Alur Pelabuhan Dangkal Ganggu KEK

RIO/Bengkulu Ekspress Akibat alur dangkal, kapal-kapal besar tidak bisa merapat ke dermaga Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah meminta pengerukan alur Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu dipercepat. Sebab, jangan sampai pendangkalan alur yang terus terjadi dalam satu tahun sekali itu akan menggangu pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di wilayah Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu.

“Ketika pengembangan pelabuhan menjadi KEK, tentunya alur menjadi hal penting untuk menjadi perhatian,” ujar Rohidin kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (10/7).

Diketakannya, PT Pelindo II Cabang Bengkulu sebagai pengelola pelabuhan harus mencari solusi jangka panjang, agar pendangkalan alur tidak lagi terjadi.  Terlebih akhir tahun lalu, PT Pelindo telah berjanji akan mencarikan solusi jangka panjang pendangkalan alur, di samping harus kembali melakukan pengerukan secara berkala. Mengingat pengerukan juga membutuhkan anggaran cukup besar. “Rencana jangka panjang, saya pikir harus segara difinalisasi oleh pihak managemen,” tambahnya.

Berbagai kajian juga harus tetap dijalakan secara komperensif. Sehingga benar-benar bisa menemukan solusi yang tepat terkait pendangkalan alur pelabuhan.  Karena dampak dari pendangkalan alur tersebut sengat besar, aktifitas bongkar muat semakin terganggu. “Lakukan kajian secara komperensif,” ujar Rohidin.

Atas pendangkalan tersebut, Rohidin mengaku juga telah berkomunikasi dengan pihak PT Pelindo II Bengkulu.  Bahkan saat ini, kapal keruk yang disewa dari Dubai akan tiba di Bengkulu dalam waktu 13 hari ke depan. “Dalam waktu dekat akan mendatangkan kapal keruk dari luar negeri. mudah-mudahan segara dikeruk,” paparnya.

Setelah dilakukan pengerukan, gubernur meminta PT Pelindo II untuk menjaga kedalaman alur. Minimal alur tersebut dengan kedalaman 8 meter LWS. Tidak seperti saat ini yang hanya dengan kedalaman 5,5 meter LWS, yang berakibat kapal-kapal besar tidak bisa lagi bersandar di pelabuhan. “Saya minta alur tetap dijaga, minimal 8 meter LWS. Sehingga tidak menggangu aktifitas bongkar muat di pelabuhan,” tutup Rohidin. (151)