Anggota DPRD Kota Bengkulu, Sofyan Hardi

Mengalir Laksana Air

Sofyan Hardi (1)MENGALIR laksana air, bertiup laksana angin, bergairah laksana api, kokoh laksana tanah. Prinsip inilah yang dipedomani anggota Komisi III DPRD Kota Bengkulu, Sofyan Hardi dalam menjalani hidup. Ia selalu berusaha membawa diri dengan baik dimana pun berada, menjalani tugas dengan sungguh-sungguh, bergaul secara luwes, namun tetap tegas dan konsisten dalam berprinsip.
Posisinya sebagai anggota dewan yang vokal sekaligus sebagai pengusaha yang sukses bukan merupakan buah dari warisan orang tuanya. Didalam politik, pria yang terlahir di Palembang pada 24 Januari 1979 ini merupakan orang yang mendapatkan ilmu dan pengalamannya secara otodidak. Sementara dibidang bisnis, ia merintis usahanya dari minus (berhutang). Lebih dari separuh usianya, Sofyan menjalani hidup penuh dengan keprihatinan.
Ketika menginjak usia 8 tahun, kedua orang tua Sofyan Hardi mengalami pailit di Palembang, tanah kelahirannya. Saat itu, mereka memutuskan hijrah ke Kota Bengkulu tahun 1987. Sofyan kecil semula bersama orang tuanya tinggal di Kebun Tebeng. Kemudian sempat berpindah-pindah ke Karbela Kelurahan Padang Jati dan Gang Butai di Kelurahan Sawah Lebar. Ia pun putus sekolah ketika baru menginjak kelas 2 SD. Untuk mengisi waktunya, anak ke 9 dari 11 bersaudara ini saat itu melakukan apa saja untuk mengumpulkan rupiah. Ia pernah berjualan barang bekas, menjual kantong plastik, menjadi pedagang asongan, menyemir sepatu.
Nah, dalam sebuah kesempatan, ia singgah di SDN 43 Kota Bengkulu di Gunung Bungkuk. Melihat orang-orang yang belajar di sekolah tersebut. Seorang guru menghampiri dan bertanya kepadanya, “Kenapa kamu tidak sekolah?” Dijawab Sofyan, “Saya tidak mempunyai biaya.” Tak lama kemudian guru itu mampir kerumahnya dan memberikannya sepatu, seragam sekolah, serta biaya seadanya agar Sofyan dapat melanjutkan sekolahnya. Ia lulus SD pada tahun 1993 di SDN 59 Kota Bengkulu. Sofyan sering membawa sekolahnya menjuarai lomba cerdas cermat tingkat provinsi saat itu.
Setelah itu, Sekretaris Provinsi Tunas Indonesia Raya (Tidar) ini melanjutkan sekolahnya ke SMPN 1 Kota Bengkulu dan lulus pada tahun 1996. Untuk membiayai sekolahnya ini, ia masih menjalani profesi sebagai tukang semir sepatu. Setelah lulus SMP, Sofyan melanjutkan sekolahnya di SMUN 2 Kota Bengkulu dan lulus pada tahun 1999. “Saat SMA, saya membayar uang sekolah dari hasil bekerja sebagai calo elektonik dan calo jual beli sepeda motor,” kenangnya saat diwawancarai di kediamannya, kemarin.
Usai menjalani studi SMA, Sofyan lantas merantau ke Bangka Belitung. Ia bekerja di kebun sawit saat itu. Namun usaha ini hanya berlangsung selama 3 bulan. Ditahun yang sama, ia kembali ke Bengkulu. Pada awal tahun 2000, Sofyan membuka usaha ayam potong. “Orang lain yang memberikan modal dan saya yang menjalaninya,” ungkapnya.
Setelah merasa memiliki bekal yang cukup, pada sekitar bulan April 2002 ia mulai mengenal Sri Andischa Sari, istri yang saat ini telah memberikannya dua orang buah hati. Mereka hanya butuh waktu 3 bulan untuk saling mengenal satu sama lain. “Karena merasa cocok, kami akhirnya langsung memutuskan untuk menikah,” bebernya seraya tersenyum.
Pernikahan keduanya ternyata berbuah berkah. Kisahnya begini. Saat itu Sofyan memiliki satu unit telepon genggam yang ia beli di Palembang, tanah kelahirannya. Teman-temannya banyak yang tertarik untuk memiliki telepon genggamnya itu. Ia pun bersedia melepasnya dengan harga yang wajar. Setelah itu, ia membelinya kembali dan dipesan lagi oleh temannya. Berapapun telepon genggam yang ia bawa selalu ludes. Lama-lama ia menilai bahwa jual beli telepon genggam ini merupakan prospek yang baik di masa yang akan datang.
Dana yang terhimpun dari pernikahannya bersama Sri Andischa Sari itulah yang ia jadikan sebagai modal membuka toko seluler mini di Simpang Padang Harapan dengan papan triplek sebagai penyekat. Waktu itu, uangnya hanya Rp 5 juta, namun usahanya itu terus berkembang dan ia memilih tempat baru di Tanah Patah sejak 2004.
“Kami berhemat dan memilih untuk membelanjakan uang keuntungan kami untuk menambah barang. Sehingga bisnis ini berkembang,” kisahnya.
Malang bagi Sofyan, baru sehari di Tanah Patah, tokonya dibobol maling. Seluruh barangnya hilang. Sofyan sempat merasa telah kehilangan segalanya. Kehabisan akal, ia sempat mengajak istrinya kembali ke Palembang. Sampai ia dinasehati oleh ibunya yang ia temui ketika hendak berpamitan. “Nak, ujian ini datang dari Tuhan. Hadapilah cobaan ini dengan tenang dan tegar. Bila kau bisa melalui cobaan ini, kau pasti sukses,” katanya ketika meniru ucapan ibunya saat itu.
Sofyan pun merenungi apa yang disampaikan ibunya itu. Ketika itu, ia menghubungi kolega Tionghanya di Jakarta, tempat ia biasa memesan telepon genggam. Ia berusaha membujuk koleganya untuk mau meminjamkan barang untuk ia jual, demi melunasi hutang-hutangnya. Koleganya bersedia. Sofyan kembali merintis usahanya.
Persis seperti yang ibunya katakan, tak perlu waktu lama bagi Sofyan untuk mengibarkan kembali usahanya. Puncaknya, pada tahun 2009, ia mampu untuk membawa kedua orang tuanya ke Tanah Suci Makkah. Tahun itu, juga ia terjun ke dunia politik dan dilantik sebagai anggota DPRD Kota akhir 2012.

