Atlet Wushu Bengkulu Tembus Sea Games

Atlet wushu Harinto Jaya Putra berfoto bersama dengan sekretaris Kadispora beserta Pelatih Dedi Armansyah dan Ketua Pengprov Wushu Edi NevianBENGKULU, BE – Ditengah terpuruknya prestasi olahraga Provinsi Bengkulu di kancah nasional, masih ada yang bisa dibanggakan oleh masyarakat Bengkulu.   Yakni dengan lolosnya atlet wushu Harinto Jaya Putra pada pelatnas untuk menyambut Sea Games ke-27 di Myanmar dan Islamic Solidarity Games ke-3 di Indonesia.
Dia akan turun di nomor Shansou (tarung, red) pada kelas 56 kg dan akan bersaing dengan atlet dari 10 negara lainnya pada Sea Games yang digelar Desember mendatang, serta bertarung menghadapi atlet dari 43 negara Islam di ISG pada September nanti.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Bengkulu yang juga baru saja dilantik sebagai Pembina Ketua Pengprov Wushu Edi Nevian mengatakan, pencapaian yang diperoleh Harinto sudah seharusnya diapresiasi dan didukung oleh semua pihak. Mengingat, kesempatan bagi putra daerah membela negara di kancah internasional tidak banyak.  Dia juga berharap, pemerintah dapat memberi perhatian khusus kepada atlet agar dapat berprestasi mengharumkan nama Bengkulu.
“Harinto ini menjadi salah satu putra daerah yang bisa kita banggakan di bidang olahraga, karena dia berhasil lolos seleksi pelatnas. Dia juga sudah dipastikan menjadi atlet inti memperkuat Indonesia di ajang Sea Games dan ISG. Ini kebanggaan bagi daerah kita, maka mari sama-sama kita dukung,” ujar Edi kepada wartawan, kemarin.
Sementara itu, Pelatih Wushu Bengkulu Dedi Armansyah mengatakan keberhasilan Harinto tidak lepas dari pencapaiannya dalam meraih medali perunggu pada PON XVIII Riau beberapa waktu lalu. Hingga akhirnya masuk dalam radar Timnas dan dipanggil untuk mengikuti Pelatnas di Medan, dibawah arahan pelatih asal China.
“Harinto ini peraih medali perunggu di PON kemarin. Lantaran peraih medali emas, umurnya sudah lewat karena untuk ikut Sea Games dan ISG dibatasi dibawah usia 25 tahun, akhirnya dia dipanggil. Ternyata dia berhasil lolos pelatnas dan menjadi tim inti Timnas untuk cabang olahraga wushu di nomor Shansou. Jelas ini membanggakan untuk kami, karena tidak mudah menjadi atlet timnas,” ucapnya.
Disinggung mengenai nomor lain dalam Cabor Wushu, yakni taolu (seni). Dedi mengaku masih sulit untuk dikembangkan, karena keterbatasan alat dan pencarian bibit berbakat. Terlebih hingga saat ini, Pekan Olahraga Daerah (Porda) yang seharusnya menjadi wadah untuk mencari atlet dari daerah, tidak berjalan karena keterbatasan anggaran.
“Kalau taolu masih susah. Untuk shansou saja masih susah. Kita cuma ada enam atlet dan untuk PON kemarin, kita cuma menurunkan dua atlet. Robi dan Harinto. Penjaringan atlet dari daerah susah, karena sejauh ini kita hanya mengandalkan kejurnas. Porda kita tidak berjalan, karena keterbatasan anggaran. Selain itu kita sadar dengan kondisi kita dan tidak bisa juga disamakan dengan daerah lain, yang memang sudah fokus dengan olahraga. Kita hanya punya tekad untuk berprestasi, meski harus menghadapi banyak rintangan,” tandasnya. (cw6)