Aktivis Bentang Spanduk Raksasa Tolak Tambang


AKSI: Spanduk raksasa bertuliskan “No Coal in Seblat Landscape” sebagai bentuk penolakan rencana alih fungsi hutan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat di Bengkulu Utara.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Para aktivis lingkungan bersama mahasiswa dan pelajar membentangkan spanduk raksasa bertuliskan “No Coal in Seblat Landscape” sebagai bentuk penolakan rencana alih fungsi hutan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat di Bengkulu Utara untuk pertambangan batu bara.



“Kami mendesak pemerintah untuk menghentikan alih fungsi kawasan hutan Seblat yang merupakan habitat atau rumah terakhir gajah Sumatera di Bengkulu,” kata Koordinator aksi, Cimbyo Layas Ketaren di Bengkulu, Minggu, (18/7).

Ia mengatakan kampanye penyelamatan kawasan hutan Seblat tersebut digelar bertepatan dengan kegiatan Elephant Camp 2019 yang digelar Forum Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Gajah dalam rangka memperingati Hari Gajah Sedunia atau World Elephant Day.

Cimbyo menilai kepentingan investasi tidak seharusnya mengancam masa depan gajah Sumatera yang tersisa di kawasan Bentang Seblat sehingga rencana pelepasan kawasan hutan seluas kurang lebih 500 hektare di wilayah itu harus ditolak pemerintah pusat lewat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

kegiatan Elephant Camp yang dipusatkan di Pusat Latihan Gajah di TWA Seblat diisi dengan berbagai kegiatan mulai dari orientasi medan yakni trekking ke dalam kawasan hutan, berinteraksi dengan gajah dan mural serta membuat lukisan dari bahan kotoran gajah. Sekretaris Forum Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Gajah Bengkulu, Ali Akbar mengatakan kelestarian gajah Sumatera menjadi kebutuhan bersama untuk menjaga ekosistem besar yang ada di Bentang Seblat.

“Gajah dan Bentang Seblat adalah satu kesatuan yang menjadi penanda kelestarian ekosistem hutan di mana rakyat turut menikmati keberadaannya lewat jasa lingkungan yang tersedia,” kata Ali.

Ia mengatakan kelestarian hutan dan spesies di dalamnya dapat diketahui dari kelangsungan fungsi ekologis kawasan itu terutama sebagai daerah tangkapan air yang memastikan aliran Sungai Seblat terus normal. Apalagi setiap musim kemarau lanjut dia, warga sejumlah desa di Kecamatan Marga Sakti Seblat mengandalkan air sungai Seblat untuk kebutuhan air minum, memasak, mandi dan lainnya.

Ketua Kanopi Bengkulu ini menambahkan bahwa dalam usulan perubahan fungsi kawasan hutan dalam rangka revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bengkulu, pemerintah daerah mengusulkan perubahan fungsi sejumlah kawasan hutan termasuk TWA Seblat menjadi area penggunaan lain dan sebagian lainnya diubah menjadi hutan produksi yang dapat dikonversi. “Ini menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan ekosistem Bentang Seblat terutama keselamatan gajah yang saat ini juga sudah terisolasi,” katanya. (rl)