Antrean Bensin Ikut Menggila

BENGKULU, BE – Mekipun kelangkaan Bahan Bakar Minyak hanya terjadi pada jenis Solar, namun antrean bensin juga terjadi, bahkan lebih parah dari antrean solar.   Bahkan ini terjadi di semua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di Kota Bengkulu.  Belum diketahui penyebab banyaknya warga yang mengantre bensin.   Sebab pihak Pertamina menjamin untuk stok bensin masih aman.

“Untuk hari ini pengiriman masih normal dari Pertamina, dan baru besok (hari ini, red) akan dikurangi,” ujar Hamdani Administrasi Umum SPBU Padang Jati.

Menurut Hamdani, SPBU yang ia kelola seharinya mendapat pasokan sebanyak 32 ton bensin.   Karena melihat antrean yang cukup panjang, maka kemarin ia berinisiatif untuk menambah kuota sebanyak 40 ton untuk hari ini. Namun Pertamina menginformasikan hanya akan dikirim sebanyak 24 ton.  Ia tidak tahu pasti mengenai berkurangnya pasokan tersebut. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa antrean ini dimungkinkan karena kepanikan warga melihat antrean solar yang tinggi sehingga masyarakat khawatir akan terjadi kelangkaan bensin.

Hamdani mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mengantre saat BBM jenis solar atau bensin tidak ada, karena akan menggangu pengguna jalan lain. dan cukup menghubungi operator kapan BBM itu akan sampai ke SPBU. Sementara itu Sales Refresentatif (SR)  Pertamina Bengkulu, Misbah Bukhori saat dihubungi via telpon mengatakan untuk saat ini stok bensin masih cukup aman seperti yang diberitakan sebelumnya.  Menurutnya antrean bensin yang terjadi sekarang hanya disebabkan kepanikan warga saja.

   “Masalah pengurangan pengiriman ke beberapa SPBU itu biasa dilakukan karena, untuk menjaga ketersediaa stok,” ungkapnya.
Berdasarkan pantauan BE antrean dibeberapa SPBU sudah mencapai 500 meter.  Sedangkan harga bensin eceran sudah menembus angka Rp 10 ribu, dan sudah jarang yang menjual.

Ancaman Krisis Semakin Nyata
Antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU membuat pengusaha yang bergerak disektor jasa transportasi serta pengakutan tambang dan perkebunan kelabakan.  Kerugian akibat menipisnya stok bahan bakar jenis solar yang menjadi kebutuhan mendasar bagi mereka, semakin besar. Namun itu belum seberapa. Sebelumnya, mereka mengaku sudah babak belur dengan terpukulnya harga komoditas yang mereka angkut di pasar internasional. Kini, ancaman krisis yang menerpa dunia usaha tulang punggung ekspor Indonesia itu nampak semakin nyata. Demikian terungkap dari wawancara wartawan BE dengan Ketua Gabungan Pengusaha Batubara (Gapabara) Provinsi Bengkulu Yurman Hamedi, kemarin.

“Belum pernah kami mengalami kondisi sesulit yang kami alami saat ini. Sebelumnya kami telah mengalami banyak kerugian akibat jatuhnya harga komoditas dipasar internasional. Kini kami diterpa dengan kelangkaan minyak. Masalahnya akan sederhana bila yang bangkrut itu hanya kami pengusaha, tapi dibelakang kami ada lebih dari 8 ribu keluarga yang akan kehilangan pekerjaan. Dulu kami menganggap persoalan semacam ini biasa saja. Tapi sekarang ancaman krisis itu semakin nyata,” ujarnya lirih.

Meski Plt Gubernur telah menyatakan akan segera melakukan koordinasi dengan seluruh SKPD dan pihak-pihak yang terkait seperti Pertamina dan Bank Indonesia pada tanggal 28 nanti, namun Yumran menyatakan hal itu belum menyurutkan kekhawatiran para pengusaha. Sebab, menurutnya, ancaman krisis ini bukan hanya terjadi pada tingkatan stok solar yang menipis, tapi juga banyak faktor lain yang penanganannya, harus melalui perombakan secara menyeluruh atas tata kelola pemerintahan serta manajemen minyak bumi dan gas.

“Kalau masalahya hanya pada stok solar yang menipis, kami ingin bertanya, memangnya pemerintah tak punya perencanaan sebelum menyetok solar yang dibutuhkan selama waktu tertentu?  Kalau punya, kenapa tidak diantisipasi? Kalau benar dikatakan langka, kenapa masih ada yang menjualnya secara eceran?  Itu kan berarti ada ketertutupan, ada penimbunan, ada permainan. Persoalan ini sering terjadi. Kami terancam bangkrut. Solusinya, harus ada perombakan dengan tata kelola pemerintahan atas hal ini. Harus ada pergantian sistem manajemen dalam distribusi migas. Pemerintah harus bertindak cepat. Tak perlu tanggal 28.  Pertamina juga kami mohon dapat bertindak transparan,” katanya lebih lanjut.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Asosiasi Pengusaha Batu Bara Bengkulu (APBB), Syafran Junaidi mengungkapkan, kebangkrutan pengusaha di bidang pertambangan sisa menunggu waktu bila tak segera teratasi.  Dengan kondisi jatuhnya harga komidtas yang terjadi sebelumnya saja, lanjutnya, sudah banyak pengusaha yang gulung tikar.

“Sebelum kelangkaan solar yang terjadi saat ini sudah banyak pengusaha yang gulung tikar. Kekhawatiran terbesar kami, kontrak dengan pembeli di negara lain menjadi terhenti akibat penyediaan pasokan batubara yang kami kirim tidak sesuai dengan kesepakatan.  Padahal kami selama ini merupakan golongan pembayar pajak yang cukup besar bagi pemerintah daerah,” ujarnya.

Di sisi lain, kelangkaan solar yang terjadi saat ini juga merugikan kalangan pengusaha angkutan darat. Mereka mengaku mengalami kerugian 25-30% dari kondisi normal. Banyak pula armada mereka yang terpaksa berenti beroperasi akibat kelangkaan solar yang terjadi. “Armada kami dari Pekanbaru sudah belasan jam tidak dapat diberangkatkan. Penumpang pun telah banyak berpindah dan membatalkan kebarangkatannya karena sebagian besar armada kami masih mengantri di SPBU.

Sedangkan mau beli di eceran harganya naik 200 persen. Kami mempertanyakan komitmen pemerintah dalam mengawasi kemungkinan penimbunan solar yang terjadi atas kelangkaan ini,” kata Ketua Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Provinsi Bengkulu M Tarmizi.

Usulkan Solar Rp 6000
Ketua Gapabara Bengkulu, Yurman Harmedi, mengusulkan kenaikan solar subsidi menjadi Rp 6000, agar antrian tidak lagi panjang seperti saat ini.  ”Kalau seperti ini terus, maka banyak pihak yang dirugikan, khususnya para sopir yang terancam kendarannya ditarik oleh dealer ataupun leasing, karena tidak bisa beroperasi.  Kita siap menerima kenaikan, harga Rp 6000 sudah merupakan harga pantas,” katanya. (cw1/cw2/160)