Atasi Krisis Dunia, Tingkatkan Produksi dalam Negeri

petani-karetMelemahnya pasar dunia akibat krisis Eropa, turut mempengaruhi pasar komoditas pertanian seperti karet, sawit, dan kakao. Menanggapi kondisi itu pemerintah berusaha meningkatkan produksi dalam negeri, untuk mengurangi ketergantungan pada luar negeri.

Demikian dikemukakan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Gamal Nasir, di Jakarta, Senin (14/1).  Menurut Gamal, ada dua sistem yang bisa digunakan untuk mengatur suplai karet ke pasar dunia, yaitu supply management scheme (SMS) untuk pengurangan produksi karet, dan agreed export tonnage scheme (AETS) untuk pengurangan ekspor karet. “Pengaturan suplai itu dibutuhkan untuk mengendalikan harga karet lokal,” tuturnya.

Namun, Indonesia baru bisa menerapkan sistem AETS untuk mengatasi permasalahan itu. “Thailand bisa menggunakan SMS, karena jika harga turun mereka bisa beli karetnya sendiri, sedangkan Indonesia hanya bisa mengimbau para petani untuk mengurangi sadap karetnya,” ungkap Gamal.

Gamal mengatakan, Gabungan Pengusaha Karet Indonesia telah mengatur sejumlah karet yang bisa diekspor. Pengaturan ekspor itu untuk mengatasi penurunan harga karet lokal karena krisis Eropa.  “Mengatasinya dengan mengatur suplai yang masuk ke pasar dunia,” katanya.

Gamal pun menjelaskan, tiga negara utama penghasil karet dunia yaitu Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah sepakat untuk mengatur produksi dan ekspor yang menyesuaikan dengan kebutuhan pasar lokal. Adapun pada sawit, sejak tahun kemarin untuk mendongkrak harganya, tiga negara tersebut juga telah sepakat melakukan pengaturan permintaan dalam negeri.

Pada 2013 pemerintah juga akan melakukan peremajaan sejumlah tanaman perkebunan seperti karet, sawit, kakao, kelapa, teh, tebu, dan lainnya.(**)