Banjir Bandang, 10 Ha Sawah Rusak

 SAWAH
CURUP, BE – Hujan deras yang melanda Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, Sabtu (16/4) malam, mengakibatkan 10 Ha sawah di Desa Batu Panco Kecamatan Curup Utara, Rejang Lebong, rusak dan terancam gagal panen.

Selain merusak tanaman padi para petani, banjir bandang tersebut telah menyeret 1 ekor kerbau milik warga. “Air ini kiriman dari Kali Musi, air mulai datang sekitar pukul 22.00 WIB. Air datang secara mendadak dan sangat cepat, selain merusak padi juga menyeret 1 ekor induk kerbau,” ujar Ketua Poktan Tanjung Indah, Desa Batu Panco, Hardi Junaidi (40), Minggu (17/4).

Hardi menceritakan, saat kejadian ia sedang tidur di pondok di sawah, sekitar pukul 22.00 WIB. Air mulai naik saat pukul 23.00 WIB, langsung merendam sawah setinggi 1,5 m. “Banjir ini selain berupa lumpur juga terdapat potongan kayu, serta balok sisa penebangan hutan. Sehingga sawah yang ditanami padi yang tinggal menunggu panen ini roboh semua,” ungkapnya lirih.

Hardi menambahkan, tanaman padi petani milik sejumlah warga Batu Panco (lihat grafis). “Atas kejadian ini kami mengalami kerugian mencapai Rp 80 juta akibat rusaknya tanaman padi, serta matinya satu ekor indukan kerbau yang ditaksir seharga Rp20 juta,” jelasnya.

Tarmizi (37), seorang petani yang menjadi korban kerusakan sawah, mengharapkan Pemkab Rejanglebong dan dinas terkait lainnya dapat memberikan bantuan, supaya mereka bisa meneruskan usaha bercocok tanam tanaman padi. Apalagi kebanyakan petani adalah petani penggarap bukan pemilik lahan.

“Saya harap pihak pemerintah bisa memberi bantuan, karena kami bisa berhenti bercocok tanam. Hasil dari panen ini akan kami jadikan bibit kembali, namun jika seperti ini kami merasa kesulitan,” ungkapnya.

Selain meminta bantuan atas kerusakan tanaman padi, para petani juga mengharapkan adanya pembangunan bronjong atau penahan tebing untuk sungai yang tepat disebelah sawah warga.

Melihat kejadian banjir bandang yang merusak sawah warga ini bukan terjadi pertama kalinya, sehingga para petani takut banjir tersebut datang kembali merusak persawahan warga.

“Sekitar 15 tahun yang lalu juga pernah terjadi seperti ini, illegal logging menjadi penyebabnya banjir ini. Sehingga kami harapkan pemerintah dapat membangun bronjong di tepi sungai dekat sawah ini,” jelasnya.

Persawahan yang berada di pinggir sungai ini sangat rawan terkena banjir, karena posisi sawah yang terlalu rendah dan datar. Selain sibuk untuk memperbaiki tanaman padi, para petani juga bekerja keras menyingkirkan kayu-kayu yang berserakan di persawahan tersebut.

“Kayu-kayu ini sangat besar-besar, sudah pasti berasal dari hutan. Kami sulit untuk menyingkirkannya, mungkin jika kering nanti akan kami bakar saja,” tuturnya.

Camat Curup Utara, Zulfan Effendi, meninjau langsung ke lokasi persawahan yang terkena banjir. Zulfan melihat kondisi sawah para warga, serta berdialog dengan para petani untuk mengetahui secara jelas bagaimana peristiwa banjir tersebut terjadi.

Puluhan Hektar Sawah Gagal Panen

Sementara itu, meluapnya air Sungai Tebat Hulu yang mengalir Desa Selasih Kecamatan Kaur Selatan, Kaur, beberapa waktu lalu, mengakibatkan puluhan hektar tanaman padi di hamparan sawah Atar Desa Selasih Kaur Selatan milik terendam banjir dan mengalami puso atau gagal panen.

“Gara-gara banjir kemarin padi kami tidak bisa dipanen lagi, karena tanaman padi banyak membusuk sebelum masa panin,” ujar Ahamad Bainuri (36), salah satu pemilik sawah ataran Desa Selasih, Minggu (17/4).

Pasca banjir yang merendam daerah tersebut sejak beberapa pekan lalu, puluhan hektar lebih padi milik warga gagal panen dan sama sekali tidak bisa digunakan lagi. Meskipun masih tersisa beberapa padi yang tumbuh, namun sangat disayangkan dan ini merupakan kerugian besar yang menimpa warga setempat.

“Padahal padi yang terendam air ini tinggal beberapa hari lalu panen. Tapi karena bajir buah padi jadi tidak bersih,” ujarnya.

Senada juga dialami Mansa (45), petani sekitar. Ia mengaku banjir yang terjadi kali ini merupakan yang paling parah. Sebab banjir kali ini telah makibatkan padi sawahnya mengalami gagal panen. Akibatnya ia harus mengalami kerugian hingga puluhan juta.

“Biasanya sawah satu hektar itu hasil panennya sekitar 150 kaleng beras, tapi karena banjir dan sebagian gagal panen ini sekarang cuma bisa dapat sekitar 60 kaleng saja,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Selasih, Mursi mengakui, jika banyak sawah di desa selasih gagal panen akibat banjir beberapa waktu lalu. Mursi juga menyampaikan pihaknya telah melaporkan data tanaman padi sawah yang terendam banjir tersebut ke Dinas Pertanian Kaur.

”Kami sudah laporkan tanaman padi petani yang gagal panen ke Dinas Pertanian untuk penggantian bibit tanaman. Juga masalah banjir sungai tebat yang menyebabkan banjir itu sudah kita sampaikan,” jelas Kades.(618/722)