Bahan Pengawet Jasad Firaun Ternyata dari Sumatera

200820_721377_barus_jalur_rempah_hlBARUS, sebuah kecamatan di Kabupten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara adalah titik penting peradaban masa lalu. Dari sinilah pengawet jasad Firaun didatangkan.

=======

Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network

=======

Para raja dan ratu Mesir Kuno meyakini rempah-rempah punya kekuatan magis untuk memberikan kecakapan dan wewangian seperti dewa-dewi.

Bahkan di kehidupan setelah kematian, rakyat Mesir Kuno juga percaya bahwa lada dapat menahan dewa kematian yang akan menggerogoti tubuh.

Ketika Firaun Ramses II meninggal pada 12 Juli 1224 SM, “para abdinya menjejali lubang hidung Sang Firaun dengan biji lada,” tutur Singgih Tri Sulistiyono, sejarawan dari Universitas Diponegoro, Semarang.

Penggunaan lada dimaksudkan untuk pengawetan mayat yang sudah merupakan tradisi bagi para Firaun di Mesir.

Di Tiongkok, para raja Dinasti Han mewajibkan siapa pun yang akan menghadapnya harus mengunyah cengkeh, agar nafas mereka wangi ketika bicara.

Nah, di manakah mereka mendapatkan rempah?

Barus!

Antropolog dari Universitas Indonesia, Rusmin Tumanggor menceritakan, pada zaman dahuluuuu…di Barus ada pelabuhan yang sangat terkenal di dunia.

Pelabuhan di pantai Barat Sumatera ini mengekspor kapur Barus, minyak umbil, lada, kunyit, buah pala, cengkeh, kemenyan, kelapa, durian, pisang, tebu, duku, langsat, petai hingga jengkol.

“Barus pernah berhubungan dagang dan obat-obatan dengan Arab, Cina, Yahudi dan India,” ungkap Rusmin yang 3,5 tahun meneliti teknik pengobatan Barus untuk disertasinya.

Merujuk hasil penelitian Rusmin, dalam Sipele Sumangot–kitab suci agama setempat–ada mantra dan jampi pengobatan yang terkait dengan ungkapan reliji dari Arab, Cina, Yahudi dan India.

“Dari bukti ini, jika dihipotesiskan, sekitar 5000 tahun hingga sekarang atau 250 tahun sebelum masehi, Barus sudah punya hubungan dengan negeri-negeri tersebut.”

n mantera dan jampi, untuk mengobati diracikkan obat yang lazimnya dari rempah-rempah.

Agar tak sekadar beromantisme pada sejarah masa lalu, pria 68 tahun itu mengingatkan bahwa saat ini rempah Indonesia telah dibudidayakan di banyak negara di Asia, Eropa, Afrika dan Amerika.

Selanjutnya, kata dia, masing-masing negara berupaya serius meneliti khasiatnya dan mematenkan sebagai haknya serta memasarkan produksinya.

Dan seperti yang sudah-sudah, Indonesia menjadi pengekspor bahan baku yang tersisa dan menerima import produksi bahan jadi dalam bentuk makanan, minuman, obat-obatan dengan harga mahal.

Bila itu terjadi, pada masa yang akan datang, Indonesia hanya akan memproduksi dan menjual tulisan-tulisan di buku, majalah, jurnal tentang kehebatan pengobatan dan rempah Indonesia masa lalu yang tinggal kenangan.

Menurut Rusmin, negeri ini kaya rempah. Namun sayang tak diurus. “Kebijakan penguasa umumnya berpihak pada keuntungan picisan komisi dan upeti dari perdagangan orang asing yang mengeruk-kuras alam dan memperbudak manusia Indonesia di negerinya sendiri.” (wow/jpnn)