BEM UNIB Gandeng Guru dan Ulama

Seminar dan dialog interaktif menangkal radikalisasi ISIS, yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Bengkulu (BEM Fisip UNIB) di Hotel Ananda,kemarin (25/1)
Seminar dan dialog interaktif menangkal radikalisasi ISIS, yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Bengkulu (BEM Fisip UNIB) di Hotel Ananda,kemarin (25/1)

Tangkal Radikalisasi ISIS

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Maraknya radikalisasi seperti ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) mengancam keutuhan Persatuan dan Kesatuan Indonesia. Situasi ini menggugah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Bengkulu (UNIB) untuk menangkal perkembangannya. Dengan cara menggelar seminar dan dialog interaktif. Dalam pelaksanaan kegiatan ini BEM FISIPOL menggandeng guru dan ulama.

Seminar dan dialog interaktif yang diikuti sekitar 100 peserta pelajar dan mahasiswa ini berlangsung di Hotel Ananda, kemarin (25/1). Keguatannya dibuka Dekan Fisip Unib DR Achmad Aminudin MSI. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber yaitui Dandim 0407 Kota Bengkulu Letkol (Army) Yosef Rizal Sa’at MPICT, Ketua MUI Provinsi Bengkulu Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Bengkulu Drs Bustasar MS MPd diwakili Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Agama Islam Drs H MCh Naseh MEd.

Dandim Yosef Rizal Sa’at dalam pemaparannya mengatakan, sejak 2017, aliran ISIS mulai sesat.
Saat ini keberadaanya terus berkembang luas sehingga mengancam persatuan dan kesatuan NKRI dan ancaman ini harus terus diperangi bersama.

 

”Perluasan dan perekrutan anggota ISIS menggunakan strategi dengan menyerukan kepada simpatisan untuk kembali ke negara asal, dan berjihad di negara masing masing, mencari wilayah lain sebagai basis, dan kemungkinan masuk ke Indonesia¬† sangat besar,
” katanya.

Perekrutan ISIS bisa melalui dari keturunan keluarga yang pernah direkrut, doktrin dan menyebar kebencian, dan perekrutan dilakukan melalui media sosial dan internet.

Untuk memerangi radikalisasi ISIS maka perlu menanamkan rasa cinta tanah air, mengembalikan ajaran ke nilai Pancasila tanpa melihat perbedaan.

“Jangan mudah terprovokasi, hilangkan kata aku sebagai golongan tetapi sebagai kita sebagai indonesia,” imbuhnya.
Tenaga pendidik, toga (toko agama) dan tokoh adat bisa berperan mengantisipasi radikalisasi itu. Karena mempunyai kemampuan dalam membentuk pendidikan karakter. Jika anak sudah berkarakter, maka sudah bisa menyaring mana yang baik dan tidak.

”Peran tokoh agama dan tokoh adat juga sangat berpengaruh, disaat mulai mempelajari agama mengacu pada mereka yang kompeten, dan sesuai dengan ajaran yang ada dalam kitab suci masing masing sementara peran todat adalah memahami adat istiadat didaerahnya,” imbuhnya.

Sementara itu, Prof. Rohimin Danuri MPd menegaskan, ISIS akhir-akhir ini menjadi hal yang seksi. Ada 3 persoalan penting yang perlu dilihat, yaitu apakah ISIS sebagai gerakan, organisasi atau sebagai organisasi kolega.

ISIS tidak punya wilayah tetapi melakukan gerakan dan praktek yang dianggap radikal. Tiga persoalan tersebut yang sampai saat ini belum terjawab baik nasional maupun internasional.

“Diimbau pada masyarakat, jika diajak dalam organisasi, kelompok dan didalamnya ada baiat, sumpah dan harus merahasiakan maka perlu didalami. Radikalisasi ISIS sangat berpengaruh terhadap NKRI, karena tidak sesuai dengan nilai pancasila, Bhineka tunggal Ika, karena ISIS mengklai kebenaran sendiri dan anti pemerintahan yang sah,” katanya.

Sementara Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu Bustasar melalui Kabid Pendidikan Agama dan Agama Islam Naseh menegaskan, radikalisme paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan dan drastis, sikap ekstrem dalam aliran politik. Kondisi tersebut sudah Allah Ciptakan manusia beda keyakinan agama, namun apapun keyakinannya agamanya harus dihormati.

Terkait kian meluasnya radikalisasi ISIS Guru harus mengajarkan anti radikalisme pada pelajar, sehingga siswa memiliki pengetahuan tentang radikalisasi tersebut. Pengetahuan yang disampaikan seperti dialog dan seminar seperti ini akan menjadi filter dan generasi mendatang bisa mengerem radikalisme yang liar.

“Pemuda jangan terkontaminasi dengan hal yang tidak menguntungkan secara pribadi dan negara,” saranya.
Naseh menuturkan, melalui ustad guru agama diharapkan terbentuk pribadi anak-anak sesuai dengan agamanya masing masing. Guru pendidikan agama islam sebagai teladan bagi siswa dan sebagai pembimbing juga pengintegerasi materi-materi ke dalam nilai-nilai anti-radikalisme.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana yang juga selaku Ketua BEM FISIP UNIB Raji Reza Ilahi menuturkan, salah satu fenomena besar mengenai radikalisasi dunia saat ini ISIS.

Indonesia dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam, dengan pemahaman yang beraneka ragam memberikan peluang doktrin mengenai kebenaran menjadi ,hal yg negatif dan merugikan dan merusak keamanan negara, serta memecahbelah NKRI.

Banyak media online memberitakan mengenai ISIS.
“Terkadang orang-orang yang melihat ada yang paham dan ada yang tidak, dan yang berbhaya ini yang tidak, bisa bisa akan menjadi kedoktrin ke arah yang tidak benar,” katanya. (247)