Ahli Konstruksi Aman Gempa dan Keluarga Besar Bundo Nur Ainas Abizar Bahas Arsitektur Rumah Gadang

 

 

Padang, bengkuluekspress.com—Rumah gadang salah satu konstruksi aman gempa yang diwariskan nenek moyang orang Minangkabau. Namun, seiring perkembangan zaman, rumah gadang tidak lagi dibangun. Justru yang muncul bangunan baru dari tembok di samping atau depan rumah gadang tersebut.

“Banyak masyarakat yang tidak memperbaiki rumah gadangnya. Mereka lebih suka membangun rumah tembok, karena status sosial juga dilihat dari bangunan tembok ini. Sementara tukang di kampung atau nagari itu tidak cukup ilmunya tentang bangunan tembok, sehingga ketika gempa terjadi, banyak bangunan tembok itu yang runtuh,” tutur ahli konstruksi aman gempa, Febrin Anas Ismail, dalam zoom meeting dengan keluarga besar Bundo Kanduang Nur Ainas Abizar atau yang dinamakan juga Bincang Adat Minangkabau Cucu Iyak, Sabtu malam (4/6). Ini merupakan kali kelima yang diprakarsai oleh Mesra Eza dari pihak keluarga besar.

Dosen Fakultas Teknik Unand ini menguraikan tentang konstruksi rumah gadang, mulai dari mencari kayunya di rimba, kemudian mendirikan bangunan tersebut, memasang batu alas tiangnya atau sandi, hingga perkuatan kolomnya melalui pasak. Menurutnya, pemakaian pasak ini membuat bangunan tersebut bergerak cukup fleksibel saat gempa.

“Kita harus kembali kepada local wisdom atau kearifan lokal. Membangun berdasarkan material yang digunakan. Dengan material getas seperti tembok berisiko terhadap getaran gempa, sementara memakai material liat seperti kayu dan bambu sebagaimana rumah gadang akan aman gempa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, orang Minangkabau dahulunya membangun pemukiman berdasarkan filosofi alam takambang jadi guru. Konsepnya, nan data ka parumahan, nan lereang pananam tabu, nan munggu ka pakuburan, nan bancah batanam padi, nan baraia untuk itiak. Ia mencontohkan pola pemukiman di perkampungan adat Padang Ranah dan Tanah Bato di Sijunjung, yang menjadi cagar budaya. Di perkampungan adat tersebut terdapat 74 unit rumah gadang yang masih berdiri sampai sekarang. Pola pemukimannya, ulas Febrin, mulai dari sungai, persawahan, perladangan, perumahan, jalan darat atau tanah, kemudian perladangan dan persawahan lagi, selanjutnya dibatasi dengan perbukitan atau hutan.

“Jadi sejak lama orang Minangkabau menjalani hidup dengan kearifan dan belajar dari alam. Sehingga mereka akrab dengan gempa, termasuk para tukang rumah gadang yang keahliannya diwariskan turun temurun,” katanya.

Febrin juga menjelaskan, perkuatan untuk bangunan tembok supaya aman gempa dengan menggunakan kawat ayam sebagai pengganti besi. Fungsi kawat ayam ini menurut Febrin sama dengan sasak bugih yang dipakai untuk rumah gadang. Penggunaan kawat ayam ini juga telah melalui pengujian meja getar di laboratorium bangunan di Jepang.

“Ini lebih mudah dikerjakan oleh tukang. Tinggal memasang kawat ayam itu di sudut pertemuan bata, luar dan dalam, kemudian diplaster. Dari pada disuruh mereka memasang besi, ilmu para tukang itu belum cukup. Apalagi biayanya juga murah dari besi,” pungkasnya.

Pertemuan para anggota keluarga besar ini guna mempelajari adat dan budaya Minangkabau terutama memperkenalkan kepada para cucu. Hadir dalam pertemuan itu, Bundo Nur Ainas Abizar, anak tertuanya, Mesra Eza yang juga kawan kuliah Febrin Anas di ITB, anak-anak Bundo lainnya, Fethriza, Della Fitrya, Enggis, Dt Angguang, Ismet, para ninik mamak kaum, anak dan kemenakan serta para cucu. Kemudian, kawan-kawan Febrin dan Eza yang sama-sama arsitek.

Dialog rasa kekerabatan ini berakhir hingga 23.30 Wib, dan para peserta antusias, dan akan lanjut Minggu berikutnya dengan tema yang lebih menarik. (gyn)

sumber artikel : https://inioke.com/ahli-konstruksi-aman-gempa-dan-keluarga-besar-bundo-nur-ainas-abizar-bahas-arsitektur-rumah-gadang/

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*