Air Sempayang Racikan Bu Abdullah

Kemasan Dalam Botol, Dijual di Pasar Purwodadi

Air sempayang dikenal sebagai obat untuk panas dalam.  Cairan berwarna merah ini terdiri dari bahan-bahan biji sempayang, biji selasih, kayu merah, batu menthol dan gula batu, yang diseduh dalam segelas air putih.  Biasanya, air sempayang ini hanya menjadi obat tradisional dan dibuat sewaktu akan diminum.  Namun tidak bagi Bu Abdullah, air sempayang ini telah menjadi bisnis dan ternyata peminatnya pun cukup banyak.  Bagaimana Bu Abdullah meracik air sempayang ini hingga ia bisa menjualnya?  Simak laporan berikut;

FIRDAUS EFFENDY, Arga Makmur 

BU Abdullah tampak sedang meracik air sempayang saat BE mengunjunginya di rumahnya yang cukup sederhana di Jalan Siti Khadijah Kelurahan Gunung Alam Kecamatan Arga Makmur. Ia menyambut ramah meski pun tengah serius bekerja. Setelah mempersilakan BE masuk, ia pun meneruskan pekerjaannya, memegang tampah yang berisi ramuan air sampayang, lalu memulai meracik ramuan tersebut sambil bercerita tata cara pembuatan air sampayang. Menurutnya, yang cukup sulit adalah mengumpulkan bahannya yang terdiri dari biji sempayang, biji selasih, kayu merah, batu menthol dan gula batu. Bahan-bahan ini hanya bisa didapat dari beberapa toko di Pasar Minggu Bengkulu, dan sebagian lagi dari tanaman di belakang rumahnya. Bahan-bahan itu kemudian direbus menjadi satu di dalam panci yang sudah terisi air panas di atas kompor. Sepintas, seperti air sirup biasa, berwarna merah cerah dan ada seperti butiran telur kodok, namun ternyata itu bukanlah telur kodok melainkan biji selasih. Setelah direbus, air sempayang yang sudah jadi didinginkan beberapa saat sebelum dikemas dalam botol bekas sirup yang sudah disiapkan. Kemasan dalam botol ini dijual Rp. 6 – 8 ribu. ”Alhamdulillah sudah banyak pelanggan yang telah mempercayai kami dan memesan setiap harinya. Air sempayang selain menyembuhkan penyakit panas dalam juga dijadikan oleh konsumen untuk melepaskan dahaga dengan ditambahkan sedikit lemon dan es batu,” kata Bu Abdullah. Air sempayang ini hanya dapat bertahan selama 1 hari, karena saat dibuat di pagi hari, sorenya akan berubah warna menjadi orange, dan itu menurut Bu Abdullah, sudah tidak ada khasiatnya lagi. Setelah banyak bercerita, Bu Abdullah kemudian langsung bersiap-siap menuju pasar Purwodadi untuk menjual air sempayang kepada konsumen. Di pasar ini, Bu Abdullah sudah mempunyai los berukuran 4X4 meter. Setibanya di pasar, konsumen pun langsung berdatangan mengambil pesanan dan banyak juga konsumen yang membeli saat itu saja. Air sempayang hanya salah satu saja yang dijual Bu Abdullah. Dia juga menyediakan jamu untuk penyakit malaria, beras kencur, kunyit asam dan temulawak. Selain itu, juga lontong, mie goreng serta soto babat. Nah, bagi Anda yang mau mencoba, langsung saja mengunjungi Bu Abdullah di dalam Pasar Purwodadi Arga Makmur. Selamat mencoba. (**)