Bayi Malang Lahir Tanpa Saluran Buang Air Kecil

Buah hati pasangan Airul Lubis (41) dan Asnayati (39) warga Jalan Telaga 4 Dewa RT 18 RW 4 keluarahan Pagar Dewa ini tergolek lemas di ruang Instalasi Gawat Daurat (IDG) RSUD M Yunus Bengkulu, kemarin. Bayi yang baru berumur 3 hari ini terpaksa dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, karena tidak memiliki saluran buang air kecil.

DENDI SUPRIADI, KOTA BENGKULU

Ami, anak ke-3 dari pasangan Arul Lubis dan Asnayati ini termasuk bayi yang bernasib malang. Ia tidak dapat buang air kecil seperti bayi pada umumnya. Saat ditemui di ruang IGD RSUD M Yunus kemarin, kondisi bayi perempuan ini semakin lemas bahkan ia terlihat terbaring dengan kaki diinfus.
Asnayati, ibu bayi mengungkapkan anak bungsunya itu lahir Senin (1/10) sekitar pukul 19.00 WIB di RSUD M Yunus Bengkulu dengan nornal dan dalam keadaan sehat. Mendapati bayinya tidak ada masalah, pada malam ini juga sekitar pukul 22.00 WIB ia dan suaminya pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya di Jalan Telaga Dewa 4 kelurahan Pagar Dewa kota Bengkulu.

Setelah pulang, keanehan pun belum terlihat bahkan bayi dengan berat 3,2 kg dan panjang 48 CM tersebut terlihat sehat dan mulai menyusu. Namun keseokan hari ini, ibunya Asnayati pun curiga karena bayinya hanya buang air besar dan sama sekali tidak buang air kecil.

“Pada awalnya biasa-biasa saja, karena dilihat dari luar tidak ada tanda-tanda kelainan saluran buang air kecil,” ujar Asnayati, kemarin.
Namun beberapa jam kemudian, kondisi bayinya pun berubah yakni menangis tanpa henti dan tidak mau lagi menyusu pada ibunya. Mendapati hal tersebut ia pun mendatangkan bidan untuk mengecek apa yang tengah dialami putrinya tersebut. Betapa ia dan keluarganya terkejut jika mendapat informasi bahwa anaknya memang tidak bisa buang air kecil karena kelainan saluran buang air kecil.

“Kami terkejut karena dilihat dari luar tidak ada ubahnya seperti anak prempuan normal, tapi kenyataanya dia punya kelainan,” ujarnya.
Setelah mendapati informasi tersebut, Rabu sekitar pukul 14.00 WIB kemarin, keluarganya memutuskan untuk membawa bayi tersebut ke RSUD M Yunus dengan harapan dapat pertolongan dari tim medis.

Namun setelah menjalani pemeriksaan, dokter yang menagani anaknya mengatakan tidak ada jalan lain untuk kesembuhan anaknya, kecuali harus dioperasi. Untuk itu, ia mengaku tidak memiliki biaya untuk melakukan operasi tersebut, karena suami hanya seorang petani kopi di Curup yang penghasilannya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan keluarnya.

“Kata dokter harus operasi, tapi kami tidak punya uang,” ungkapnya.
Ia pun pasrah sembari berharap adanya bantuan dari kaum dermawan maupun dari pemerintah untuk membantu kesembuhan putrinya itu. Karena ia betul-betul memiliki biaya operasi yang mencapai puluhan juta tersebut.
“Mohon bagi dermawan dimanapun berada, mohon kiranya membantu anak untuk ongkos operasi ini,” sampainya dengan mata berbinar.(**)