Ali Muakhir, Penulis Buku Anak Terproduktif

IMG_8542BENGKULU,BE- Ali Muakhir, penulis ratusan buku hingga mendapat anugerah dari Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai penulis paling produktif dengan 300 judul buku pada 2009. Malam tadi menyinggahi Graha Pena Harian Bengkulu Ekspress, untuk berbagi pengalamannya sebagai penulis, kepada pemcara setia Koran Bengkulu Ekspress.
Ali, menceritakan telah gemar menulis sejak dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 1989. Berkat, kesukaannya menulis, dia sering mengirimkan karyanya berupa artikel, puisi dan cerpen ke beberapa media seperti Majalah Aneka, Majalah Gadis, Majlah Bobo dan banyak lagi lainnya. “Tulisan saya dimuat, dan saya terus menulis. Apa yang ada dalam pikiran saya, saya tuangkan dalam tulisan,” ujarnya.
Bahkan, dia pernah mengalahkan penulis favoritnya Wita Alamanda Simbolon, dalam lomba menulis di Anita Cemerlang pada tahun 1996. Judul yang dia tulis “Sekeping Logam Cinta” yang menjadi best seller.
“Saya mendapatkan juara I, sedangkan penulis favorit saya juara harapan, itu sanggat membanggakan bagi saya, dan sama sekali tidak menyangka,” ujarnya.
Alumnus Fakultas Agama Islam Universitas Islam Nusantara, Bandung, mengatakan tidak pernah mendapatkan pendidikan menulis. Namun, dia selalu aktif menulis yang kemudian ia kirim di majalah-majalah. “Komik pertama saya Abdullah Anak Beta,” katanya.
Ali mengaku tidak pernah mendapat pendidikan menulis secara khusus. Namun sering mengikuti pelatihan dan
workshop-workshop menulis. “Saya bukan dari jurnalistik lho,” ucapnya sambil tertawa.
Namun, baginya sebuah kebanggaan karyanya selama ini banyak terkait dengan anak-anak. Karena tidak mudah untuk menghasilkan karya yang baik untuk anak-anak. Dalam menulis buku anak, memiliki batas-batas tersendiri yang harus dipahami, misalnya tidak boleh bahasa kasar, tidak boleh mengandung unsur kekerasan, harus dibuat sehumor dan menyaman mungkin, jika dibaca oleh anak-anak. “Buku itu  sangat ramah bagi anak,” katanya.
Bagi Ali dan kebanyakan penulis lainnya, tulisan yang ditulis sekarang belum tentu berasal dari ide yang muncul sekarang. Biasanya ketika ide muncul, Ali tidak langsung menyelesaikan tulisannya karena harus melengkapi bahannya terlebih dahulu. “Kalau untuk menulisnya saja, bisa saja satu buku dengan 24 halaman diselesaikan dalam satu jam. Itu tanpa proses mencari bahannya. Bisa jadi apa yang ditulis hari ini merupakan proses sejak 4 bulan lalu,” ujar pria asal Tegal ini.
Selain menjadi penulis cerita anak, Ali juga menjadi pengelola Rumah Produksi LineProduction. Pria ini aktif menulis naskah film di televisi nasional. Setidaknya, film Adam dan Hama, Aisyah, Soleha, dan Cahaya adalah hasil karyanya. Dia pun aktif mengisi pelatihan tulis-menulis. Tidak hanya orang dewasa saja yang mendapat pelatihan dari Ali, bocah-bocah SD pun mendapatkannya. Untuk sementara baru beberapa SD di Bandung yang mendapat ‘sentuhan’ Ali.
Dikatakan Ali, anak-anak sungguh luar biasa dan cerdas. Setelah diberikan arahan menulis dan diberi ide, mereka bisa mengembangkannya dalam karya tulis yang menarik. Bahasa mereka logis dan struktur kalimatnya baik.
“Setidaknya pelatihan penulisan tidak hanya membuat anak-anak lebih baik dalam menulis fiksi, tulisan, tapi juga ketika mereka menulis SMS. Setidaknya mereka tidak menggunakan kata yang bahasa sekarang alay-lah. Kalaupun disingkat ya singkatannya yang wajar,” jelas Ali.
Selama menjadi penulis, berbagai prestasi pernah diraih Ali. Misalnya saja dia mendapat juara II Sayembara Menulis Cerita Futuristik Anak Majalah Bobo tahun 1999. Judul karyanya kali itu adalah Formula Ajaib. Di tahun 2000, dia meraih juara II Sayembara Menulis Cerita Misteri Majalah Bobo dengan cerpen berjudul Rahasia Sekeping Logam. Juga pernah mendapat juara I Sayembara Menulis Cerita Anak Majalah Ayahbunda dengan cerpen Towet Mencari Tuhan pada 2004. Ali pernah pula menyabet juara I Lomba Cipta Cerpen Remaja Majalah Anita tahun 2006. Cerpen yang dia tulis pada saat itu berjudul, Sekeping Logam Cinta. Lalu pada 2007, Ali mendapat Anugerah Adikarya Ikapi sebagai penulis buku anak-anak terbaik ke-2 dengan judul buku Si Towet.
Pria kelahiran Tegal 21 Januari ini selalu berusaha menulis dari hati. Sebab dengan menulis dari hati, maka pesan penulis akan sampai kepada pembaca. Apalagi menulis untuk anak-anak, nilai-nilai hidup sebagai pesan harus bisa tersampaikan dengan baik. “Saya nggak tahu sampai kapan saya mau menulis. Selama masih bisa menulis, saya akan terus menulis. Mungkin  sampai tangan saya tidak bisa menulis dan mengetik lagi,”  tuturnya. (100)