Andalkan Obat Kampung untuk Tetap Bisa Beraktivitas

 Penderita Kaki Gajah Perlu Bantuan Dermawan

Bukhori yang kini berusia 50 tahun, sudah lama mengalami pembengkakan pada kaki kanannya karena mengalami filariasis (penyakit kaki gajah).  Warga Simpang Gandaria Jl. Belimbing Panorama memerlukan bantuan dermawan, karena sekarang ia hanya pasrah dan berobat kampung agar tetap bisa beraktivitas. Bagaimana kondisinya?  Simak tulisan berikut;

MARTI RETU KODBINANSI, Kota Bengkulu

SEJAK tujuh tahun terakhir, kaki kanan Bukhori mulai membengkak.  Kian hari, kian membesar.  Saat ini ia beserta istri dan dua orang anaknya yang masih bersekolah, butuh biaya hidup yang tak sedikit.  Kondisi ini tentu saja membuat Bahori sebagai kepala keluarga tak bisa bermalas-malasan, meskipun dengan kaki yang bengkak dan terasa sakit.

Meski dalam keadaan yang kurang normal tapi Bukhori tetap berusaha untuk bekerja dengan skill yang ia miliki sebagai tukang penambal ban di depan warung yang sekaligus sebagai tempat tinggal ia dan keluarga.  Sedangkan sang istri membantunya dengan berjualan membuka warung manisan dan berjualan bensin.

Menurut Bukhori, pembengkakan yang terjadi dikakinya sudah mulai terasa sejak tujuh tahun lalu.  Namun hanya dibiarkan saja karena tidak berdampak sangat fatal.  Namun sejak 3 tahun terakhir ini, kakinya makin membesar. Pembengkakan pada kakinya terasa sakit bila ia bekerja terlalu capek dan jika minum es.  Untuk bertahan melakukan aktivitasnya, Bukhori hanya mengandalkan ramuan obat kampung.  Karena untuk membeli obat dari apotik atau rumah sakit, ia tidak mampu.

Sementara Butet, sang istri, awalnya menolak saat wartawan BE ingin mewawancarai dan mengambil gambar karena menurut dia tidak ada manfaatnya.   Namun ketika diberikan pengertian, akhirnya dengan wajah yang sungkan-sungkan ia terpaksa memberikan sedikit keterangan mengenai penyakit yang diderita suaminya.

“Seperti inilah kehidupan yang kami jalani, suami saya tetap bekerja dibengkel tambal ban ini, meski sudah beberapa kali berobat ke rumah sakit M. Yunus namun hasilnya tidak diketahui apa penyebabnya dan kata dokter negatif tidak ada apa-apa.   ”Kalau ada yang ingin membantu untuk biaya pengobatan suami saya, saya akan berobat ke Jakarta saja, mungkin di sana bisa diketahui apa penyakitnya,” ungkap Butet sembari membantu suaminya.

Ia menambahkan dokter yang menangani Bukhori pernah menyarankan sebaiknya di amputasi namun keluarga menolak karena jika diamputasi maka Bukhori kehilangan setengah kakinya dan akan mempersulit keadaan serta biayapun tidak sedikit.   Hingga akhirnya hanya berobat kampung saja, meski kata dokter hasilnya negatif, namun perlu ada pemeriksaan lebih intensif terkait penyakit yang dideritanya.  Ia berharap mendapat bantuan dari para dermawan untuk biaya operasi maupun pengobatan penyakit yang diderita suaminya agar bisa tetap bekerja tanpa harus terganggu dengan kakinya yang semakin besar. (**)