Belajar di Rumah, Penjualan Seragam Sekolah di Pasar Panorama Menurun

FOTO KLARA/BE – Arman, penjual seragam sekolah di Pasar Panorama, Kota Bengkulu.

BENGKULU, bengkuluekspress,com – Pemberlakuan sistem daring berdampak terhadap penjualan seragam sekolah di Pasar Panorama Kota Bengkulu.

Sarbaini (56), salah satu pedagang seragam sekolah di Pasar Panorama mengaku selama pandemi ini, penjualan seragam mengalami penurunan tajam sampai 90 persen. Hal itu bahkan sudah terasa sejak awal Maret lalu.

“Omzet penjualan dimasa Covid-19 ini sangat menurun secara drastis, padahal kalau memasuki tahun ajaran baru sebelum Corona, bisa terjual 40 stel baju seragam sekolah mulai dari SD hingga SMA, tapi untuk sekarang berbulan-bulan tidak laku sama sekali,” tutur Sarbaini, Senin (18/11/).

Menurut Sarbaini, penurunan penjualan bukan hanya disebabkan orang takut berbelanja ke pasar karena pandemi sekarang. Tetapi lebih disebabkan aktivitas belajar mengajar masih dilakukan di rumah, selain itu siswa juga tidak diharuskan menggunakan seragam sekolah.

“Alasan pada umumnya sebenarnya karena proses belajar mengajar melalui sistem online, sehingga siswa tidak diwajibkan memakai pakaian seragam sekolah,” ujarnya.

FOTO KLARA/BE – Sarbaini, penjual seragam sekolah di Pasar Panorama, Kota Bengkulu.

Sarbaini mengatakan, sekarang pendapatannya hanya dari orang-orang yang membesarkan dan mengecilkan pakaian, mengganti risleting, serta membetulkan pakaian yang sobek, bisa dapat kisaran Rp 50-60 ribu. Walapun terkadang penghasilannya sehari  tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sarbaini berharap pandemi Covid-19 segera berakhir dan aktivitas sekolah kembali berlangsung normal agar perekonomian juga kembali normal lagi.

Nasib serupa juga dirasakan pedagang lain, Arman Mariadi (25). Menurut pengelola toko seragam sekolah Serasi Pasar Panorma ini, pihaknya  mengalami penurunan penjualan yang sangat jauh dari sebelum pandemi ini hingga 85 persen.

“Terasa sekali dampak pandemi ini, apalagi semenjak sekolah diliburkan cuma satu dua orang yang membeli baju seragam sekolah. Sebelum pandemi setiap tahun ajaran baru selalu memproduksi sebanyak 80 stel seragam sekolah  karena yang terjual  biasanya hampir 60 stel dan yang paling banyak terjual biasanya seragam SD,” tutur Arman Mariadi, Senin (18/11/).

Padahal, kata dia, pada saat jelang pergantian tahun ajaran baru, perlengakapan seragam sekolah biasanya banyak di cari, tetapi baru kali ini karena sepinya pembeli berhenti sementara untuk memproduksi  seragam sekolah lagi, karena pada awal-awal pandemi sudah  mengalami penurunan omzet.

“Mungkin kami akan mulai memproduksi seragam sekolah lagi waktu anak sekolah mulai kembali belajar di sekolah. Saya berharap kegiatan belajar mengajar dapat kembali dimulai  karena siswa akan memerlukan seragam sekolah lagi,” tutupnya.(mg6)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*