Agar Siswa Menyenangi Karya Sastra

Bogor (Dikdas): Tujuan utama penyelenggaraan Lokakarya Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) adalah memberi stimulus pada guru agar mencari dan menemukan metode pengajaran sastra yang menyenangkan. Sebab guru akan selalu mencari metode baru dalam pengajaran bahasa dan sastra di sekolah.

Demikian disampaikan sastrawan Jamal D. Rahman, salah satu penyaji dalam Lokakarya MMAS di Bogor, Jawa Barat, Senin sore 1 Oktober 2012. Beberapa metode pengajaran yang menyenangkan, ia mencontohkan, seperti menyanyikan pantun, musikalisasi puisi, menulis puisi secara menyenangkan dan mengoreksinya bersama-sama.

Metode itu dipilih lantaran musik biasanya menyenangkan. “Maka musik bisa jadi instrumen dalam metode mengajarkan karya sastra baik menulis maupun membaca,” katanya. “Kalau siswa sudah merasa senang belajar sastra dan belajar apapun, akan mudah mendekatkan sastra dengan siswa.”

Selama ini, menurut Jamal D. Rahman, karya sastra seakan menjadi momok, membebani, dan memberatkan siswa. Pelajaran sastra kebanyakan mengulas teori yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan siswa. Siswa akhirnya tidak merasa senang dengan karya sastra dan tidak tahu hal apa yang menyenangkan darinya. Materi yang disampaikan kepada siswa pun lebih banyak membebani pikiran dan aktivitasnya.

Namun, ketika siswa bisa bersenang-senang dengan karya sastra, hal-hal yang selama ini dirasa berat atau beban secara sadar akan mengalir begitu saja. “Sebenarnya semua orang siap dengan beban apapun sepanjang beban atau tugas-tugas itu adalah sesuatu yang menyenangkan,” ucapnya.

Hal lain yang hendak disampaikan dalam Lokakarya MMAS adalah bagaimana mendorong siswa agar banyak membaca. Dengan senang membaca, siswa dapat dengan mudah didorong membaca karya sastra dan karya lain. Bahan bacaan pun tak terbatas pada buku pelajaran, melainkan juga buku-buku lain yang menjadi minat mereka. Dengan menyenangi kegiatan membaca, siswa mudah didorong untuk menulis karya sastra.

“Tujuan utama dari Lokakarya MMAS ini bukan hanya untuk sastra itu sendiri,” tegas Jamal D. Rahman. “Kalau siswa didorong untuk menuliskan karya sastra bukan agar mereka menjadi sastrawan.”(kemendiknas)