Aliran Dana Hibah Tabot Dibeberkan

BENGKULU, BE – Tabir aliran dana hibah Tabot senilai Rp 800 juta mulai tersingkap. Sejumlah pembuat tabot sakral dan pembangunan mulai buka-bukaan atas kucuran dana hibah bantuan Pemprov dan Pemkot tersebut. Salah seorang pembuat tabot sakral Tengah Padang, SM mengatakan, jika dana tabot tersebut tidak dibagi secara merata ke seluruh anggota pembuat tabot. Namun ada oknum tertentu yang mendapat bagian lebih tanpa alasan yang jelas. SM menjelaskan, dana tersebut dibagikan kepada 17 anggota tabot sakral, masing-masing mendapat bagian Rp 11 juta, namun dari Rp 11 juta tersebut dipotong Rp 500 ribu diberikan kepada salah seorang anggota tabot yang tengah menjalani masa tahanan di Lapas Malabero Bengkulu.  “Kuintansi penerimaan yang kami tandatangani hanya Rp 11 juta, sedangakn total penerimaan hanya Rp 10,5 juta,” ujarnya. Setelah penerimaan awal tersebut, ternyata ada oknum tertentu yang mendapat beberapa kali tambahan dengan alasan uang kompensasi tabot. Menurut SM, setidaknya ada 4 orang yang mendapat dana pada tahap kedua masing-masing Rp 7 juta, sedangkan pada tahap ketiga ada 2 orang dengan bagian masing-masing Rp 5 juta. Sedangkan untuk tabot pembagunan yang berjumlah 16 tabot, masing-masing anggota mendapatkan jumlah yang berbeda, yakni 3 orang masing-masing mendapatkan Rp 7,2 juta dan 6 orang mendapatkan Rp 5 juta. Sedangkan sisanya masing-masing mendapatakan Rp 4,5 juta. SM mengungkapkan, padahal dalam laporan pertanggungjawaban dana hibah disebutkan masing-masing keluarga tabot mendapatkan Rp 20,4 juta. Uang itu pun dibagi tidak melalui musyawarah, melainkan hanya ditetapakan secara sepihak.”Kami mendukung Kejari mengusut aliran dana hibah Tabot. Kami pun siap memberikan keterangan secara detil kepada kejari Bengkulu bila dibutuhkan,” ucapnya menambah pola demikian telah terjadi sejak lama. Senada juga disampaikan pembuat tabot sakral, As. Dia mengatakan, aliran dana tersebut perlu diaudit secara detail.Karena dia menilai ada kekeliruan yang sengaja dibuat oleh pihak tertentu untuk meraih keuntungan dalam dana tersebut. As juga siap memberikan keterangan yang sebenarnya kepada Kejari Bengkulu bila mendapat panggilan. Menurutnya, langkah kejari untuk mengusut tuntas masalah tersebut merupakan langkah yang bagus agar kedepannya, pengelolaan tabot semakin baik. Dia juga membeberkan, ada beberapa anggota pembuat tabot kekurangan dana, namun di lain pihak ada yang mendapatkan bagian hingga 3 kali penerimaan.

Sementara itu, salah seorang pembuat tabot pembangunan, Rj mengaku hanya mendapat bantuan dari pengurus tabot sebesar Rp 7,2 juta. Sedangkan selanjutnya tidak diberikan lagi, meskipun dia telah mengusulkan untuk mendapatkan dana tahap kedua. “Saya akan bongkar semuanya, jika saya dipanggil Kejari untuk memberikan keterangan,” tandasnya.