Aristi Prajwalita, Sendirian Bersepeda Menjelajah Eropa dan Asia

aristi_2Penghobi bersepeda jarak jauh atau populer disebut long distance cycling masih sangat jarang, apalagi perempuan. Aristi Prajwalita adalah perkecualian. Bersama sepedanya, dia sudah menjelajah dua benua, Asia dan Eropa.

SEKARING RATRI ADANINGGAR, Bogor
==============================

Sore itu Aristi tercenung. Perjalanan yang sudah lama direncanakannya dengan matang terancam batal. Sang ibunda, tampaknya, mencium gelagat aneh dari dirinya. Biasanya, jika akan bepergian ke luar negeri, Aristi naik bus DAMRI dari Bogor menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Namun, kali ini dia memilih menuju daerah Cawang, Jakarta, lebih dulu. Alasannya, Aristi ingin mempersiapkan barang bawaan untuk touring pertamanya ke luar negeri. Dia berencana bersepeda seorang diri dari Malaysia menuju Vietnam.

Sebagai anak perempuan satu-satunya, Aristi sadar bahwa restu dari sang ibu pasti tidak akan turun jika dirinya berterus terang tentang rencana perjalanan ekstremnya tersebut. Karena itu, dia memilih diam. Namun, sang ibunda, tampaknya, bisa merasakan sesuatu yang disembunyikan putrinya. Aristi yang kala itu sudah sampai di rumah kontrakannya di Cawang tiba-tiba mendapat telepon dari ibunya.

“Ibu bilang mau jemput aku di rumah Cawang sama ayah. Waduh, terancam nggak berangkat ini. Akhirnya, aku terpaksa SMS ayah. Aku ceritakan semuanya dan alhamdulillah ternyata dibolehin,” ungkap Aristi mengenang peristiwa pada 2009 itu.

Untuk perjalanan kedua pada 2010, dia memutuskan tidak sembunyi-sembunyi lagi. Kali ini dia memilih menjelajahi jalur Hanoi, Vietnam, menuju Beijing, Tiongkok, selama 28 hari. Demi mendapat restu, beberapa hari sebelum keberangkatan, perempuan 37 tahun itu sengaja meletakkan peta Tiongkok beserta buku panduan perjalanan ke Tiongkok, Lonely Planet (LP), di atas meja makan. Tujuannya, orang tuanya mengetahui secara tidak langsung rencana perjalanan berikutnya.

“Beneran, ibuku langsung nanya, mau ke China Mbak” Aku jawab, iya mau nerusin jalur. Ibuku awalnya ya sempat kaget. Tapi, setelah salat Tahajud, ibuku akhirnya rela ngelepas aku pergi,” ujar Aristi yang ditemui di kawasan Stasiun Bogor, Senin (3/6).

Namun, restu tersebut disertai persyaratan. Sebenarnya cukup mudah jika Aristi memang sosok perempuan yang feminin. Sang ibunda hanya meminta dia mengenakan rok setiap ada acara kumpul-kumpul seperti arisan. Namun, meski berprofesi pelayan kesehatan masyarakat secara freelance, dia gemar berpenampilan boyish. Alhasil, persyaratan sang ibu tersebut dirasa Aristi cukup berat.

“Tapi, ya akhirnya aku turuti daripada nggak dapat izin. Jadi, sekarang setiap ke acara arisan sama ibu, aku pakai rok,” ujarnya lantas tersenyum.

Sikap orang tua yang cenderung khawatir berlebihan terhadap perjalanan-perjalanan touring Aristi cukup beralasan. Sebab, bagaimanapun, Aristi seorang perempuan. Perjalanan seorang diri dengan bersepeda pasti cukup berisiko. Meski dibekali tekad serta persiapan yang mumpuni, dalam setiap perjalanannya, Aristi beberapa kali mengalami kejadian yang kurang mengenakkan.

Dalam perjalanan perdananya seorang diri dari Malaysia menuju Vietnam, Aristi harus berurusan dengan seorang pria sieng. Saat itu, dia telah mengayuh hingga Kamboja. Suhu udara Kamboja ketika itu cukup panas, mencapai 45 derajat Celsius. Di tengah udara panas menyengat tersebut, Aristi menyempatkan diri tidur di bawah pohon beralas matras.

Tiba-tiba, dirinya didatangi seorang laki-laki muda. Laki-laki asing tersebut berusaha berkomunikasi dengan Aristi. Dia bahkan tertawa. Aristi pun mulai terganggu. Kemudian, laki-laki tersebut mulai memberikan isyarat dengan tangannya.

