Balita Kena Gizi Buruk

ARY/Bengkulu Ekspress M Hanif (4) Balita yang didiagnosa menderita gizi buruk saat menjalani perawatan medis di ruang anak RSUD Curup.
ARY/Bengkulu Ekspress M Hanif (4) Balita yang didiagnosa menderita gizi buruk saat menjalani perawatan medis di ruang anak RSUD Curup.

CURUP, Bengkulu Ekspress – Kasus gizi buruk kembali ditemukan di Kabupaten Rejang Lebong. Kali ini seorang Balita berusia 4 tahun dari Desa Periang Kecamatan Sindang Beliti Ilir.

Balita malang yang terkena gizi buruk tersebut diketahui bernama Muhammad Hanif anak ketiga dari pasangan Kembang Rela (42) dan Surya, petani warga Desa Peringan Kecamatan SBI. Saat ini Hanif masih menjalani perawatan intensif di RSUD Curup untuk memulihkan kondisi tubuhnya.

Menurut keterangan sang ibu, Kembang Rela saat ditemui di RSUD Curup, diusianya yang sudah memasuki 4,5 tahun, berat badan Hanif hanya 10 Kg, padahal menurutnya sebelumnya berat Hanif pernah mencapai 13 Kg.

“Sebelumnya sempat 13 Kg, kemudian sakit-sakit hingga sekarang sekitar 10 Kg lagi,” terang Kembang Rela.

Kondisi Hanif yang terus memburuk tersebut, menurut sang ibu bermula dari mengikuti Posyandu di desanya sekitar 2 bulan lalu. Pasca mengikuti Posyandu badan Hanif tiba-tiba panas, awalnya ia mengira panas biasa yang merupakan efek dari Posyandu tersebut.

Setelah sebulan, kondisi Hanif tak kunjung membaik, kemudian Hanif dibawa ke bidan desa, kemudian oleh bidan, Hanif didiagnosa terkena penyakit Tipes, kemudian diberi resep obat tipes oleh bidan.

“Kami heran setelah minum obat, panasnya tak kunjung turun, tapi karena kami orang desa jadi tak tahu bagaimana,” terang Kembang Rela.

Kemudian karena tak kunjung membaik, pada Kamis (12/4) kemarin Hanif dibawa keluarganya ke dokter yang ada di Kota Lubuklinggau, kemudian oleh dokter, Hanif didiagnosa menderita gizi buruk, kemudian oleh dokter tersebut Hanif disarankan untuk langsung dibawa ke RSUD Curup untuk mendapat penangan medis.

Orang tua Hanif, bahkan sempat tak berani pergi ke RSUD Curup karena mereka tidak memiliki biaya untuk biaya pengobatan sang anak. Bahkan saat itu keluh kesah keduanya diutarakan kepada sang dokter yang ada di Lubuklinggau, sehingga sang dokter meyakinkan keduanya bahwa penanganan sang anak akan dibiayai pemerintah bahkan, biaya transportasi untuk mengantar ke RSUD Curup diberi sang dokter.

“Karena kami tidak punya uang kesini, sang dokter dengan sukarela mengasih kami ongkos ke sini,” papar Kembang Rela.

Kemudian, pada Jumat (13/4) sore, Hanif akhirnya dibawa keluarga ke RSUD Curup bermodal surat keterangan tidak mampu dari pemerintah desa. Setelah sampai di RSUD Curup Hanif langsung diperiksa dokter, Hanif didiagnosa menderita gizi buruk dengan berat badan hanya 10 Kg. Tentu saja berat badan tersebut tak sesuai dengan usia Hanif yang sudah menginjak 4,4 tahun.

Di sisi lain, berdasarkan pantauan Bengkulu Ekspress, kondisi tubuh Hanif sangat memprihatikan, dimana disekujur tubuhnya tak terlihat adanya daging, hanya tulang yang dibalut dengan kulit. Bahkan menurut sang ibu, kondisi tersebut membuat Hanif yang awalnya lincah menjadi tidak bisa berjalan, kalau tidak dipapah, karena kalo dibiarkan sendiri sudah dipastikan roboh.

Selain itu, Hanif memang berasal dari keluarga yang tidak mampu dan masih minim akan pengetahuan mengenai mekanisme pelayanan di RSUD Curup. Hal tersebut terlihat dari resep yang diberikan dokter yang tidak langsung mereka ambil di apotek RSUD Curup karena takut bayar, sedangkan orang tuanya tidak memiliki uang. (251)