Beli 234 Unit Airbus, Lion Air Bukukan Dua Rekor Dunia Finalisasi

Disepakati di Manado
lionPARIS – Lion Air, maskapai swasta terbesar di Indonesia, kembali memecahkan rekor dunia pembelian pesawat. Kali ini dari Airbus sebanyak 234 unit, dan untuk pertama kalinya dilakukan di Palais de l”Elysee, Istana Presiden Perancis.

Penandatangan pembelian dilakukan Presiden Lion Air Rusdi Kirana dan CEO Airbus Fabrice Bregier, disaksikan Presiden Perancis Francois Gerard Georges Nicolas Hollande dan Dubes Indonesia untuk Perancis, Monaco dan Andorra Rezlan Ishar Jenie, di Istana Elysee, Paris, Senin (18/3) siang (tengah malam WIB).

Hadir para menteri dan pejabat tinggi Perancis, para eksekutif Airbus, dan sekira 1.500 undangan yang memadati ruang Istana Elysee. Ini kali pertama penandatangan pembelian pesawat oleh perusahaan swasta dilakukan di Istana Presiden Perancis. Sebelumnya hanya penandatanganan pembelian pesawat (militer atau sipil) oleh pemerintah yang dilakukan di Istana Elysee.

Finalisasi kesepakatan pembelian dilakukan di Manado, Senin (12/) lalu. Executive Vice President Airbus Asia Jean Francois Laval dan Sales Contract Dirrector Airbus Guillaume Mille melakukan pertemuan khusus dengan Rusdi Kirana di Hotel Quality Manado. Pertemuan Jean, Guillaume dan Rusdi dijadwalkan di Singapura, pindah ke Jakarta, dan akhirnya dilakukan di Manado. Setelah melakukan finalisasi kesekapatan di Quality Hotel, dilanjutkan dengan kesepakatan akhir pada pertemuan di Lion Plaza and Hotel Manado, Senin siang.

Pada 18 Oktober 2011, Lion Air menandatangani pembelian 230 pesawat Boeing 737 900ER senilai 21,3 miliar dolar Amerika di Bali. Presiden Barrack Obama yang sedang menghadiri KTT APEC menyaksikan langsung penandatanganan pembelian pesawat yang jumlah dan nilainya memecahkan rekor pembelian di Boeing dan dunia.

Rekor itu dipecahkan oleh Lion Air sendiri. Sebanyak 234 pesawat senilai 24 miliar dolar Amerika dibeli dari Airbus, Senin (18/3).

“Syukur tak terhingga, saya berdiri di sini, di hadapan Yang Mulia Presiden Perancis, Dubes Indonesia untuk Perancis, para eksekutif Airbus dan undangan yang terhormat, hari ini Lion Air menulis tinta emas dalam sejarah penerbangan Indonesia, bahkan dunia,” kata Rusdi Kirana pada pidatonya.

Ayah tiga anak yang hidup sederhana itu membeberkan perkembangan ekonomi Indonesia, Asia Pasifik, tren pertumbuhan penumpang pesawat di Indonesia dan Asia Pasifik. “Pertumbuhan penumpang pesawat di Indonesia rata-rata di atas 15% per tahun, tertinggi di dunia,” katanya.

Tampil mengenakan jas hitam berdasi merah, Rusdi menyebut sejumlah indikator keberhasilan Indonesia sebagai kekuatan baru ekonomi dunia. “Terima kasih kepada Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan jajaran pemerintah dari pusat hingga daerah-daerah yang telah membawa kemajuan ekonomi,” tuturnya. “Kami bangga sebagai maskapai penerbangan swasta turut berkontribusi membawa kemajuan bangsa dan ikut mengharumkan nama Indonesia di mata dunia,” katanya.

“Ini adalah kontrak yang luar biasa,” kata Presiden Francois Hallande. “Kontrak ini sangat berarti bagi Airbus, Perancis, Lion Air, Indonesia dan industri penerbangan dunia,” katanya.

Tampil dengan kemeja putih celana hitam dibalut jas hitam dan dasi hitam, Hollande memuji perkembangan ekonomi Indonesia dan pertumbuhan Lion Air. “Indonesia negara penting di G20, dan bertumbuh pesat perekonomiannya,” katanya.

CEO Airbus Frabrice Bregier menyambut gembira kontrak pembelian dengan Lion Air. “Kerjasama yang menguntungkan untuk kedua pihak untuk jangka panjang,” katanya.

Airbus merupakan perusahaan milik bersama Jerman, Perancis, Inggris dan Spanyol. Tahun lalu AirAsia membeli 100 unit A320 senilai 9,4 miliar dolar. Turkish Airlines menyatakan pembelian 117 unit A320 dan A320neo senilai 9,3 miliar dolar Amerika untuk pengiriman 2015-2020.

Kali ini, maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air mencatat rekor baru pembelian pesawat di Airbus, sebanyak 234 unit senilai 24 miliar dolar Amerika. Rekor ini lebih tinggi atas pembelian 50 unit Boeing 777-300LR oleh Emirates senilai 18 miliar dolar Amerika. Juga mengalahkan rekor yang dibuat Lion Air sendiri, yakni pembelian 230 unit B737 900ER senilai 21,7 miliar dolar Amerika.

Lion Air akan menerima pesawat A320neo dan A321neo mulai Juli 2013.
Sama halnya saat membeli pesawat di Boeing, pembiayaan pembelian pesawat di Airbus ini semuanya dibiayai perbankan dan lembaga keuangan internasional. US Exim Bank yang menjadi pemimpin konsorsium pembiayaan bagi Lion Air untuk pembelian pesawat dari Boeing. Sementara untuk pembelian pesawat dari Airbus, konsorsium pembiayaan dipimpin BNP Paribas, Perancis.

“Sumber pembiayaan kami semua dari luar negeri. Sama sekali tidak menggunakan dana dan pembiayaan dari dalam negeri,” kata Rusdi.

Awal bulan ini US Exim memberi pinjaman 1,1 miliar dolar Amerika (sekira Rp10,5 triliun)  kepada Lion Air untuk pembiayaan pembelian pesawat dari Boeing. Dana itu merupakan foreign dirrect invesment (FDI) ke Indonesia. Operasional atas pembelian pesawat dengan dana luar negeri itu membuka lapangan kerja dan dan nilai tambah lainnya bagi Indonesia.

Dijadwalkan, Lion Air mulai mengoperasikan Malindo Air yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia, akhir bulan ini. Sedang dijajaki pembukaan maskapai penerbangan di Thailand dan Australia. “Kemana pun kami pergi, selalu membawa bendera Merah Putih,” kata Rusdi.(Suhendro Boroma/jpnn)