BBM Subsidi Cukup Hingga Akhir Tahun

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Meskipun antrian panjang kendaraan bermotor khususnya roda empat yang akan mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar dan Premium, masih saja terjadi di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Bengkulu dan sekitarnya. Namun, Pertamina mengklaim BBM bersubsidi di Bengkulu masih cukup hingga akhir tahun.

Region Manager Communication & CSR PT Pertamina Sumatera Bagian Selatan, Rifky Rakhman Yusuf mengaku, jika kuota BBM bersubsidi jenis solar untuk Provinsi Bengkulu masih mencukupi. Bahkan kuota solar di Provinsi Bengkulu pada 2018 ini mencapai 96.886 Kilo Liter (KL) dimana hingga Oktober lalu, sudah terealisasi sebanyak 80.503 KL dari kuota per Oktober sebanyak 80.694 KL.

“Dari angka tersebut berarti kuota solar bersubsidi masih ada hingga akhir tahun,” kata Rifky, kemarin (11/11).

Selain solar, BBM bersubsidi jenis premium juga diklaim stoknya masih mencukupi hingga akhir tahun. Bahkan total kuota premium untuk Provinsi Bengkulu pada 2018 ini sebanyak 101.930 KL. Dimana hingga Oktober 2018, realisasinya telah mencapai 71.301 KL, dari kuota premium per Oktober sebanyak 84.895 KL.

“Kita meyakini kuota yang diberikan itu mencukupi hingga akhir tahun ini. Tapi kita harapkan para konsumen untuk mulai beralih ke BBM non subsidi, terutama masyarakat yang ekonominya sudah mampu, agar pendistribusian BBM bersubsidi tepat sasaran,” imbuh Rifky.

Meski kuota BBM bersubsidi diperkirakan aman hingga akhir tahun, akan tetapi kuota BBM jenis solar diakuinya saat ini semakin menipis. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pertamina melakukan pendistribusian BBM bersubsidi ini, dilakukan secara bertahap sehingga tidak menimbulkan kelangkaan solar di Bengkulu.

“Kami menyalurkan solar secara bertahap, bisa saja kami keluarkan semua, tapi nanti terjadi kelangkaan, makanya kami keluarkan sesuai dengan perhitungan kebutuhan konsumen untuk tiap bulannya,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu, Jonaidi mengaku, berdasarkan hasil koordinasi antara legislatif dan Pertamina, ternyata yang disubsidi Pemerintah hanya BBM jenis premium. Sedangkan BBM jenis solar, disubsidi oleh Pertamina bahkan kuotanya sudah habis sejak September lalu.

“Wajar kalau solar habis karena subsidi yang diberikan pihak Pertamina sehingga pendistribusiannya ke setiap SPBU dibatasi. Sedangkan disisi lain, yang menjadi persoalan, BBM bersubsidi diduga telah salah peruntukannya sehingga perlu dilakukan pemantauan,” terang Jonaidi.

Beberapa hal yang dapat dilakukan agar peruntukan BBM menjadi tepat sasaran yaitu dengan memberlakukan kebijakan khusus, seperti kendaraan khusus truck harus memiliki izin Badan Usaha. Dengan adanya pemberlakuan kebijakan khusus tersebut, sehingga tidak akan ada lagi yang melakukan antrian BBM bersubsidi di setiap SPBU, atas nama individu, melainkan atas nama Badan Usaha yang wajib menggunakan BBM non subsidi.

“Diharapkan masyarakat mentaati aturan tersebut. Begitu juga kepada pihak SPBU setempat, agar berpatokan pada aturan dalam menjual BBM bersubsidinya,” tutupnya.(999)