Belum Percaya Astrid Meninggal, Keluarga Tunggu Hasil Tes DNA

ARY/BE
Nurhayati saat menunjukkan foto cucunya Astrid Aprilia yang hilang atau tidak pulang ke rumah mereka di Kelurahan Sukaraja Kecamatan Curup Timur sejak 8 November lalu.

CURUP, bengkuluekspress.com – Meskipun pihak kepolisian telah menemukan tengkorak manusia yang diduga terngkorak Astrid Aprilia yang hilang sejak 8 November 2019 lalu, hingga kemarin pihak keluarga belum percaya 100 persen bahwa tengkorak yang ditemukan tersebut adalah Astrid.

“Nenek belum yakin kalau tengkorak yang ditemukan itu adalah Astrid dan mudah-mudahan bukan Astrid,” sampai Nurhayati, Nenek Astrid saat ditemui dikediamannya Kamis (23/1).

Menurut Nurhayi, pihaknya belum mempercayai bahwa tengkorak yang ditemukan tersebut adalah Astrid sembari menunggu hasil tes DNA yang akan dilakukan pihak kepolisian. Dimana untuk melakukan tes DNA sendiri pihak kepolisian juga telah mengambil sambel rambut dari ayah Astrid yaitu Heri Maiaprianto dan bibi atau kakak dari ibu kandung Astrid Yenita.

“Kalau memang hasil tes dari polisi bahwa itu adalah Astrid, maka nenek baru yakin,” terangnya.
Lebih lanjut Nurhayati mengungkapkan, pihak keluarga belum percaya bahwa tengkorak yang ditemukan tersebut adalah Astrid, karena dari melihat tengkorak yang ditemukan tersebut beberapa sejumlah kejanggalan.

Seperti rambut yang menempel ditengkorak tersebut sudah lapuk, menurutnya dengan rentang waktu sekitar 2 bulan tersebut maka kondisi rambut masih bagus.

Selain itu, hampir seluruh gigi tengkorak tersebut sudah lepas semua, tinggal gigi graham baik kiri maupun kanan yang belum lepas. Kemudian menurut Nurhayati dengan melihat bentuk rahangnya yang besar, kemungkinan itu bukan rahang Astrid.

“Dengan melihat tengkoraknya, diduga tengkorak tersebut sudah lama dan lebih dari dua bulan,” paparnya.

Disisi lain, terkait tanda-tanda sebelum Astrid hilang, Nurhayati mengaku sudah mendapat beberapa tanda, dimana beberapa hari sebelum Astrid hilang dari rumahnya ia kerap melamun dan saat ia tanya Astrid mengaku sedang tak enak badan. Kemudian dimalam Jumat atau malam sebelum Astrid hilang Nurhayati sempat merasa takut kehilangan Astrid.

“Malam itu saya takut benar kehilangannya, bahkan sampai saya cium, saya elus-elus hingga tengah malam,” cerita Nurhayati

Tak hanya itu, dimalam terkhir Astrid berada dirumah, Nurhayati juga mengaku bila Astrid sempat bermimpi buruk. Menurut cerita Astrid kala itu, ia mengaku bermimpi seluruh giginya lepas. Namun menurut Nurhayati ia tidak tahu kalau itu merupakan pertanda karena ia berpikir bisa saja mimpi buruk tersebut karena Astrid lupa berdoa.

“Saya tanya kenapa kamu sampai mimpi buruk, pasti kamu lupa berdoa, kemudian Astrid mengaku kalau dia berdoa sebelum tidur,” tambah Nurhayati.

Sementara itu, berdasarkan pantauan Bengkulu Ekspress, di rumah nenek Astrid kemarin belum ada tanda-tanda keluarganya berkabung bahkan, namun sejumlah kerabat termasuk istri para pejabat di Kabupaten Rejang Lebong telah menyambangi kediaman Nenek Astrid.

Pelaku Pura-pura Minta Astrid Antar Kado

Disisi lain, dalam konfrensi persnya di Mapolres Rejang Lebong, Kapolres Rejang Lebong, AKBP Jeki Rahmat Mustika SIK didampingi Dandim 0409/Rejang Lebong Letkol Inf Sigit Purwoko SH mengungkapkan dugaan kasus pembunuhan terhadap Astrid bermula saat Astrid ditelepon Yo untuk diminta bantuan mengantarkan kado untuk kawan Astrid.

“Karena antara korban dan pelaku ini sudah saling kenal yaitu korban sudah kerap naik angkot pelaku sejak SMP, sehingga korban menyetujui,” terang Kapolres.

Saat sampai di rumah Yo, kemudian Astrid meminta air putih kepada pelaku, saat itu pelaku menyuruh Astrid untuk mengambil sendiri di dapur rumahnya. Saat itulah niat pelaku untuk mengambil motor yang dibawa Astrid timbul.

Kemudian pelaku langsung menyusul Astrid ke dapur, saat itu pelaku langsung mendekap leher korban menggunakan tangan kanan dan tangan kirinya memegang tangan kiri korban.

Setelah itu, pelaku mengancam korban untuk tidak teriak sembari menyuruh Astrid duduk di kursi, kemudian ia mengambil tali pelastik yang kemudian digunakannya untuk mengingat tangan Astrid, kemudian mengingat kaki Astrid menggunakan kabel listrik berwarna hitam.

“Setelah diikat korban sempat diititipkan ke salah satu rumah saksi, kepada saksi korban ia tahan karena orangtuanya memiliki hutang, kemudian oleh saksi korban diminta dibawa ke kamar belakang,” terang Kapolres.

Korban dititipkan karena pelaku akan mengantar penumpang, sekitar pukul 00.00 WIB, kemudian pelaku menjemput korban lagi, saat akan masuk ke rumah pelaku, korban sempat berteriak minta tolong. Teriakan korban tersebut membuat pelaku panik hingga akhirnya mencekik korban hingga korban meninggal dunia.

Setelah itu pelaku sempat makan dan minum kopi, kemudian sekitar pukul 02.00 WIB Sabtu (9/11) pelaku memastikan bahwa korban telah meninggal hingga akhirnya melepaskan seluruh pakaian hingga perhiasan korban. Setelah itu bagian kepala korban dibungkus plastik hitam selanjutnya korban dimasukkan ke dalam karung dengan posisi meringkuk kemudian mengikatnya menggunakan tali plastik berwarna merah.

“Setelah itu, kemudian korban langsung dibawa ke Jembatan Sungai Air Merah tempat korban dibuang,” paparnya.

Atas perbuatannya tersebut, pelaku akan dijerat dengan undang-undang perlindungan anak serta sejumlah pasal lainnya salah satu pasal 338 KUHP tentang tindak pidana pembunuhan.

Disisi lain, berdasarkan pengakuan Yo yang pertama kali ditampilkan jajaran Polres Rejang Lebong, ia nekat membunuh korban karena ingin mengambil motornya. Kemudian ia melepas seluruh baju Astrid bukan karena ingin mencabuli korban yang sudah meninggal namun takut ada sidik jarinya yang menempal di tubuh korban. “Rencananya uang hasil penjualan motor korban tersebut akan saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” aku pelaku.(251)



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*