Dikenal Kritis dan Konstruktif

Sofyan Hardi (2)SEBAGAI wakil rakyat, Sofyan Hardi dikenal sebagai sosok yang cukup kritis, namun konstruktif. Pria yang memiliki hobi slalom ini menilai bahwa amanah sebagai legislator yang ia lakoni merupakan panggilan hati untuk selalu berbuat yang terbaik bagi masyarakat. Selama menjalankan amanah rakyat itu, Ketua Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Kota Bengkulu ini selalu berusaha untuk menjalankannya sebaik mungkin. Tidak sedikit gerakan yang ia lakukan pada akhirnya ikut mewarnai kebijakan publik ke arah yang lebih baik. Wakil Walikota Ir Patriana Sosialinda menilai Sofyan sebagai pemuda yang memiliki banyak kontribusi positif bagi kemajuan Kota Bengkulu. “Terutama dengan organisasi Pemuda Pancasila, ia telah berkomitmen untuk bersama-sama menyukseskan pembangunan di Kota Bengkulu,” ujarnya.
Senada disampaikan A Yamin SH, seorang praktisi hukum, ia menilai Sofyan sebagai sosok yang pro aktif dan pro rakyat. Ia menilai Sofyan memiliki sejumlah pandangan yang brilian dan keputusan yang tepat ketika menjalankan tugasnya sebagai seorang wakil rakyat. “Ia merupakan sosok anak muda yang bertangan dingin dalam mengatasi berbagai persoalan kemasyarakatan,” sampainya.

Bertekad Mengabdi Kembali

MESKI belum lama menjadi wakil rakyat, Sofyan mengaku mulai memahami persoalan-persoalan yang dihadapi oleh warga Kota Bengkulu. Dari apa yang ia amati, ia menilai masih banyak sekali kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam tubuh pemerintahan sehingga membuat rakyat belum sepenuhnya mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan. Karenanya kedepan, Sofyan bertekad untuk kembali mengabdi sebagai anggota DPRD Kota.
Dengan bergabung bersama Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), ia maju dari Daerah Pemilihan I Gading Cempaka dan Singaran Pati. Kepada Bengkulu Ekpress, Sofyan menyatakan sepenuhnya siap untuk kembali bertarung dalam kancah politik Pemilu Legislatif 2014. “DPRD Kota harus menjadi alat perjuangan bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi-aspirasinya. DPRD Kota harus berperan serta untuk membuat Perda yang pro rakyat, mengatur anggaran yang besar untuk kesejahteraan rakyat dan mengawasi Pemda Kota agar tidak melenceng dari apa yang diinginkan oleh rakyat. Saya ingin kembali mengabdi untuk memenuhi tugas-tugas itu,” katanya mantap. (Rudi)