Belasan Hektar Sawah Terancam Kekeringan

Ary, hamparan sawah yang terancam kekeringan (1)
ARY/Bengkulu Ekspress
Mustofa saat menunjukkan hamparan persawahan yang memiliki luas sekitar 15 hektar yang terancam kekeringan lantaran sumber airnya dijadikan sumber air dalam perogram penyediaan air minum bagi masyarakat.

CURUP, Bengkulu Ekspress – Belasan hektar sawah di kawasan Desa Seguring Kecamatan Curup Utara terancam mengalami kekeringan. Hal tersebut dikarenakan sumber mata air yang selama ini mengairi aliran persawahan tersebut digunakan untuk sumber program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).

Kekhawatiran terjadinya kekeringan di kawasan persawahan tersebut, seperti disampaikan Bahru Mustofa (50) warga Desa Kota Pagu Kecamatan Curup Utara yang memiliki sawah dikawasan yang terancam mengalami kekeringan.

Bahkan atas adanya pembangunan sumber air untuk program Pansimas tersebut, Mustofa mengaku pihaknya sudah menemui Kades untuk mencari solusi terbaik bahkan ia mengaku, ia bersama sejumlah warga lainnya baik dari Desa Kota Pagu maupun Desa Seguring membuat pernyataan keberatan atas pembangunan program Pansimas disumber mata air yang mengairi sawah mereka.

“Kami bukan menolak adanya pembangunan, namun kami minta dikaji ulang, karena sawah-sawah kami yang terancam kekeringan,” aku Mustofa.

Dijelaskan Mustofa, program Pamsimas yang mengambil air dari sumber mata air persawahan mereka adalah Pamsimas untuk Desa Kota Pagu meskipun lokasi pengambilan airnya ada di Desa Seguring. Selain itu ia mengaku sebagian besar yang memiliki persawahan dikawasan tersebut adalah warga Kota Pagu.

“Yang kami pertanyakan kenapa harus mengambil sumber air dari lokasi tersebut, padahal masih banyak sumber air,” paparnya.

Terkait dengan proses pembangunan sendiri, Mustofa mengaku saat ini sudah selesai dilakukan pembangunan bak penampungan air. Namun belum dilakukan pemasangan pipa untuk mengalirkan ke desa mereka. Bila sudah dialirkan ke pipa, maka menurutnya kemungkinan besar kekeringan akan terjadi dan persawahan mereka tidak bisa ditanami lagi.

“Kalau sekarang belum ada kekeringan, karena memang pipanya belum dipasang, kalau pipanya sudah dipasang, pasti akan kekeringan,” sampai Mustofa.

Sementara itu, terkait dengan protes atau keberatan yang baru mereka sampaikan baru-baru ini. Mustofa mengaku selama ini mereka tidak mengetahui bahwa ada program pembangunan jaringan air bersih yang mengambil sumber air dari sumber air yang mengaliri sawah mereka. Mereka baru tahu setelah adanya pembangunan bak penambangunan tersebut.



“Kami baru menyampaikan keberatan, karena sebelumnya tidak ada sosialisasi terkait dengan pembangunan itu, kami baru tahu setelah selesai dibangun bak penampungan,” aku Mustofa.

Atas kejadian tersebut, Mustofa bersama sejumlah warga lainnya yang memiliki persawahan tersebut untuk memberikan solusi yang terbaik sehingga pembangunan didesa mereka masih tetap berjalan dan sawah mereka masih bisa digarap.

Di sisi lain, Kepala Desa Kota Pagu Arian Efendi belum bisa dikonfirmasi Bengkulu Ekspress, saat dikonfirmasi melalui nomor HP miliknya sang Kades tidak memberikan jawaban baik melalui telepon maupun melalui pesan singkat (SMS).(251)