Bangkit Setelah Rumah Terbakar

Melihat Geliat Kerja Korban Kebakaran

IMG_1627Sejumlah korban kebakaran kembali memulai usaha baru untuk tetap menyambung hidup, setelah kebakaran hebat yang terjadi Kamis  (27/6) lalu.  Ango (72) salah satunya, kembali memulai usaha jual beli bensin eceran dan gas 3 kg meski dengan menggunakan seng dan kayu sisa bangunan yang terbakar sebagai bangunan tempat usaha.  Simak laporannya.
==================================================================
OKTA FIRDAWAN,

Kepala Siring
==================================================================
MINGGU pagi (7/7), Ango (72) tampak duduk melamun di pinggir puing-puing rumah yang terbakar di Jalan Zainal Abidin
Kelurahan Kepala Siring Kecamatan Curup Tengah. Ditemani cucunya Hadi (13) siswa kelas 2 SMP Corolus Kota Bengkulu yang asik bermain, Ango tampak menunggui sebuah bangunan mini berukuran berukuran 2 x 2 meter, berdinding seng bekas terbakar, serta kayu sisa-sisa bangunan persis di depan rumah miliknya yang terbakar.
Bangunan mini yang telah berdiri 3 hari itu, menjadi satu-satunya
tempat Ango dan suami Fatdorichan untuk memulai usaha kembali,
dengan berdagang bensin eceran dan tabung gas 3 kg. Agar tetap bisa mendapatkan uang untuk membeli berbagai kebutuhan hidup dan membangun kembali bangunan sederhana yang layak untuk tinggal.
Dihampiri Bengkulu Ekspress, Fatdorichan, suami dari sang nenek
langsung menyapa ramah. Kakek berumur 74 tahun itu kemudian
bercerita soal rumah semi permanen miliknya yang telah terbakar. Rumah dengan mayoritas berbahan kayu, berukuran 4,5 x 20 milik
Fatdorichan sudah ludes terbakar dalam peristiwa kebakaran hebat yang terjadi Kamis malam (27/05) lalu.
Saat kebakaran terjadi, Fatdorichan mengaku hanya bisa menyelamatkan sebuah mobil angkutan kota berwarna biru, beserta surat tanah dan surat mobil.  “Selain Angkot dan surat tanah dan mobil, semuanya sudah ludes terbakar tidak ada sisa lagi,” tutur pria keturunan Cina itu.
Dengan wajah berlinang air mata, Fatdorichan mengaku nyaris saja jadi korban disaat api sedang membakar semua bangunan rumah
miliknya. “Saat kebaran kami tidak tau, saya sedang tidur  sedangkan istri saya sedang di kamar mandi. Beruntung ada anak dan cucu saya yang kebetulan berlibur di rumah kami, memberitahukan kebakaran itu sehingga kami bergegas keluar. Kalau tidak, mungkin kami sudah terbakar berdua istri,” kenangnya.
Fatdorichan juga menceritakan, bagaimana puluhan warga masuk ke dalam rumah miliknya mencoba membantu mengeluarkan harta
benda di dalam rumah yang dihuninya sejak tahun 2004 tersebut. “Saya hanya berpikir menyelamatkan mobil yang menjadi sumber penghasilan, serta surat rumah dan surat mobil. Sisa barang  berharga yang lain entah kemana, memang ada yang bantu mengeluarkan namun hingga kini barang tersebut tidak saya temukan. Bagi yang masih punya hati nurani membantu di tinggalkannya barang-barang kami di depan jalan, sisanya saya lihat dijarah,” ungkap Fatdorichan.
Kenangan saat peristiwa kebakaran terjadi sudah berlalu, bagi Fatdorichan dan Ango semua harta benda yang terbakar dan sisanya
dijarah merupakan titipan Tuhan. “Semua itu titipan Ilahi, dan sudah
diambil yang punya kuasanya. Kalau kita pikirkna terus bisa-bisa stress dan gila,” kata Fatdorichan lagi.
Fatdorichan dan Ango kini ditampung di rumah saudaranya untuk
sementara waktu. Namun dipikiran kedua kakek nenek itu, rasa simpati dan iba manusia ada batasnya. Sejak tidak hati yang lalu
Fatdorichan telah membangun sebuah bangunan berukuran 2 x 2 meter puing-puing bangunan rumah miliknya yang terbakar.
Menggunakan dinding seng bekas terbakar, serta kayu sisa bangunan rumah miliknya Fatdorichan kembali memulai usaha jual beli bensin kios serta gas ukuran 3 kg yang telah 4 tahun digelutinya.  “Mobil angkutan kota saya ini sudah tua, mana bisa lagi untuk dijadikan alat angkutan. Jadi saya gunakan untuk mengantri di SPBU, untuk dijual lagi,” terangnya.
Fatdorichan berharap, melalui usaha ini, ia dan sang istri bisa tetap
mencari uang untuk kebutuhan membeli makanan dan pakaian. “Kalau saat ini untuk pakaian kami dibantu oleh teman, kerabat. Bantuan dari Bupati dan Baznas kami gunakan untuk usaha, mudah-mudahan bisa membuat lagi bangunan sederna agar tidak menumpang lagi di tempat saudara,” ujar kakek berkacamata itu bertekad.
Selain Fatdorichan, Hendra Bulai (58) juga menjadi salah satu korban kebakaran ditemui Bengkulu Ekspress, Minggu pagi (7/7)
tampak asik berbincang dengan korban lainnya Afrizal (54).
Hendra yang berprofesi sebagai pedagang Mie Pangsit itu hingga kini belum juga dapat memulai usahanya kembali karena tidak memiliki tempat usaha lagi. “Modal sudah habis, kini saya jadi pengangguran belum bisa memulai usaha karena semuanya terbakar,” ujarnya.
Kepada Bengkulu Ekspress Hendra dan Afrizal mengaku sedang asik berbincang soal rencana membangun bangunan untuk memulai usaha kembali.   “Kami masih bingung kalau pemerintah memperketat izin mendirikan bangunan. Kami maunya ada toleransi, bisa mendirikan bangunan sederhana asal bisa untuk usaha jualan lagi, kalau izin mahal dan susah kami bingung,” tutur Hendra.
Sesuai aturan sambung Afrizal, pembangunan harus dilakukan 15 meter dari as jalan, hal itu akan membuat sisa tanah miliknya yang
harus dibangun berkurang. “Kami bukan tidak mau mengikuti  aturan itu, namun keinginan kami biarlan kami buat bangunan sederhana dulu di tepi jalan untuk usaha, nanti kalau sudah bisa membangun kembali silakan saja bangunan yang sederhana itu dihancurkan tidak masalah,” ungkap Hendra. (**)