Badai Sandy Renggut 17 Nyawa di AS, New York Gelap Gulita

NEW YORK – Pemberlakuan situasi darurat di sejumlah negara bagian di Amerika Serikat (AS) terkait amuk Badai Sandy terbukti amat beralasan. Ancaman badai itu memang luar biasa. Bahkan, pemerintah AS mengumumkan status bencana besar terkait serangan badai yang dijuluki sebagai superstorm atau frankenstorm itu.
Sandy menghajar wilayah selatan Negara Bagian New Jersey Senin malam waktu setempat (29/10) atau kemarin pagi WIB (30/10). Gelombang laut supertinggi akibat badai hebat tersebut juga membawa banjir di sejumlah kota besar sepanjang East Coast atau pesisir timur AS.

Akibat amuk badai berkecepatan sekitar 130 kilometer perjam itu, aliran listrik di beberapa kota padam (blackout). Kemarin, sedikitnya 7 juta warga di sepuluh negara bagian, termasuk District of Columbia, terpaksa bertahan dalam kegelapan.

Gedung-gedung pencakar langit berhias lampu warna-warni yang menjadi ciri khas kawasan Manhattan, New York, pun lenyap. Sandy menjadikan kawasan paling glamor di kota terbesar dan terpadat di AS itu gelap gulita.

“Ini akan menjadi pemadaman paling parah yang terjadi gara-gara badai di sepanjang sejarah negeri ini,” kata John Miksad, wakil presiden Consolidated Edison, perusahaan listrik di New York dan sejumlah wilayah lain.

Tak kurang dari 670.000 pelanggan Consolidated Edison yang berada di New York dan kawasan sekitarnya tidak bisa menikmati listrik. Perbaikan aliran listrik diperkirakan memakan waktu selama satu pekan.

Terputusnya aliran listrik memicu kepanikan di Tisch Hospital yang terletak di kompleks New York University. Karena generator gagal menghidupkan listrik cadangan, staf rumah sakit terpaksa mengevakuasi sekitar 200 pasien. Sebanyak 20 di antaranya adalah bayi yang menjalani perawatan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

“Pasien-pasien yang sangat bergantung pada alat bantu pernapasan segera kami larikan ke rumah sakit lain. Sebab, alat bantu pernapasan yang mereka gunakan hanya bisa berfungsi jika ada listrik,” ujar Dekan Fakultas Kesehatan NYU Robert Grossman. Karena tak ada listrik, staf rumah sakit pun mengevakuasi pasien lewat tangga darurat.

Sandy juga menyulut kebakaran hebat di sejumlah area di New York. Api menghanguskan sekitar 80 hingga 100 rumah di kawasan Queen pada Senin malam saat banjir menggenangi wilayah tersebut. Lebih dari 190 petugas pun dikerahkan untuk memadamkan kobaran api, termasuk di Breezy Point. Ancaman kebakaran susulan akibat badai itu diperkirakan masih akan terjadi.

Dibandingkan kota-kota besar lainnya di AS, New York mengalami kerugian terbesar. Kerusakan akibat Sandy di kota berjuluk Big Apple itu juga yang paling parah. Selama dua hari berturut-turut, jantung bisnis New York terpaksa tutup. Genangan banjir juga masih mendominasi bangunan World Trade Center. Transportasi di kota berpenduduk 8,3 juta jiwa itu pun lumpuh hingga kemarin.

“Badai (Sandy) menimbulkan kerusakan terparah pada jalur lalu lintas sepanjang 108 tahun sejarah sistem subway di kota ini,” tutur Joseph Lhota, chairman Metropolitan Transportation Authority (MTA). Untuk kali pertama sejak menjabat sebagai petinggi MTA, dia mengaku kewalahan menghadapi amuk Sandy. Seluruh jalur subway di setiap sudut New York, menurut dia, tidak bisa berfungsi.

Selain jalur darat, Sandy juga melumpuhkan transportasi udara. Sejak Senin lalu, otoritas terkait telah menutup tiga bandara utama di kota tersebut. Selama dua hari, sedikitnya 13.500 jadwal penerbangan dibatalkan.

“Semuanya kami batalkan semata-mata karena badai,”terang FlightAware. Karena badai masih akan menyapu dataran AS hingga hari ini, ribuan jadwal penerbangan lain juga berpotensi batal.

Pemerintah federal pun melaporkan kematian sekitar 17 orang akibat amuk badai itu kemarin. Dengan demikian, Sandy sudah merenggut total 86 jiwa sejak menghantam Kepulauan Karibia dan Bahama pekan lalu. Dampak badai yang begitu parah itu memaksa Presiden AS Barack Obama mendeklarasikan status bencana besar di dua wilayah di Negara Bagian New York. Yakni, Kota New York dan Long Island.

Keputusan Obama itu memungkinkan bagi pemerintah federal untuk mengalirkan dana bantuan ke dua kawasan yang menderita kerusakan terparah itu. Kerugian materi akibat Sandy belum bisa dipastikan. Namun, pemerintah pusat meramalkan bahwa kerusakan fisik akibat badai itu mencapai USD 10 miliar (sekitar Rp 96 triliun). Apalagi, Bursa Efek New York (NYSE) atau Wall Street terpaksa tutup sejak Senin lalu.

Negara Bagian New Jersey juga mengalami dampak tak kalah parah. Sebuah tanggul di kawasan Moonachie ambrol dan beberapa kota di sekitarnya terendam air.

Sedikitnya 1.000 orang dievakuasi ke lokasi yang lebih tinggi. “Dalam waktu 30 menit, kota kami terendam air setinggi 2 meter,”kata Jeanne Baratta dari Kepolisian Bergen County.

Para pakar cuaca mengatakan bahwa Sandy belum akan meninggalkan daratan AS dalam waktu cepat. Setelah mengobrak-abrik New York, badai tersebut akan menyapu sebagian besar wilayah di timur laut Negeri Paman Sam. “Angin kencang akan bertiup dari wilayah utara Georgia menuju Kanada dan ke arah barat menuju Lake Michigan,” terang Reed Timmer, pakar cuaca.

Selanjutnya, hujan deras yang mengiringi angin kencang itu akan mengguyur wilayah New England dan sebagian besar kawasan Midwest. “Hujan salju yang dipicu badai akan mengguyur pegunungan di Virginia Barat Rabu pagi (hari ini WIB),” lanjut Timmer. Dia meramalkan hujan salju cukup lebat itu bakal menimbulkan timbunan setinggi 30-60 sentimeter. (CNN/AP/AFP/RTR/hep/dwi)