Bangunan di Pantai Dibongkar

Ketua Umum Perkumpulan Pedagang Pantai Panjang Bengkulu (P4B), M Sasmito AH SEBENGKULU, BE – Ketua Umum Perkumpulan Pedagang Pantai Panjang Bengkulu (P4B), M Sasmito AH SE menyatakan, embongkaran terhadap sejumlah bangunan liar yang terdapat di Pantai Panjang akan dilakukan secara bertahap. Pembongkaran itu, kata dia, dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan yang terbangun antara P4B dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bengkulu yang dilaksanakan baru-baru ini.
“Target dari Pemda Kota dalam 4 tahun ke depan Pantai Panjang bebas dari bangunan liar. Namun sebelumnya, Pemda Kota akan menyediakan tempat alternatif berupa bangunan permanen yang terkonsentrasi di beberapa titik seperti yang ada di depan Kawasan Pasir Putih Resort. Jadi perlahan, pertama dari ujung paling timur, kemudian terus ke barat sampai ke Tapak Padri,” katanya kepada Bengkulu Ekspress, kemarin.
Bangunan permanen tersebut, lanjutnya, tersusun dari beberapa auning yang disediakan untuk para pedagang yang bangunannya akan dibongkar. Dijelaskan Sasmito, setiap pedagang akan diberikan satu auning yang proses pembagiannya akan dilakukan sesuai dengan letak bangunan liar milik para pedagang yang lama. “Sestrategis apa tempat berjualannya yang lama, sestrategis itulah dia akan mendapatkan auning di bangunan yang akan di bangun Pemda Kota. Dan hal ini sudah berlaku ketika pembagian auning yang ada di depan Kawasan Pasir Putih Resort,” tukasnya.
Disinggung mengenai kontribusi PAD (Pedapatan Asli Daerah) yang akan disetorkan oleh pihak P4B kepada Pemda Kota, Sasmito menerangkan kontribusi tersebut berupa pembayaran sewa auning sebesar Rp 1 juta pertahun. “Pembayaran ini dilakukan dengan cara mencicil. Dan semua pedagang di Pantai Panjang tidak merasa keberatan dengan jumlah ini,” paparnya.
Sementara itu, pelaku usaha pariwisata, Gusnan Mulyadi SE, mendukung langkah pembongkaran bangunan liar yang ada di Pantai Panjang. Katanya, sudah selayaknya Pantai Panjang sebagai kawasan wisata andalan Kota Bengkulu dapat terkesan rapi, indah, bersih dan aman. “Bangunan-bangunan liar yang tidak tertata rapi ini jelas mengurangi kesan kerapian, keindahan dan jelas juga mengurangi kebersihan di kawasan pantai,” urainya.
Dijelaskan pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Indonesia (Asita) Bengkulu ini, kerapian, keindahan dan kebersihan merupakan beberapa syarat untuk menjadikan sebuah kawasan wisata menarik. “Sudah selayaknya bangunan-bangunan liar yang ada di kawasan itu dipindahkan ketempat alternatif yang sudah disediakan Pemda Kota. Bangunan yang muncul di sembarang tempat dan asal bangun, terutama bangunan yang menghalangi pemandangan ke arah pantai, membuat kawasan Pantai Panjang menjadi kawasan yang sangat tidak menarik untuk dijual sebagai objek wisata,” tukasnya.
Karenanya pria yang memiliki ciri khas dengan kepala plontosnya ini menyarankan agar Pemda Kota sebagai pengelola dapat menertibkan seluruh bangunan yang menghalangi pemandangan ke arah pantai. “Kalau penataan baik, wisatawan yang berkunjung banyak, yakin lah penghasilan bagi Pemda Kota dari sektor ini akan sangat menjanjikan,” imbuhnya.
Adapun mengenai upaya Pemda Kota untuk menyerahkan pengelolaan Pantai Panjang kepada swasta, menurut Gusnan hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Hanya saja, kata dia, kalau dengan pengelolaan kepada swasta itu membuat Pantai Panjang harus menggunakan biaya masuk seperti Pantai Ancol Jakarta, maka belum tepat.
“Kalau pengunjung ditarik biaya akan mengurangi pengunjung. Namun pengelolaan kepada swasta itu hanya untuk penyediaan fasilitas hiburan yang menarik disana agar pengunjung dari kalangan tidak mampu bisa tetap menikmati keindahan pantai,” pungkasnya. (009)