9 Penutup Irigasi DDTS Dibongkar

BENGKULU, BE – Polemik alih fungsi lahan yang terjadi dikawasan Danau Dendam Tak Sudah (DDTS) sedikit menemukan titik terang, yakni sedikitnya 9 dari 17 flat atau penutup saluran irigasi persawahan akan mulai dibongkar hari ini. Pembongkaran bukan dilakukan oleh anggota Timsus yang telah dibentuk Pemkot, melainkan pemilik bangunan sendiri. Kesepakatan tersebut didapat setelah Timsus turun ke lapangan kemarin (28/3) guna melakukan pendekatan persuasif kepada pemilik bengunan. “Alhamdulillah setelah kami melakukan pendekatan dan memberikan pemahaman, 9 dari 17 pemilik bangunan di sekitar areal persawahan ini bersedia membongkar flat irigasi yang menutupi saluran air,” kata Asisten I Dra Rosmidar saat turun ke lokasi alih fungsi lahan, kemarin. Ia mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pendekatan kepada pemilik bangunan yang belum bersedia membongkar flat bangunan miliknya, sehingga pembongkaran paksa oleh tim dapat dihindari. Namun, jika telah dilakukan pendekatan dan ternyata pemilik bangunan tetap menolak, maka Rosmidar memastikan akan dibongkar oleh tim yang dibentuknya. Ia menjelaskan, setelah flat tersebut dibongkar, maka pemasangan flat selanjutnya akan mengikuti petunjuk dari dinas teknis, yakni Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Bidang Pengairan.Rosmidar menjelaskan, flat atau penutup saluran irigasi tersebut sangat mempengaruhi debit air yang mengalir dari Danau Dendam Tak Sudah ke sawah warga. Karena flat tersebut menyebabkan terjadi penimbunan pada irigasi, sehingga permukaan irigasi bertambah tinggi dan sulit dijangkau oleh air.”Jika warga yang pemilik bangunan telah memiliki itikad baik untuk melakukan pembongkaran sendiri, maka tim hanya mengawasi dan siap saja,” tukasnya. Sementara itu, salah seorang pemilik bangunan, Ferry mengatakan pihaknya telah mengadakan rapat dan telah disepakati membongkar sendiri.Hal tersebut dilakukan karena peduli dengan petani yang berada dibelakang bangunan yang sering mengalami kekeringan, dan pihaknya juga mengajak tenaga teknis yakni Dinas PU kota agar setelah dilakukan pembongkaran tidak ada lagi pemasangan flat yang salah. Ia menjelaskan, sebenarnya ada beberapa hal yang menyebabkan air tidak mengalir ke sawah petani, yakni bisa jadi sawah tersebit lebih tinggi dari permukaan air, dan bisa juga air tersebut tidak naik karena ada yang menghambat di dalam siringnya. Selain itu besar kemungkinan air tidak mengalir karena sumber hulunya memang sudah berkurang.”Namun kami tidak mempermasalahkan penyebab petani kekeringan tersebut, yang penting adalah kami siap mengikuti kemauan petani dan pemerintah kota,” katanya. Fery juga memastikan, setelah flat tersebut dibongkar maka tidak akan mempengaruhi debit air yang mengalir dalam siring tersebut, karena menurutnya flat tersebut tidak terlalu fatal menyebabkan kekeringan. “Coba kita lihat bersama setelah flat ini dibongkar apakah ada perubahan atau tidak,” ujarnya. Namun, lanjutnya, pihaknya akan menolak jika membongkar bangunan jika pembokaran flat tersebut tidak membuahkan hasil, karena mengingat biaya yang dikeluarkan untuk mendirikan bangunan di areal tersebut bukanlah kecil. (400)