Bantuan Nelayan Salah Sasaran

PONDOK KELAPA, BE – Ratusan nelayan tradisional di Bengkulu Tengah (Benteng) menjerit. Pasalnya program bantuan kapal dan alat tangkap dari pemerintah sejak 2012 lalu diduga salah sasaran.
salah seorang nelayan Pasar Pedati, Bambang menuturkan, banyak perlangkapan nelayan bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) hancur. Karena tidak dirawat oleh penerimahnya, kondisi ini terjadi karena pemerintah membagikan kapal dan alat tangkap lainya itu bukan kepada nelayan semestinya.
“Yang menerimah bukan nelayan, sehingga alat tidak terawat kemudian rusak. Kita nelayan harus membeli dengan penerima itu untuk mendapatkan perlengkapan yang ada,” ujar Bambang.
Bambang mengungkapkan, harusnya pemerintah melakukan pendataan secara akurat sehingga, warga penerimah bantuan alat tangkap ikan dan kapal benar-benar tepat sasaran. “Saya ada kapalnya, itu saya dapatkan bukan karena saya menerimah bantuan. Tetapi saya beli dari penerimah sebebab dia tidak menggunakan perlengkapan itu, daripada rusak makanya kita beli saja,” sebut nelayan di Danau Pancuran itu.
Menurut Bambang, rata-rata nelayan di Kecamatan Pondok Kelapa ini mengelami kekurangan alat tangkap ikan, sehingga setiap kali melayut tangkapan ikan yang didapat sangat sedikit. Karena ditengah laut pihaknya harus bersaing dengan kapal asing mengambil ikan dengan alat tangkap canggih, bahkan mampu mendeteksi keberadaan ikan.
“Kita membutuhkan jaring ikan bawal, supaya tangkapan ikan maksimal. Setidaknya setiap kapal membutuh 25 set alat tangkap agar hasilnya maksimal. Sedangkan sekarang kita hanya mempunyao lima jaring, tak jarang terkadang kita pulang tanpa hasil,” ungkapnya.
Sementara itu, Yakob (40) nelayan Pondok Kelapa lainnya menuturkan, bantuan alat tangkap ikan sangat dibutuhkan sebab alat tangkap yang ada saat ini. Selain minim juga sudah mengalami kerusakan. Sehingga tidak dapat digunakan secara maksimal oleh nelayan. “Jika ada bantuan mohon dibantu alat tangkap seperti jaring ikan bawal ini. Supaya hasilnya banyak sekali melayut kalau sekarang untuk dapat sepuluh kilo saja susah,” tuturnya. (320)