“Dia kasih isyarat ngajak ciuman. Terus, dia mulai buka baju. Aku panik, tapi nggak langsung kabur. Takutnya dia ngamuk karena posisinya deket banget. Akhirnya, aku pelan-pelan gulung matras sambil masih ngobrol sama dia. Untungnya dia nggak ngeh. Aku pelan-pelan beresin semuanya, terus naik sepeda. Baru dia ngeh. Tapi, aku sudah ngayuh cepet-cepet dan kabur,” ujarnya.

Hal serupa terjadi ketika Aristi sampai di Bangkok. Saat itu, anak pertama dua bersaudara tersebut berniat menyeberangi sebuah jembatan pada malam. Situasinya cukup sepi. Tiba-tiba muncul beberapa pria yang berjalan mendekati. Ketika mereka berjalan makin dekat, Aristi pun langsung mengeluarkan alat kejut listrik.

“Aku tunjukin ke mereka. Mereka langsung lari. Padahal, aku nggak sampai menyentuhkan itu ke tubuh mereka. Tapi, mungkin takut lihat aliran listrik pendek warna biru,” ungkapnya.

Alat kejut listrik kecil berkapasitas 4.000 volt itu memang kerap menjadi teman perjalanan Aristi. Karena dia tidak bisa bela diri, alat kejut listrik menjadi pilihan paling masuk akal untuk melindungi diri. “Kalau aku bawa pisau lipat atau senjata tajam semacamnya, harus dari jarak dekat dan ada kemungkinan tanganku sudah ditepis duluan sebelum aku nyerang,” ujarnya.

Namun, baru sekali Aristi menggunakan alat tersebut untuk melumpuhkan orang. Hal itu terjadi pada perjalanan solo keduanya dari Vietnam menuju Tiongkok pada 2010. Saat itu, dia hampir mencapai finis di kota Beijing. Namun, dia sulit mencari jalan masuk ke ibu kota RRT tersebut. Lalu, datang seorang anak muda RRT yang mengendarai sepeda lipat. Dia mengikuti Aristi. Pemuda tersebut berusaha menunjukkan jalan masuk ke kota.

Namun, belum sampai mereka menemukan jalan masuk, pemuda tersebut meminta ongkos kepada Aristi. Awalnya, dia mengira pemuda itu hanya meminta 5 yuan, tapi ternyata 50 yuan. Aristi pun menolak membayar. Ketika dia akan pergi, pemuda tersebut menarik tangannya. Tarikannya kian kuat saat Aristi mencoba melarikan diri.

Tanpa pikir panjang, dia mengeluarkan alat kejut listrik dan menempelkannya ke iga pemuda tersebut. Pemuda pemalak itu pun terjengkang dan jatuh. “Padahal, aku cuma setrum dia sekali. Aku sampai kepikiran, aduh jangan-jangan mati nih orang. Tapi, ternyata nggak. Dia masih sempat grabbed (mencoba meraih) kakiku. Langsung aku tendang. Terus, aku lari pakai sepedaku sekenceng-kencengnya,” ungkapnya.

Pengalaman menegangkan lainnya adalah ketika Aristi tidak sengaja memasuki daerah konflik. Dalam perjalanan luar negeri pertamanya, dia sempat menjelajahi wilayah Thailand Selatan, tepatnya di Distrik Saiburi, Pattani. Sebenarnya Aristi disarankan melewati highway. Namun, dia ingin mencoba jalan lain. Jalan pilihan Aristi itu cukup sepi.

Ketika tengah asyik menggowes, dia mendapati sejumlah barikade tentara. Tiba-tiba, seorang perempuan bercadar yang mengendarai motor memepet sepedanya. Perempuan tersebut meminta Aristi meninggalkan kawasan itu. Tapi, Aristi menolak dengan halus. Perempuan bercadar tersebut pun menyarankan agar dirinya berhati-hati.

“Besoknya, aku teleponan sama temanku. Aku cerita bahwa aku ngelewati kawasan Saiburi, Pattani. Temanku bilang lu gila, itu daerah konflik, bahaya banget. Kata temanku, di situ banyak ranjau. Untung aku selamat dan nggak terjadi apa-apa,” katanya.

Perjalanan ketiga, Aristi menjajal benua Eropa pada 2011. Negara-negara yang dia kunjungi, antara lain, Belanda, Prancis, Italia, dan Belgia. Pada perjalanan kali ini, dia tidak sekadar menggowes, tapi juga mendaki Mont Blanc yang merupakan puncak gunung tertinggi di Eropa. Yang istimewa, Aristi juga menjelajah bersama pesepeda jarak jauh yang sudah tersohor, yakni Bambang Hertadi alias Paimo. Namun, mereka bersama-sama hanya sampai setengah perjalanan.

