desa malah mengakibatkan dua orang nyawa pekerja meninggal dunia yakni Hardi dan Bung. Terkait musibah tersebut, pihak desa untuk waktu tiga hari kedepan masih menghentikan aktivitas pekerjaan pembuatan saluran irigasi sebagai bentuk toleransi berkabung pada keluarga korban. “Pengerjaanya kita hentikan untuk sementara waktu hingga ada keputusan lebih lanjut dari masyarakat,” ujar Evi Sarfi, Kades Tanjung Agung Palik. Berkaitan pentingnya fasilitas saluran irigasi yang sedang dibangun tersebut, rencananya pemerintah desa akan melakukan musywarah ditingkat desa yang selanjutnya akan dibawa ke kecamatan. Hal ini berkaitan dengan pelaksanaan kelanjutan proyek irigasi yang tinggal melakukan pemasangan pipa untuk dilalui air irigasi ke sawah masyarakat. Jika proyek terhenti, akan menjadikan persoalan cukup serius karena puluhan hektar sawah warga akan terancam kekeringan. Selain itu, biaya yang dilkeluarkan untuk proyek PNPM tersebut juga cukup besar dan harus dipertanggung jawabkan penggunaanya. “Mungkin akan tetap kita lanjutkan pengerjaanya. Namun masih menunggu jeda waktu terlebih dahulu pasca kejadian longsor kemarin,” ujarnya.

Daerah Yang Angker

Menurut Kades, lokasi longsor yang terjadi kemarin merupakan lokasi yang cukup angker. Bahkan masyarakat desa setempat mengganggap bahwa lokasi yang dilalui saluran irigasi merupakan istana para mahluk halus. Beberapa orang warga sering melihat penampakan disekitar lokasi yang secara kebetulan berdekatan dengan sawah dan kebun warga. Suasana mistis sendiri sangat terasa saat berada di lokasi yang disebut warga sebagai daerah Air Kotok. Berkaitan dengan kejadian kemarin, warga desa enggan menghubungkan adanya keterkaitan antara lokasi angker dengan musibah yang merenggut nyawa dua orang pekerja saluran pipa irigasi.” Orang desa sini sering menyebutnya Cucuk Lambing lokasi tersebut karena terkenal cukup angker, ” tukas Kades. (777/505/212)