Aristi mengawali perjalanan menggowes bersama Paimo dari Kota Anneci menuju Kota Chamonix, Prancis. Menurut dia, perjalanan bersepeda tersebut cukup mudah. Sebab, hampir semua negara di Eropa sangat ramah terhadap para biker.
Fasilitasnya pun lengkap. Mulai peta bersepeda, tempat parkir sepeda yang selalu tersedia, hingga camping ground yang luas bagi para pesepeda. Bahkan, sepeda bisa dibilang strata teratas dalam tingkatan kendaraan di Eropa. “Bahkan, mobil itu kalau ada sepeda yang mau melintas ya ngalah. Istilahnya, pesepeda itu paling dihormati lah,” tegasnya.

Namun, tampaknya, Aristi belum terbiasa menggowes dalam cuaca dingin. Sebelumnya, dia baru bersepeda jarak jauh di benua Asia yang iklimnya relatif hangat. Karena itu, dia pun awalnya kesulitan. Apalagi, rute yang dilalui menanjak karena merupakan area kaki gunung Mont Blanc. Lagi pula, saat itu sering turun hujan. Dia pun menggowes dengan mengenakan raincoat dan pakaian hingga dua lapis, namun tidak memakai helm.

“Waktu nanjak itu, pembuluh darah kita membesar. Kalau tertekan helm, rasanya sakit. Tambahan lagi, semakin ke atas, oksigennya semakin tipis. Jadinya aku ngos-ngosan,” katanya.

Sampai di Chamonix, Aristi dan Paimo sempat menuju Italia sembari menunggu rombongan pendaki dari Indonesia yang juga berencana mendaki Mont Blanc. Ketika rombongan tersebut datang, mereka pun mempersiapkan diri untuk mendaki. Pendakian tersebut cukup menguras mental dan fisik Aristi. Namun, dia harus berusaha tetap sehat dan tidak kehilangan semangat. Sebab, perjalanan masih panjang.

Dari Anneci, Prancis, dia harus kembali ke Belanda. Dari Denhaag, Belanda, dia menggowes hingga Brussels, Belgia. “Saat menggowes dari Denhaag ke Brussels itu, aku berpisah sama Mas Paimo,” ujarnya.

Meski pengalaman menggowes di benua Eropa bisa dibilang cukup aman bagi pesepeda jarak jauh perempuan seperti dirinya, Aristi mengaku kurang puas. Alasannya, perjalanan menjadi kurang seru. Berbeda dengan saat menggowes di negara-negara Asia. Meski keamanan belum terjamin, petualangan penuh tantangan.

Ketika ditanya pengalaman menggowes jarak jauh yang paling menyenangkan, Aristi dengan mantap menjawab rute Vietnam”Tiongkok. Meski terkendala bahasa serta fasilitas yang serbakurang, dia mengaku sangat menikmati. Saat berada di Tiongkok, Aristi beberapa kali salah jalan karena tidak bisa membaca penunjuk jalan dengan huruf kanji Mandarin.

Begitu juga fasilitas menginap. Berbeda dengan di Eropa, Aristi tidak bisa menginap di camping ground. Dia juga tidak bebas memilih hotel. Sebab, ada kebijakan di Tiongkok, wisatawan asing diwajibkan menginap di hotel bintang tiga.

Karena perjalanan yang ditempuh hampir sebulan, Aristi pun mengambil risiko dengan tidur di tempat seadanya. Kadang dia tidur di restoran cepat saji. Pada waktu lain, dia tidur di peron stasiun. Soal keamanan bagi perempuan, memang tidak terjamin. Namun, bagi Aristi, penduduk negara Tiongkok cukup ramah dan helpful.

Namun, dia sempat jatuh sakit karena kecapekan ketika berada di Tiongkok. Dia mengalami demam sehingga harus beristirahat dua sampai tiga hari. Aristi juga sempat merasakan dahsyatnya badai Megi di negara tersebut. “Memang, seminggu pertama sempat stres. Tapi, lama-kelamaan aku malah menikmati banget. Banyak warna-warninya,” ujarnya.

Sejauh ini, Aristi sudah menempuh jarak 3.688 kilometer untuk seluruh perjalanan solonya di luar negeri. Perinciannya, perjalanan pertama dari Malaysia ke Vietnam (1.302 km) dan dari Vietnam menuju Tiongkok (1.986 km). Perjalanannya di benua Eropa memang hanya 400 meter karena diselingi kegiatan mendaki gunung. Ketika ditanya destinasi mana lagi yang akan ditempuh, Aristi masih bungkam. “Ada lah,” ujarnya. (*/c5/kim)